Tuan, Petani Bukan Kaleng-Kaleng
Cari Berita

Advertisement

Tuan, Petani Bukan Kaleng-Kaleng

Senin, 24 September 2018

Ilustrasi petani (foto: Selly Andriany Gantina)
Saudara, tahu kah anda bahwa Indonesia adalah negara agraris yang memiliki tingkat kesuburan sepanjang garis khatulistiwa, karna Indonesia merupakan salah satu Negara dengan hasil bumi dari sektor pertanian terbesar yang dimana mayoritas rakyatnya hidup turun temurun dengan title seorang petani, walaupun pada akhirnya banyak dari keturunan anak petani sukses merubah transisi kehidupan yang lebih mapan menjadi para pejabat, pegawai negri serta staf negara.

Salah satunya adalah kepala staf keperesidenan Teten Masduki, yang menggantikan bapak Luhut Pandjaitan yang kini menjabat sebagai menkopolhukam. Beliau di lantik oleh bapak presiden joko widodo pada, Rabu (2/92015) silam. Dan tahu kah anda bahwa beliau bapak Luhut Pandjaitan lahir dari keluarga petani, dibesarkan dengan perjuangan melawan panasnya terik matahari, karna di daerah bertani sangat susah untuk membangun bangunan dengan fasilitas yang sejuk. Mungkin singkatnya seperti itu biografi dari kepala staf Negara kita.

Sekedar ilustrasi untuk mengobarkan laju perjuangan kita yang notabene terlahir dari seorang petani termasuk diri pribadi yang
mengangkat tulisan singkat ini, serta untuk memulai dan menuntun jari jemari ini dalam menghasilkan karya literasi yang berguna bagi diri pribadi serta saudara sekalian sidang pembaca. Semoga tuhan yang maha segalanya Allah swt meridhoi setiap bait-bait yang
terkandung dalam isi naskah ini.

Saudara, mari kita flashback pada sejarah disaat bapak proklamator presiden pertama kita Sukarno Hatta yang di kenal dengan pidatonya dengan judul “ Antara Hidup dan Mati” serta meresmikan gedung fakultas pertanian IPB tahun 1953 silam. Dalam pidatonya tersebut beliau menekankan bahwa masalah besar dalam kehidupan sosialitas masyarakat adalah bagaimana memberi asupan makanan bagi para penduduk. Dan semua itu tidak akan terealisasi tanpa jasa dari kita para petani. Untuk anda para petani beserta keturunan petani, jangan anda merasa malu dan berkecil hati dengan title sebagai seorang petani.

Seharusnya anda bersyukur dan berbangga diri, karna peran anda sangat mulia bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara dan anda adalah pahlawan untuk kelangsungan hidup bagi seluruh
masyarkat di lapisan Bumi ini, entah itu seorang pejabat, konglomerat maupun para penguasa negeri ini semuanya bergantung pada kita para petani. Meskipun dengan kekayaannya yang melimpah, memilik triliunan uang di lengkapi dengan berbagai barang-barang berharga yang membantu kelangsungan aktifitas kehidupannya. Namun semua itu tidak berguna untuk mengenyangkan perut mereka. Melainkan mereka harus membeli bahan pokok makanan
yang dihasilkan dari keringat-keringat mulia kita para petani.

Dampak perubahan sosial budaya bagi kelangsungan hidup petani

Saudara, fenemona perubahan sosial budaya tercermin dalam tatanan kehidupan kita dewasa ini. Pasalnya saat ini kita mengalami kehidupan dengan masa transisi simultan,dari fase kehidupan budaya agraris tradisional di transfer pada kehidupan industri modern yang saat ini sedang kita anut.

Dalam kehidupan para petani, revolusi industri modern lahir dengan berbagai ragam kehidupan. Ada yang merasa diuntungkan dan tidak sedikit dari masyarakat merasa dirugikan. Adapun nilai positif yang tercermin dalam kelangsungan hidup petani di negeri industri modern saat ini, banyak masyarakat tani yang sudah memakai jasa alat-alat modern, salah satunya mesin traktor. Dengan adanya mesin tersebut pekerjaan para petani semakin singkat dan mudah.

