Kisah Hijrah Seorang Wanita
Cari Berita

Advertisement

Kisah Hijrah Seorang Wanita

Rabu, 12 September 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Aku merasa ada yang berbeda dengan diriku. Aku mulai banyak rasa takut. Takut akan kematian, takut akan siksa kubur, takut akan api neraka, dan yang paling kutakuti murka Allah kepadaku.

Hari demi hari terlewati ada banyak teman yang aku kenal, keluarga dan orang-orang terdekat. Mereka pergi seperti dipanggil bergiliran. Mereka terlebih dahulu menghadap sang Ilahi, ada yang karena kecelakaan bahkan sakit yang dideritanya.

Dari situ aku mulai sadar, bahwa siapapun dirimu, berapapun umurmu, entah impianmu sudah atau belum terwujud, jika Allah berkata "waktumu sudah habis maka kembalilah".

Terkadang aku mencoba berpikir bagaimana dan apa yang mereka lakukan. Mereka yang sudah meninggalkan dunia dan bagaimana rasanya berada di tempat yang sangat asing baginya. Kemudian aku mencoba bercermi, aku cermin diriku di depan cermin yang besar, melihat siapa diriku, menilai bagaimana diriku.

Masyaallah, Allah memberikanku fisik yang begitu sempurna, wujud yang begitu indah dipandang, disitu aku berpikir apa yang sudah aku lakukan sebagai rasa syukur terhadap karunia-Nya ini?.

Dengan ibadah kepada Allah yang telah aku lakukan, aku sebagai seorang perempuan masih merasa Allah belum menerima ibadahku. Aku shalat, aku mengaji, aku menghafal surah-surah al-qur'an, namun bukankah tidak boleh merasa sudah lumayan cukup?.

Aku belum sepenuhnya ta'at akan perintah Allah, aku belum sepenuhnya menjalankan perintah-Nya. Dan Perintah yang sangat terasa belum aku lakukan dengan baik adalah berhijab secara istiqomah, ya kewajiban bagi setiap perempuan muslim.

Saat itu aku sudah berkerudung, namun aku hanya mengenakan kerudung yang biasa. Aku mengenakan hijab sesuai dengan kemauanku, bukan sesuai dengan syariat Islam yang menjadi kewajiban setiap perempuan muslim.

Padahal disekitarku orang-orang yang berjilbab panjang yang menutup aurat semua. Cuma aku yang masih berpenampilan atau yang blum syar'i pakainnya.

Saat itu juga aku langsung berpikir aku harus belajar dengan teman dan kakak-kakak yang berjilbab sesuai tuntutan Islam itu. Aku meminta bimbingan dari meraka, aku meminta diajarkan untuk memakai pakain yang syar'i. Aku meminta "ajaklah aku bersama kalian, ajaklah aku untuk belajar bersama kalian."

Dan alhamdulillah, aku langsung diajak tarbiyah oleh mereka. Disitulah tempat aku belajar. Disitulah aku merasakan kedamaian kebersamaan dengan Akhwat-akhwat. Dan disitulah aku tau bagaimana seharusnya berpakain yang syar'i dan Bagaimana berjilbab yang benar.

Ditempat itulah aku tau bahwa, berjilbab itu penting. Berjilbab itu wajib. Tidak hanya untuk orang-orang yang berakhlaq baik. Tidak hanya untuk orang yang ahli agama. Tapi berjilbab itu adalah wajib bagi siapapun perempuan muslim.

Ditempat itu aku mulai mengetahui bahwa untuk wanita yang tidak menutup auratnya diancam tidak akan mencium bau surga sebagaimana yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat; (yang pertama adalah) Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan (yang kedua adalah) para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berpaling dari ketaatan dan mengajak lainnya untuk mengikuti mereka, kepala mereka seperti punuk unta yang miring". Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim, no. 2128)

Dalam riwayat lain Abu Hurairah menjelaskan bahwasanya, aroma Surga bisa dicium dari jarak 500 tahun. [HR. Malik dari riwayat Yahya Al-Laisiy, no. 1626].

Ukhti...Jika ada wanita berjilbab yang berperilaku buruk. Ingatlah, yang buruk itu bukan jilbabnya, namun itu adalah perilaku orang yang memakainya itu sendiri.

Jadi jangan salah paham ukhti..

Siapapun bisa melakukan hal yang buruk, dan siapapun bisa berperilaku baik.

Jangan bandingkan wanita berjilbab yang berkelakuan buruk, dengan wanita tak berjilbab yang berperilaku baik. Itu memang perbandingan yang tidak seimbang.
Nahhh.. gimna???

Jika ada yang mengatakan bahwa, lebih penting sikapnya aja dulu yang baik, dari pada berjilbab tetapi kelakuannya masih buruk.

Nahhh... ukhtii.

Mengapa tidak berpikir sederhana seperti ini saja ukhti?? Lebih baik lagi bisa berjilbab dan juga berkelakuan baik pula.

Jika ada yang berkata sinis : "Oh ternyata berjilbab saja kelakuannya masih saja seperti itu!!!".

Bagaimana jika kita balas saja pertanyaan yang lebih sinis lagi : "Apalagi yang tidak berjilbab???".

Ingat saudaraku...

Setiap keburukan itu bisa menggoda siapa saja dan setiap orang pernah melakukan kesalahan. Jangan berpikir, jika orang yang sudah berjilbab itu sudah sangat suci dan sudah terhindar dari dosa.

Kami juga sedang berusaha, kami juga sedang berproses berbaikan diri. Kami sedang belajar. Belajar menjadi orang yang lebih baik dengan bermula belajar memakai jilbab dan memakai pakaian yang syar'i.

Ingatlah juga, godaan setan itu juga berlaku untuk siapa saja.

Teruss.. apa yang masih menghalangi mu untuk berjilbab ukhti? Apa yg mengahambatmu hijrah?

Ukhtiku.... kita harus sama-sama mengajak yang lainya. Kita harus sama-sama belajar. Kita harus sama-sama sampai diakhirat. Kita harus sama-sama di syurga Allah.

Kita udah sama-sama di dunia. Kita pernah perteman. Kita pernah jalan sama-sana. Kita pernah makan bersama. Kita pernah bagi cerita pengalaman. Kita pernah bagi canda tawa, tapi kami tidak mau itu hanya sebatas di dunia yang kecil ini, kami mau kita sama-sama bersama di Akhirat dan insyaallah sampai di Surga Allah.


Ukhtii... mari kita sama-sama berproses dan kita harus tau. Semakin kita tau ilmunya akan semakin diuji keimanan. Semakin kita berusaha belajar akan semakin banyak ujian dan semakin kita berusaha istiqomah makan semakin banyak tantangan.

Hijrah itu butuh proses.
Hijrah itu butuh kesabaran.
Hijrah itu tidak mudah.
Berjilbab itu tidamlah mudah tidaklah mudah seperti yang terucap. Maka mulai hari ini, mari kita sama-sama belajar ukhtifillah.

Mari sama-sama hijrah.

Penulis : Nur Assyfah
Editor    : Subhan Forest