Merah Tak Bersuar, Potret Kemiskinan Diantara Elit dan Pemimpin Dzalim
Cari Berita

Advertisement

Merah Tak Bersuar, Potret Kemiskinan Diantara Elit dan Pemimpin Dzalim

Kamis, 20 September 2018

Ilustrasi kemiskinan (foto : Kumparan)
Mereka hadir karena mereka, suatu gambaran dari potret yang terjadi pada mereka gerombolan anak-anak pemimpi akan kilauan cahaya surga yang tak nampak, teriring tetesan dan kucuran keringat para budak akan bangsa yang merdeka.

Naluri pengharapan kini menjadi realitas atas apa yang di sadari pada sejatinya gambaran kehidupan, namun jika hanya menanti tentu akan berevolusi menjadi generasi penjilat berlaga mapan nan elegan dan akan selalu merasa tercukupi dengan seperti itu.

Sungguh ironi nampaknya jika itu menjadi pembiaraan akan generasi perubahan, jawaban yang di nanti kini hanyalah celoteh dari bibir manis dari suara yang di wakili oleh pewakil, hangat dan tegang media pemberitaan memberitakan urat saraf para pewakil yang berceloteh akan kepedulian boneka yang terjolimi dibalik jubah hitam para tiran yang agung.

Negeriku negeri pendongeng oleh pemimpin yang konon bijak layaknya seorang kancil yang pandai mengentaskan permasalahan dengan sejumlah teori ekonomi serta langkah politik maupun survey lingkungan sosial, namun sesusngguhnya sangat licik seperti seekor kera pada dongeng seh bayi, merangkul dengan dalih penyelamatan hak lalu membunuh menyambar seperti kilatan petir pada musim penghujan, sunyi serta dingin terasa.

Inilah teori baru yang akan menjadi babak baru dalam kontes perekonomian global dimana kebenaran kemiskinan menjadi persentase pada panggung akuntan-akuntan yang jorok sehingga kemiskinan menjadi barang dagangan yang layak untuk diperdulikan namun syah di bunuh harapannya.

Sungguh strategi pembunuhan yang teroganisir dan legal untuk di konsumsi, seakan keberadaan mereka seperti dewa yang hadir di kemalangan nasib dengan nalar pembenaran melawan tirani namun berhati dua mengambil kesempatan pada kemiskinan lalu memerdekakan diri pada gang setapak menuju kesejahteraan dan tak peduli lagi akan nasib para boneka yang mengharapakan surga.

Keji itulah gambaran yang tepat untuk disandingkan pada mereka tapi apalah daya seorang budak bahkan ribuan budak peradaban yang menyuarakan kebenaran akan tetapi mentah untuk di dengarkan dan hanya mendapat cekalan,bagi kawan-kawan yang menyadari ini tentu adalah pembantaian “Bangsa atas bangsa, manusia atas manusia”, tentu benar persisnya seperti apa yang di suarakan oleh bung karno sang proklamator bangsa ini "Tuhan menciptakan bangsa untuk maju melawan kebohongan elit atas, hanya bangsanya sendiri yang mampu merubah nasib negerinya sendiri." Namun hal ini akan terus berlangsung abadi mengingat lunturnya roh kemerdekaan para elit, dan tak heran para budak peradaban harus kembali turun kejalan untuk menyuarakan suara yang tak bersuar dan selalu mereka melakukan gerakan namun tetap di anggap anggap sebgai pemberontak dan penghalang kebijakan.

Yaaa...kini negeri pendongeng akan terus melakukan pembodohan namun tertata rapi dan nampak abadi hingga lambat laun robohnya tiang kepercayaan rakyat atas penguasa, yang menjadi sketsa jelas satu dari banyaknya testimoni yang terbungkus oleh tirani yang tak berkawan.

Cukup jelas rangkaian struktur yang tertata cukup lugas sikap yang di arahkan namun pembunuhan karakter itu takkan pernah hilang, watak ideologi lama akan selalu nampak pada setiap keputusan yang di tetapkan hingga menumbuhkan tunas baru pada akar yang sempat terpapas hingga kembali tumbuh sempurna dan menyelaraskan diri sesuai dengan arus yang berlangsung, yang selalu membuat para borjuis tak pernah merasa berdosa dan selalu rakus untuk terus menjadi penjahat pada peradaban manusia dengan menhalakan sgala cara untuk merampas hak seh miskin yang tertbungkam. Hingga sinar kehidupan yang bermahkota agung pada semestinya harus berakhir seperti mimpi dan pudar ketika kedipan mata tebuka.

