Puisi Sedih Gie Untuk Sahabat yang Tewas Akibat Kecelakaan Maut di Kota Bima
Cari Berita

Advertisement

Puisi Sedih Gie Untuk Sahabat yang Tewas Akibat Kecelakaan Maut di Kota Bima

Selasa, 11 September 2018

Ilustrasi
Indikatorbima.com - Puisi sedih karya Ginanjar Karta Sasmita untuk sahabatnya Ahyar sungguh mengetuk hati. Puisi ini ia tulis setelah beberapa saat sahabatnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Ahyar meninggal setelah sempat dilarikan ke RSUD Bima pada hari Senin tanggal 10 September 2018 kemarin. Ahyar terlibat kecelakaan maut di depan SDN 39 Kota Bima, Jalan Belimbing, Kel. Rabadompu Barat, Kota Bima.

Baca : Empat Korban Kecelakaan Maut di Kota Bima, Satu Orang Tewas

Terlihat dalam puisi ini, tentang persaudaraan dan kedekatan Ginanjar dengan sahabatnya Ahyar. Bahkan, sehari sebelum peristiwa memilukan itu terjadi, Gie dan Ahyar sempat duduk ngopi bareng sembari membicarakan tentang rencana bersama membangun desa. Namun, takdir berkata lain. Sepertinya Gie harus berjuang melaksanakan cita-cita bersama itu tanpa kehadiran Ahyar disampingnya.

Berikut puisi Gie untuk Ahyar :

Aku Mengutuk Kematian

Kurasakan betul bagaimana hitam itu
Ia mengalir bagai darah yang membara
Tak ada yang mampu di lihat
Bahkan tatapan tak mampu melihat di depan layar

Sempat di sapa oleh suara
Namun hirau entah kemana
Ia mendekam dalam alam yang sangat jauh
Menyerupai buta tuli tanpa indra

Aku mengutuk kematian
Sebab kehilangan adalah bencana
Pemberi luka derai air mata
Air mata dia
Air mata ku
Air mata para kolega

Aku benci perpisahan
Sebab menidurinya sangat menjijikan
Hampa tanpa tepi
Sakit tanpa luka

Hari kemarin kita minum kopi bersama bukan?
Sekarang kenapa kau lekas pergi tanpa sepatah kata?
Bukankah aku di depan mu tadi?
Di dekat pembaringan aku berdiri
Apa kau tak mendengar?
Aku memanggilmu
Kau tuli?
Kau buta?
Kau mati?

Tak percaya rasanya sobat
Kita baru saja berpikir bahwa kita akan menjadi orang yang akan merubah wajah desa kita
Kita berbicara sambil asap ngebul menjulang di udara
Kini kau telah terlelap abadi
Terkulai dengan wajah pucat pasi

Kau ingat bukan?
Tapi kau bisu dalam diammu
Kau tuli dalam lelapmu

Selamat jalan brother

Reporter : Furkan As