Surga Buat Pelacur
Cari Berita

Advertisement

Surga Buat Pelacur

Jumat, 28 September 2018

Ilustrasi (foto: Dreamstime)

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (An Nahl 125).

Kyai Ali Yahya Lasem di kenal tampan. Bila kopyah dan sorbannya dilepas, ia mirip bule. Di suatu malam beliau melakukan perjalanan mengaji ke kota Jepara diantar santrinya sebagai sopir. Pada lampu merah di sebuah pertigaan beliau berhenti, sesaat seorang pelacur perempuan paruh baya berdandan menor dengan pakaian ala kadarnya dan mendekatinya.

“Selamat malam om, apakah boleh saya menemani hingga pagi!!! Apakah om butuh saya malam ini?”, Katanya terus membombardir.

“Yaa... saya butuh teman sampai pagi, malam ini”, Kyai Ali Yahya pelan. Pelacur itu langsung memilih naik masuk lewat pintu tengah.

Mobil kencang berjalan, lokasi pengajian hampir dekat, Kyai Ali Yahya Lasem kembali mengenakan surban dan kopyahnya. Pelacur itu kaget bukan main dan sontak bertanya gemetar.

“Apakah om seorang kyai? maafkan saya. Baik saya akan lekas turun di sini, sekali lagi saya minta maaf”. Pelacur terus menyesali telah naik kendaraan yang salah.

“Aku butuh teman sampai pagi”, ujar Kyai Lasem pendek. Pelacur itu makin gemetar dan takut, keringat dingin menggigil di sekujur tubuhnya berebut tempat dengan bau bedak dan gincu.

“Tapi saya malu ikut pengajian, saya tidak pakai kerudung apalagi gamis”, pelacur terus memohon agar dibebaskan dari suasana mencekam itu.

“Kenapa malu”, jadi pelacur nggak malu kok pengajian malu, sergah Kyai Lasem.
Mobil berhenti, ratusan orang menunggu antri bersalaman. Kyai Ali Yahya turun dari mobil dengan cepat.

“Ibu-ibu saya pinjam kerudung dan gamis, Bu Nyai lupa tidak pakai karena tergesa tadi”.

Pelacur itu turun dari mobil mengenakan gamis lengkap dengan kerudung. Ibu-Ibu antri bersalaman dan mencium tangan pelacur yang mendadak jadi Bu Nyai. Pemandangan yang indah mempesona. Pelacur semakin kebingungan telah berada di tempat yang salah. Duduk bersebelahan dengan para istri kyai, Dijamu dan dimuliakan di tempat yang sepadan, malam itu Ia kembali mendengar lantunan Al-Quran, shalawat dan tausiyah yang sudah lama tak Ia dengar berganti dengan musik jazz, rock dan bir.

Saat mau kembali pulang ratusan Ibu duduk ta'dzim berkeliling menunggu doa barakah dari Bu Nyai dadakan itu. Keringat dingin mengucur, tubuhnya menggigil satu-satunya doa yang dia ingat adalah Al-Fatihah yang dibaca sangat lirih karena ada beberapa kalimat yang sudah tak jelas karena lapuk dimakan lupa. Tapi hadirin tidak beringsut, mereka yakin doa Bu Nyai pasti mustajabah.

Saat menuju mobil hendak pulang para Ibu berderet berebut mencium tangan Bu Nyai. Lantunan shalawat badar syahdu mengiringi. Perasaan getir menyelimuti hati Bu Nyai dadakan, tak terasa air matanya menetes, lentik matanya mulai sembab. Wajah ayunya memerah. Isak tangis yang seakan tumpah. Setelah suasana agak tenang, Kiyai Ali menasihati.

“Apakah sampean tidak melihat dan berpikir tentang bagaimana orang-orang tadi memperlakukanmu, menghormatimu, mengerumunimu, mengantarkanmu, dan rela juga mereka antri hanya untuk dapat mencium tanganmu satu demi satu, bahkan minta berkah doa darimu, padahal tahu sendiri kamu siapa?”.

Kembali sang wanita menangis, merasa hina, miris, dan sedih mengingat perbuatan dosa yang selama ini dilakukannya. Tapi Allah menutup aibnya, Allah sangat menyayanginya.

“Hari ini, apakah Sampean dapat nasihat yang mungkin nasihat berharga selama hidupmu, maka segeralah taubat dan mohon ampun sama Allah. Jangan sampai nyawa merenggut sebelum taubat.”, tangisnya kian deras. Kiyai Ali membiarkannya.

“Terimakasih Kiyai atas nasihatnya, dan berkah dari kejadian ini. Mulai hari ini saya bertaubat dan berhenti dari pekerjaan bejat ini. Sekali lagi terimakasih Kiyai”.

Menyeksamai kisah ini berarti kita belajar bijaksana. Para ulama, pendahulu, dan guru kita para mubaligh berdakwah dengan baik dan bijak, mengajak tanpa menginjak, menasihati tanpa menyakiti, dan menunjukkan kebenaran tanpa merendahkan derajat kemanusiaan.

Pengalaman dakwah yang eksotik dituturkan oleh karibku: Kyai Ali Yahya Lasem. salam ta'dzim

Repost :@nurbaniyusuf-talangredjo
Komunitas Padhang Makhsyar
Editor: Nur Annisa