Lombok Terancam Kristenisasi dan Pemurtadan
Cari Berita

Advertisement

Lombok Terancam Kristenisasi dan Pemurtadan

Rabu, 19 September 2018

Kegiatan yang diduga sebagai proses kristenisasi (sumber : Youtube Al-Muwatta).
Indikatorbima.com - Setelah musibah gempa bumi yang berkekuatan 7,0 SR menimpa lombok bulan juli lalu, yang menyebabkan banyak kerugian fisik maupun materi, masyarakat lombok mengharapkan agar pemerintah cepat dan tanggap dalam melakukan penanggulangan dan memberikan serta menyalurkan bantuan untuk mereka baik berupa bantuan fisik maupun non fisik.

Belum berhenti duka yang dialami masyarakat lombok karena gempa yang terjadi, kepiluan yang dirasakan semakin bertambah ketika ditemukannya kegiatan menyimpang yang merusak akidah ditengah tengah pengungsian korban gempa.

Ditemukannya pemurtadan terselubung yang dilakukan oleh misionaris dari relawan tertentu dalam aksi kemanusiaan terhadap korban gempa.

Korban yang ada disekitar pengungsian di ajarkan puji pujian kristen dengan dalih trauma healing, tidak hanya itu mereka juga memberikan mainan untuk anak anak yang didalamnya terdapat simbol simbol kepercayaan umat kristiani.

Selain itu juga ditemukan bukti bukti terjadinya upaya pemurtadan, masyarakat seperti ibu ibu, anak anak, dan bapak bapak dikumpulkan dengan dalih pemberian bantuan. Anak anak yang berkumpul diberikan bingkisan kotak mainan yang mencurigakan, ternyata isi mainan tersebut adalah hadiah khas natal, kartu kartu sekilas seperti mainan anak anak tetapi berisi ayat ayat injil.dan mainan mainan lainnya yang merusak akidah.

Sangat miris derita yang dialami korban gempa ternyata dimanfattkan oleh kelompok kelompok tertentu untuk memuluskan misi mereka dalam merusak akidah umat islam. Jelas hal ini telah melanggar aturan yang berlaku, hal tersebut mengacu pada keputusan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri no 1 tahun 1979 tentang tata cara pelaksanaan penyiaran agama dan bantuan luar negri kepada lembaga keagamaan di indonesia seperti dikutip republika online ,selasa (11/11).

Dalam bab III tentang tata cara pelaksanaan penyiaran agama pasal 4 berisi pelaksanaan penyiaran agama tidak dibenarkan untuk ditujukan terhadap orang atau kelompok orang yang telah memeluk/menganut agama lain.

Tentu hal seperti ini tidak akan terjadi apabila pemerintah menjalankan tugas utamanya dalam menangani bencana dalam wilayah kekuasaannya. Pemerintah seharusnya mengawasi serta menyortir bantuan bantuan yang masuk dan melihat dengan teliti tujuan utama dari kelompok kelompok yang memberi bantuan.

Sayangnya dikarenakan sistem pemerintahan yang bobrok, sehingga tidak mampu memberikan pelayanan yang optimal untuk masyarakat.

Berbeda halnya dengan sistem islam, yang mampu memberikan penyelesaian dalam masalah penanggulangan sebelum dan sesudah terjadinya bencana.

Manejemen bencana yang dilakukan oleh daulah islam meliputi penanganan pra bencana, ketika dan sesudah bencana.

Mulai dari mercovery korban bencana agar mendapatkan pelayanan yang baik selama dalam pengungsian, memulihkan kondisi psikis, ag agar tidak depresi,stres dan dampak psikologis yang kurang baik.

Selain itu merecovery tempat tinggal, kantor kantor pemerintahan maupun tempat tempat vital lainnya.

Dan masih banyak aktivitas lainnya yang dilakukan oleh khalifah dalam mensejahterakan rakyatnya.

Penulis : Baiq Famila Hendrawati (mahasiswa jurusan bahasa arab, muhammadyah mataram).