Ketika Petani Dilanda Kemarau, Program Kementan Harus Merata
Cari Berita

Advertisement

Ketika Petani Dilanda Kemarau, Program Kementan Harus Merata

Sabtu, 15 September 2018

Foto : Indikatorindonesia.com
Indikatorbima.com - Sebagai negara agraris Indonesia dianugerahi kekayaan alam yang melimpah ditambah posisi Indonesia yang dinilai amat strategis. Mulai dari sisi geografis, Indonesia terletak pada daerah tropis yang memiliki curah hujan yang tinggi sehingga banyak jenis tumbuhan yang dapat hidup dan tumbuh dengan cepat. Indonesia juga dikenal sebagai negara agraris karena sebagian besar penduduk Indonesia mempunyai pencaharian di bidang pertanian atau bercocok tanam

Namun ketika terjadi pergantian musim dari musim penghujan ke musim paceklik petani di indonesia tidak bisa melakukan aktivitas pertanian karena produk pertanian mereka bersifat musiman terpaksa membuat petani mencari pekerjaan alternatif lain ketika musim kemarau tiba.

Beberapa bulan terakhir sejumlah sentra produksi pertanian terdampak musim kemarau, namun tak surutkan petani Indonesia Produktif. Selain pembuatan lubang biopari dan pembuatan sumur suntik sebagai upaya Menteri Pertanian RI agar para petani bisa melakukan bercocok tanam dan menjual hasil panen mereka meski di musim kemarau, Sejumlah langkah strategis dijalankan kementan untuk memastikan petani tetap bisa tanam dan panen di segala musim yaitu :
1. Optimalisasi pemanfaatan lahan, rawa dan lahan kering.
2. Penerapan Teknologi Pertanian :
- Manajemen Air dan Tanah
- Penggunaan Benih Unggul
3. Dan mendatangkan Tim Ahli Penanggulanan kekeringan dan pendampingan petani di lapangan.

Indonesia memiliki potensi lahan rawa dan lahan kering, Lahan rawa sebagai lahan suboptimal memiliki potensi luas 12,3 juta ha, yang dimanfaatkan baru 4,5 juta ha atau 36,8%, upaya untuk memanfaatkan secara maksimal lahan rawa ini dilakukan dengan konsep Mini Polder. Sedangkan Lahan Kering memiliki potensi luas 28,5 juta hektare lahan kering termasuk lahan tegalan dan lahan yang tidak diusahakan menjadi Perluasan Area Tanam Baru (TNB), pada 2018 Kementan menjalankan program menanam padi gogo di lahan kering seluas 1 juta hektare.

Program ini harus kita awasi bersama penyelenggaraan dan pendistribusian ke daerah dan petani seluruh indonesia jangan sampai hanya sebatas wacana yang digaungkan oleh Kementerian Pertanian RI kalaupun terlaksana harus merata sampai pada 18 provinsi yang mengalami kekeringan.

Bahkan Menteri Pertanian Membentuk Tim Khusus Kementan berkoordinasi dengan pihak terkait TNI, KemenPU yang bertanggung jawab atas bendungan dan irigasi, serta Pemerintah Daerah dalam pengawalan jadwal gilir giring. Tim bentukan Menteri Pertanian akan bertindak sebagai Pelaksana dan Pengawas program kementan di 18 Propinsi yang mengalami kekeringan.

Namun bagaimanakah masing-masing pemerintah daerah mendistribusikan bantuan pemerintah pusat tersebut kepada para petani, apakah sudah disalurkan dengan baik apa belum.

Tentu kita semua berharap dari program kementerian Pertanian indonesia membuahkan hasil yang positif untuk para petani indonesia khusunya untuk membantu perekonomian mereka dan meminimalisir kebijakan impor hasil pertanian dari negara lain yang membuat produk pertanian dalam negeri tidak bisa menyaingi kualitas produk pertanian asing.

Penulis : Irdansyah