Ancaman Bagi Masyarakat Indonesia di Era Globalisasi dan Industrialisasi
Cari Berita

Advertisement

Ancaman Bagi Masyarakat Indonesia di Era Globalisasi dan Industrialisasi

Jumat, 05 Oktober 2018

Ilustrasi (foto: medcom)
Konsep dan standar, seperti: nilai baik dan buruk, pantas dan tidak pantas sudah berkembang sangat pesat, sejajar dengan semakin majunya proses industrialisasi dan urbanisasi yang ditopang dengan percepatan perkembangan teknologi informasi. Semua itu menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan dalam arus globalisasi.

Globalisasi hanyalah ujung yang tampak, permukaan gunung es dalam samudera yang menyembul, namun di bawahnya terdapat sesuatu yang jauh lebih rumit dan besar, lebih berpengaruh dalam berbagai sisi kehidupan masyarakat, tergabung dalam arus besar industrialisasi dan kapitalisasi yang menyerang negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia.

Kapitalisasi ini tentu berbahaya. Maka, jangan heran ketika banyak tenaga asing masuk kerja di Indonesia.

Indonesia sudah menapaki era industri 4.0, yang antara lain ditandai dengan serba digitalisasi dan otomasi. Namun, masih sedikit yang sadar akan konsekuensi logis dari dampak era industri ini, misalnya: ketika masyarakat ingin belanja, mereka tak perlu lagi ke toko, tinggal pesan online shop.

Semua masyarakat modern, terutama sekali di negara Barat, secara universal terkondisi menonjolkan prestasi individual. Berbeda dengan Indonesia yang masih mempertahankan sikap kekeluargaan, saling membantu, dan gotong royong. Setiap orang didorong untuk mendapatkan sukses materiil. Akan tetapi masyarakat tidak selalu bisa menyediakan sarana dan fasilitas yang sama bagi setiap orang, guna mencapai sukses materiil ini.

Dalam mengejar kesuksesan ini, orang-orang bergerak di tengah struktur masyarakat yang terpecah-pecah, yang kemudian berubah menjadi kelompok atomistis (mikro) yang sangat dinamis sifatnya.

Dalam situasi demikian, banyak orang yang mengalami depersonalisasi (masalah pribadi). Di sisi lain, kontrol sosial dan tradisi sosial kebudayaan banyak kehilangan pengaruhnya. Hal ini dibuktikan dengan rusak moral bangsa, pejabat korupsi, generasi remaja yang rusak, dan hilangnya peran orang tua sebagai pengontrol perilaku anak. Pada akhirnya, sisi kemanusianya sirna.

Sebaliknya, nafsu manusia modern untuk berkompetisi guna mencapai sukses materiil semakin menanjak, persaingan semakin sengit.

Kondisi demikian jelas bisa memberikan tekanan batin pada setiap anggota masyarakat. Banyak
orang mengalami kekecewaan dan frustasi, bahkan bunuh diri.

Tersebar luasnya pandangan materialistis tanpa spiritualitas, ukuran kesuksesan lebih di ukur pada kesuksesan materiil, serta menyampingkan moralitas dan agama.

Hal-hal demikian merupakan faktor lahirnya masalah-masalah sosial, kesenjangan sosial, pengangguran, kenakalan remaja, kenakalan sosial, broken home, dan penyimpangan sosial pun merebak di tengah masyarakat modern yang bersikap individualis. Terkikis sikap kekeluargaan, kebersamaan, dan saling membantu dalam masyarakat industri, yang ada hanya sikap persaingan mencari materi untuk kepuasaan dunia, tanpa memperhatikan sisi spritualitas dan moralitas masyarakatnya.

Penulis: Irdansyah