Kini para pemeran dalam dunia dongeng merasa cukup bangga akan kesuksesan dalam pentas penindasan atas nama ekonomi kerakyatan namun kontra kesetaraan dan pro setia pada pasar dunia.

Kini kebijakan hanyalah gaung perampasan dimana maling meneriaki maling, saling munuding pembohong dan menarik simpatik pada publik seakan kebenaran nalar mereka dalam kebohongan tidak menjadi satu hal yang hakiki yang harus di amini dan di ikuti dan menjadi kampanye untuk mengadu domba pikiran rakyat yang pro dan kontra pada permainan mereka. Bergelinding seperti bola dan menunggu umpan dari pelakon pasar yang bersiap mencetak angka untuk kemenangan.

Potret hitam kematian dengan tinta darah mengisi lembaran untuk catatan sejarah dunia tentang nasib simiskin dan menjadi garis haluan yang sangat dramatis untuk di kenang dan tak sedikit nyawa jadi korban untuk sebuah gerakan atas perjuangan suci yang di yakini.

Begitulah potret hidup si miskin jika di presentasikan mereka hanya berada pada seperempat peradaban jika di katakan mereka hidup hanya untuk menunggu mati tak boleh bertanya dan tak boleh tau apa yang sebenarnya yang terjadi.

Jika negara memerasnya dengan pajak,pengambilalihan lahan tempat tinggal bahkan di usirnya mereka dari sumber penghidupannya dengan lapang dada mereka harus menerimanya selagi kekuatan masih bertamengkan moncong senjata para penggawa yang berseragam angkuh dan tak berhati,karena itulah hidup tegasnya.

Kini kita harus tertuju pada satu titik lemah dari pada pemimpin negeri ini,yaitu berpendapat dengan realita akan perkembangan angka kemiskinan dan buta huruf pada generasi?

Kawan-kawanku yang masih terus berjuag di medan keadilan selalu berbicara dan meneriaki gaungan ini! lebih dari semestinya langkah politik di tempuh namun apalah daya gema yang tak beriring hanya lah hembusan yang berlalu di telinga para elit.

Masih adakah harapan menghirup aroma firdaus dunia? Atau mungkin di akhirat kelak! Tentu naluri kita tak sependapat dengan hal ini. Tapi inilah fakta dari tragedi yang terjadi pada bangsa ini sungguh hirarki kehidupan yang tak sepandan jika di bandingkan dengan seluruh kekayaan negeri ini, memunafikkan keadaan sosial untuk pertaruhan kemegahan hidup kelompok sebagai kejahatan moral yang akan terpampang menawan pada lembaran dan media sosial hingga menjadi trending topik seakan semua telah tertata dengan keberhsilan pengentasan kemiskinan dengan persentase hasil survey pada satu wilayah terbesar.

Tak heran jika si miskin di daerah ini harus saling beradu otot untuk mengais sisa dari pada puing-puing elit layaknya seekor ayam yang berebut makanan, jika di bahasakan lebih keji mereka adalah binatang yang rakus akan kemapanan.

Jika elit sadar akan keberadaanya tentulah dia harus menengok ke jalanan dimana sejatinya kehidupan tertera dengan terbuka, seorang anak miskin harus terabaikan pendidikannya dikarenakan ketidak mampuan orang tuannya membeli baju dan tas baru hingga berakhir menjadi seorang pengemis, ibu lansia masih harus gigih mengumpulkan kardus-kardus berkas untuk menyambung hidup dan biaya untuk menebus obat, para pemuda pengangguran yang selalu putus asa akan masa depannya hingga tak jarang harus bergeliat dengan dunia hitam dan terjerumus dalam perederan narkotika yang pada akhirnya menghancurkan masa depannya, bagi mereka segala sesuatu itu di anggap pantas karna pilhan yang ada sekalipun tetap tak ada.

Kawanku kisah ini lahir dari suatu kegelisahan hati seorang kawan yang terlahir dari rahim si miskin yang begitu tersentuh akan kondisi kekinian, berangkat dari keyakinan yang buta menjadikan dia seorang pejuang sejati dari tanah rantauan, hingga iya banyak belajar tentang praktek penindasan terjadi yang selalu membakar emosinya dan terus konsisten pada perjuangannya...salam juang!!

HASTA LA VICTORIA SIEMPRE

Penulis : Rahmat Hidayat. S.Sos