Pemerintah Targetkan Ekspor 15 Ribu Ton, Harga Bawang di Bima Malah Anjlok
Cari Berita

Advertisement

Pemerintah Targetkan Ekspor 15 Ribu Ton, Harga Bawang di Bima Malah Anjlok

Selasa, 18 September 2018

Foto : twitter @kementan
Indikatorbima.com - Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pertanian RI menargetkan ekspor bawang merah tahun 2018 sebanyak 15 ribu ton. Sementara itu, petani bawang merah di kabupaten Bima, Propinsi NTB sedang merugi dan meratapi nasib karena harga bawang merah anjlok, Selasa (18/09/18).

Taget ekspor bawang merah sebanyak 15 ribu ton itu disampaikan melalui akun twitter resmi Kementerian Pertanian Republik Indonesia @Kementan.

"Indonesia targetkan ekspor bawang merah tahun 2018 sebanyak 15.000 ton," tweet kementerian RI @kementan, pada tanggal 15 September 2018 lalu.

Selain itu, Kementerian Pertanian RI juga mengumumkan trend ekspor sektor pertanian meningkat 24% pertahun sejak 2013 sampai dengan 2017.

"Trend ekspor sektor pertanian 2013 s.d 2017 meningkat pertahun," tweetnya pata tanggal 16 September 2018 kemarin.

Sementara ditengah gencarnya trend ekspor pertanian dan target ekspor 15 ribu ton bawang merah oleh pemerintah. Petani bawang merah di kabupaten Bima, propinsi NTB sedang gencar-gencarnya melakukan aksi demonstrasi agar pemerintah tidak tinggal diam melihat anjloknya harga bawang merah.

Pada hari Senin 17 September tahun 2018 kemarin ratusan warga kecamatan Lambu, kabupaten Bima yang tergabung dalam Aliansi Peduli Rakyat Tani menggelar aksi demonstrasi di depan kantor DPRD kabupaten Bima.

Dalam orasinya, Koordinator aksi, Yosep mengungkapkan bahwa harga bawang merah saat ini sangat memprihatinkan. Harga tersebut sangat jauh dari harga yang ditetapkan oleh kementerian dalam negeri.

"Harga bawang merah sekarang hanya 3 ribu per Kg, sementara harga yang ditetapkan oleh kementerian dalam negeri sebesar 15 ribu pwr Kg, jauh berbeda," ungkapnya.

Petani bawang merah di kabupaten Bima mengalami kerugian yang cukup besar, mengingat bertani bawang merah membutuhkan biaya yang cukup besar. Sementara pemerintah sedang gencar-gencarnya mengespor hasil pertanian ke luar negeri.

Reporter : Furkan As