Masyarakat Pluralis dan Konflik Beragama di Indonesia
Cari Berita

Advertisement

Masyarakat Pluralis dan Konflik Beragama di Indonesia

Kamis, 06 September 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Masyarakat (sistem sosial) adalah kompleks perilaku manusia yang terpola, yang menunjukan suatu tingkat keteraturan dalam waktu tertentu.

Masyarakat Indonesia merupakan bangsa yang pruralis artinya masyarakat yang beragam, berbeda-beda baik dalam agama, suku dan budaya. Adanya perbedaan itu bisa mengakibatkan konflik sosial antar umat beragama. Sedangkan perananan agama menjadi penting dalam kehidupan masyarakat.

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa agama yang dianut masyarakat seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hucu. Agama adalah pegangan hidup terhadap individu masing-masing. Agama melalui pemujaan dan upacara ibadah memberikan dasar identitas yang lebih kuat terhadap agamanya masing-masing. Menghormati berarti mengakui secara positif dalam agama dan kepercayaan orang lain, juga mampu belajar satu sama lain.

Para ahli teori fungsional struktural telah menekankan sumbangan yang diberikan oleh agama demi kesinambungan masyarakat, khususnya agama membawa keteraturan,dan rasa saling Menhormati berarti mengakui secara positif dalam agama dan kepercayaan orang lain, juga mampu belajar satu sama lain. Sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan memungkinkan penganut agama-agama yang berbeda menimbulkan sikap pluralis.

Konflik sosial bernuansa agama
Isu-isu keagamaan manjadi salah satu masalah penyebab perang, keyakinan agama sering menimbulkan sikap tidak toleran, loyalitaitas agama hanya menyatukan beberapa orang tertentu dan memisahkan yang lainnya. Sudah banyak kasus konflik sosial dan terorisme yang terjadi di Indonesia beberapa tahun terakhir menjadi sasaranya Rumah ibadah dan memakna korban jiwa tak berdosa yang mayoritas pelakunya beralasan membela agama yang dianutnya dan melahirkan paham Radikalisme Agama.

Perbedaan Suku dan Ras Pemeluk Agama merupakan salah satu factor pemicu terjadinya konflik social bernuansa agama, Indonesia sendiri terdiri dari beragam suku dan ras yang menganut agama berbeda yang saling mengklaim suku bahwa sukunya paling menonjol di bandingkan suku lain, secara tidak langsung perbedaan ras membawa keyakinan beragama yang dianut suku tersebut bisa memicu konflik sosial.

Bahwa fackor ras itu sendiri terlepas dari agama sudah membuktikan bertambahnya permusuhan. Sikap Kesombongan itu bertumbuh mencapai klimaksnya seperti dalam pendirian bangsa Jerman bahwa bangsa itu merupakan manusia super. Akhirnya terjadi pemburuhan kejam terhadap jutaan manusia dari suku bangsa Yahudi. Maka penulis berpendirian bahwa perbedaan agama bersama-sama dengan perbedaan ras memperlebar jurang permusuhan yang sudah ada antara bangsa-bangsa yang bersangkutan.

Selain perbedaan suku dan ras faktor yang bisa menimbulkan jurang konflik social bernuasan agama, Perbedaan Tingkat Kebudayaan merupakan Kenyataan membuktikan bahwa tingkat kemajuan budaya berbagai bangsa di dunia ini tidak sama bahkan berbagai di daerah-daerah Indonesia sehingga daerah-daerah minoritas rentan terjadinya konflik sosial.

Intinya adalah kebudayaan patokan nilai-nilai etika dan moral, baik yang tergolong sebegai ideal atau seharusnya maupun yang operasional dan actual di dalam kehidupan sehari-hari. Kebudayaan merupakan sebuah usaha manusia untuk membangun dunianya dengan adanya beranekaragaman budaya inilah yang memicu untuk terjadinya konflik.

Salah satu jalan yang dapat mengurangi resiko konflik antar agama, perlunya diciptakan tradisi saling menghormati antara agama-agama yang ada.

Sikap saling menghormati dan menghargai memungkinkan penagnut agama yang berbeda-beda bejuang demi pembangunan yang sesuai martabat yang diterima manusia dari Tuhan Yang Maha Esa. Agama bukan menjadi penghalang untuk menciptakan persaudaraan yang rukun pada perbedaan-perbedaan.

Pelunya penyatuan bagian-bagian yang berbeda dari suatu masyarakat menjadi suatu keseluruhan yang lebih utuh atau memadukan masyarakat yang banyak jumlahnya menjadi satu bangsa.

Penulis : Irdansyah