Makhluk Bernama Wanita, Adalah Rahim Peradaban
Cari Berita

Advertisement

Makhluk Bernama Wanita, Adalah Rahim Peradaban

Rabu, 19 September 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Sebelum penulis menguraikan wanita adalah rahim peradaban, penulis ingin menyampaikan Salam Sayang kepada seluruh wanita yang ada di dunia ini. Di mana pun kita berada, semoga kebaikan-kebaikan senantiasa menyertai. Aamiin.

Berbicara tentang wanita, terlalu sempit, jika hanya dikaitkan dengan masalah kasur, dapur, dan sumur (3-ur). Memang, hal-hal demikian sudah dipatenkan menjadi kodrat wanita, di mana sejak zaman Nabi Adam ‘alayhi sallam, wanita berperan sebagai penerima satu sel sperma yang berhasil menyatu dengan sel telur untuk mencapai proses pembuahan embrio manusia.

Setelah makhluk bernama wanita sudah menginjak usia anak-anak atau remaja, kami didoktrin, bahwa ketika dewasa nanti, kami harus bisa memasak. Keterampilan-keterampilan demikian erat kaitannya dengan kepandaian dalam hal kebersihan. Jadi, sejak itulah, makhluk bernama wanita terbiasa dilabeli dengan unsur 3-ur (kasur, dapur, dan sumur).

Wanita-wanita cantik, mari kita sama-sama bercermin sejenak. Lihatlah di cermin itu, bahwa sesungguhnya kita berpotensi menjadi pribadi-pribadi hebat, cerdas, berwawasan luas, dan berkualitas. Karena memang kita mampu untuk memiliki hal-hal demikian, sebab makhluk bernama wanita, adalah rahim peradaban.

Lantas, sudahkah kita tidak merasa galau ketika tidak memiliki pacar? Sudahkah kita ikhlas ketika ditinggal menikah? Sudahkah kita tidak merasa nestapa ketika suami menikah lagi? Sudahkah kita tidak merasa sengsara ketika melihat kehidupan orang lain lebih bagus dari kita? Sudahkah kita tidak menggunakan mulut kita untuk bergosip? Sudahkah kita menggunakan waktu kita untuk belajar dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya? Sudahkah kita merenungi semua hal itu? Sekali lagi, sudahkah kita?

Setelah direnungi, cobalah ditarik benang yang kusut. Jika selama ini terbiasa melakukan hal positif, maka pertahankanlah. Jika lebih banyak hal buruk yang dimiliki, maka dengan sangat hormat penulis memohon kepada para wanita untuk meninggalkannya.

Memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan.
Para pejuang wanita, seperti: Raden Ajeng Kartini, Tjoet Nyak Dhien, Tjoet Meutia, Dewi sartika, Laksamana Malahayati, Maria Walanda Maramis, dan lain lain, adalah sederet nama wanita-wanita tangguh, hebat, berkualitas, cerdas, dan inspiratif, yang dimiliki Indonesia. Di Islam pun, kita mengenal Khadijah, ‘Aisyah, Fatimah, Sarah, Siti Hajar, Maryam, Asiyah, dan lain-lain.

Mereka tokoh-tokoh luar biasa, shalihah, tegas, tangguh, bijaksana, cerdas, yang mampu mengubah cara pandang dunia terhadap Islam. Maka, kita berhak belajar dari mereka. Meneladani kehebatan-kehebatan mereka.

Wanita-wanita cantik, belajarlah menjadi manusia seutuhnya, capailah aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Caranya? Transformasikan diri kita untuk tumbuh menjadi wanita cerdas, berwawasan luas, berkualitas, lembut, bijaksana, berpikir objektif, realistis, rasional, dan mau berkawan dengan golongan mana pun untuk berdialog, berdiskusi, dan memiliki pemikiran yang terbuka.

Orang bijak pernah berkata, “Jika kamu mendidik seorang pria, sesungguhnya kamu hanya mendidik satu dari jutaan penduduk bumi. Namun, jika kamu mendidik seorang wanita, maka sesungguhnya kamu sedang mendidik sebuah bangsa.”
Wanita-wanita cantik, penulis punya kado untuk kalian. Semoga dapat dipahami, ya:
Wanita berpendidikan bukan untuk menyaingi kaum pria.
Wanita berpendidikan bukan untuk menyaingi sesama kaum wanitanya.
Wanita berpendidikan bukan untuk bersaing dengan dunia.
Wanita berpendidikan, bukan untuk apa-apa, melainkan untuk mengasah kecerdasan yang Allah karuniakan, hingga bisa memberikan konstribusi yang positif untuk Agama, Nusa, dan Bangsa.
Sebab wanita adalah sekolah pertama dan utama untuk the Next Generations.

Jadi, wanita-wanita hebat di mana pun kalian berada, jika Allah memberikan kita amanah untuk melahirkan anak berjenis kelamin perempuan atau pun laki-laki, kita dapat menjadi pendidik handal bagi anak-anak kita, mendidik mereka dengan hal-hal positif, hal-hal yang bermanfaat tidak hanya untuk diri mereka, namun dapat dirasakan oleh orang lain juga.

Semoga anak-anak yang lahir dari rahim kita menjadi anak-anak tangguh, tidak mudah tergerus kehidupan hedonisme, mampu menjadi peibadi bijaksana. Aamiin.
Sekali lagi, penulis menyampaikan Salam Sayang untuk semua wanita yang ada di muka bumi ini. Mari, kita sama-sama belajar, ya.

Penulis : Nur Samaratul Qalbi