Bencana Nasional, Derita Nasional, Taubat Nasional
Cari Berita

Advertisement

Bencana Nasional, Derita Nasional, Taubat Nasional

Rabu, 31 Oktober 2018

Dampak Tsunami di Palu (foto: Indianexpres)
Entah kenapa akhir-akhir ini mata Dan telinga kita dihadapkan pada kejadian-kejadian bencana yang tak kunjung berhenti, seolah Tanah, Air dan Udara dimana kita berdiri dan hidup sudah muak menyaksikan tingkah laku kita Di negeri ini.

Dimulai dengan bencana gempa bumi Di Lombok Nusa Tenggara Barat pada bulan Juli lalu dengan kekuatan 7.0 Skala Richter dan diiringi oleh guncangan-guncangan susulan yang sudah tentu banyak memakan korban jiwa, hancurnya rumah-rumah, bangunan-bangunan dan meninggalkan trauma mendalam bagi penduduk Lombok khususnya.

Atas kejadian itu, seluruh rakyat Indonesia turut berduka cita dengan memberikan bantuannya melalui donasi-donasi tulus, do'a-do'a Dan berbagai bentuk simpati lainnya, guna memulihkan keadaan atau setidaknya untuk meringankan beban Yang Di tanggung oleh para korban Dan keluarga.

Tidak berhenti disitu, belum pulih sempurna dengan apa Yang terjadi Di Lombok, peristiwa buruk seakan saling memanggil, masyarakat Indonesia Di kejutkan lagi oleh bencana yang menimpa pulau Sulawesi tepatnya bulan September 2018. Gempa Yang lebih besar mengguncang Donggala dan Palu Sulawesi tengah dengan kekuatan 7.7 skala Richter.

Tak lama berselang, setelah kepanikan melanda penduduk Donggala dan Palu, ternyata gempa itu disusul oleh naiknya gelombang laut (tsunami) Yang menyapu rata setiap jengkal bibir pantai sampai ketengah daratan sambil menggulung dan menyeret manusia-manusia, rumah-rumah hingga berbagai material lainnya.

Dengan silih berganti air laut terus naik menghempaskan apa saja yang dilaluinya. Bahkan di bagian lain, yang lebih mengherankan, terdapat Tanah berjalan yang menelan warga sekaligus dengan rumahnya, jadilah satu kampung tertimbun Tanah itu. Daerah-daerah tersebut pun seperti Kota Mati, dari pantai hingga daratan tinggi, luluh lantak kebanggaan manusia dibuatnya. Sekali lagi rakyat Indonesia berduka yang mendalam, ini derita nasional mengingat korban jiwa Dan kerugian Yang dirasakan akibat bencana ini.

Tepatnya sebulan setelah bencana Palu dan Donggala, tanggal 29 Oktober 2018, muncul lagi berita jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, yang semula dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang. Pesawat tersebut membawa 189 orang termasuk kru dan penumpang. Hingga saat ini pihak BASARNAS Masih mengevakuasi para korban, dan masih belum bisa dipastikan apakah ada yang selamat Dari kejadian ini. Sungguh Malang negeri ini, terus menerus ditimpa bencana. Kenapa kejadian-kejadian ini menimpa negeri berturut-turut Dalam waktu Yang berdekatan? Apakah ini semua teguran Dari Yang Maha Kuasa?

Sebagai Umat Muslim Yang beriman, Dari bencana Lombok, Palu, Dan jatuhnya pesawat Lion Air, tentu tidak bisa dipisahkan dengan dosa-dosa maksiat, Meluasnya tempat perzinahan, Minuman keras baik ditempat wisata maupun ditempat umum, LGBT, Persekusi Ulama, ketidak adilan Hukum, kedzaliman para penguasa Dan keangkuhan manusia Di atas muka bumi Indonesia, menjadi sebab hingga akhirnya mengundang bencana Yang tiada berkesudahan.

Isu Yang paling hangat baru-baru ini yaitu bendera Yang bertuliskan kalimat tauhid dibakar dengan sengaja sambil bernyanyi riang oleh oknum-oknum Yang tidak bertanggung jawab, aksi tersebut memancing kemarahan Umat Islam se nusantara bahkan yang berada diluar negeri karena dianggap sebagai sebuah penghinaan terhadap kalimat suci dan Sama saja menantang Allah SWT untuk berperang. Umat meminta agar pelaku Dan para pembelanya segera bertaubat Dan meminta maaf dengan melancarkan aksi Bela Kalimat Tauhid berjilid-jilid serentak diberbagai Kota besar Indonesia, dan juga melalui Pernyataan Sikap, tetapi hingga detik ini sikap pongah Dan kesombongan menahan mereka mengamini permintaan Umat.

Maka Sangatlah Mungkin rentetan bencana Yang menimpa bangsa ini disebabkan karena belum bertaubatnya Kita, Masih merasa amannya Kita, para pendosa, pelaku maksiat, dan penguasa dzalim, mengabaikan teguran-teguran nyata Dari Allah SWT. Sang Maha pengatur kehidupan kita. Sungguh amat disayangkan kalau Kita masih terus Dan tak henti-hentinya memelihara dosa, kedzaliman dan maksiat. Jangan sampai semakin jauhnya kita Dari Allah SWT, makin angkuhnya Kita, mendatangkan bencana-bencana lain yang lebih besar diluar perkiraan kita.

Oleh karena demikian, Mari segera memohon ampunan, bertaubat yang sungguh-sungguh, menghambakan diri kepada sang pencipta alam semesta agar dihentikan dari penderitaan, dan kesengsaraan duka nasional yang tengah dirasakan bangsa saat ini.

#YukBertaubat
#TaubatNasional

Penulis: Muammar Iksan