Lahan yang luasnya hektar hanya sekejap di bajak dengan mesin traktor, berbeda ketika masa agraris tradisional yang masih memakai jasa kerbau untuk membajak sawah, yang memakan waktu berhari-hari dalam mengerjakan lahan. Dan dampaknya susah untuk para petani cepat dalam bercocok tanam, dan tidak tanggung-tanggung tenaga yang dihasilkan pun dengan menggunakan jasa kerbau tersebut amatlah besar. Jadi, dengan adanya mesin-mesin canggih yang dihasilkan di negri industri modern saat ini sangat membantu dan memiliki nilai positif bagi yang merasa di untungkan olehnya.

Namun terlepas dari semua itu, sebagai masyarakat sosial kitapun harus iba terhadap saudara-saudara kita yang merasa dirugikan oleh adanya mesin-mesin canggih ini. Misalnya para petani yang baru mengawali hidupnya dengan bercocok tanam, dengan biaya yang serba pas￾pasan, tidak cukup modal untuk mereka menyewa mesin traktor dalam membajak sawah mereka. Karena jasa kerbau tidak lagi menjadi nilai jual saat ini, mereka pun akan meresa malu jika masih bekerja dengan masa kehidupan agraris tradisonal yang sudah tak lekang oleh waktu. Apa lagi jika berada di tengah-tengah masyarakat yang sudah memakai jasa industri modern saat ini.

Sulit untuk di bayangkan saudara jika kita berada di kehidupan itu. Disisi lain lahirnya alat-alat canggih di kehidupan industri modern menyebabkan tingginya angka pengangguran khsususnya di daerah-daerah terpencil yang jauh dari batas kota. Pasalnya dengan adanya mesin-mesin canggih tersebut membuat mereka tidak lagi bisa disewa oleh para petani untuk bekerja dengan mereka dengan upah berupa uang ataupun hasil pertanian itu sendiri. Misalnya munculnya mesin pemotong padi yang saat ini banyak kita jumpai di daerah-daerah pertanian (kampung).

Adanya mesin tersebut tidak sedikit dari para pemuda maupun orang tua yang meras dirugikan, karna dengan adanya mesin tersebut
membuat mereka tidak bisa lagi membantu saudara-saudara mereka dengan mengharapkan upah setelah bekerja. Angka pengangguran pun melonjak tinggi, dan terkadang membuat masyarakat stress, dan hasilnya kriminalitas pun kian terjadi di akibatkan karna kurangnya biaya untuk menghidupi keluarga juga sanak saudara mereka.

Dekadensi moral anak bangsa
jika sudara telah dengan bijak salah satunya terdapat pada tingkat kemajuan zaman ini. Saat ini banyak dari kita yang acuh tak acuh terhadap kitab Al-qur’an maupun buku-buku sebagai penunjang media pembelajaran.

Kini kita lebih sibuk mengurusi masalah sosial media, mengupdate status dengan caption yang saling mencaci maki satu sama lain dan sebagainya. Pesan pribadi manfaatkan media itu untuk hal yang postif, bukan malah menunjukan eksistensi jelek kita pada khlayak umum.

Dalam hal ini saya pribadi pun berpesan kepada para penguasa rezim ini, agar tuan-tuan dapat menganalisir angka pengangguran di negri kita yang kaya dengan sejuta potensi alamnya, harapan kami semoga negri ini aman damai dan sentosa. Tidak ada lagi pengganguran, tidak ada lagi kriminalitas serta kejanggalan-kejanggalan yang dapat menghalangi laju aktifitas hidup kita di Bumi pertiwi ini.

Dedikasi real semoga senantiasa tercipta dalam sanubari tuan-tuan yang di mandatkan untuk menuntun kehidupan berbangsa dan bernegara yang produktif kedepannya.

Wallahu alam Bishawab.
Penulis : Faisal Alfarabi