Keretakan Intelektual Mahasiswa
Cari Berita

Advertisement

Keretakan Intelektual Mahasiswa

Sabtu, 08 September 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Mahasiswa adalah pelajar yang terdaftar di perguruan tinggi swasta maupun negeri. Setalah dinyatakan sebagai mahasiswa oleh pihak kampus, maka dari situlah Mahasiswa bukan lagi hanya miliki orang tua, keluarga atau kekasihnya, tapi dia akan menjadi utusan penuh rakyat seluruh Indonesia.

Melihat dari fungsi, mahasiswa sebagai Agent social of control harus mampu menterjemahkan sesuatu yang sedang bermasalah di Negeri ini. Itulah sejatinya mahasiswa, bukan datang ke penguasa untuk meminta acara seminar ataupun kegiatan-kegiatan yang berbau politik hanya untuk mendapatkan rupiah disetiap acara.

Baca juga : Bobroknya Kaum Aktivis

Tapi melihat kondisi mahasiswa saat ini, sedang mengalami kemundurun secara berjama'ah (massal) dan itu sangat sistematis. Termasuk kemuduran secara intelktual.

Kekurangan membaca buku, kekurangan ikut aktif dalam forum diskusi, kekukarangan belajar menulis. Itu sangat mempengaruhi sikap mahasiswa terhadap kejadian-kejadian disekitarnya termasuk masalah yang memlilit Bangsa ini.

Ketidakaktifan akal sebagai alat berfikir inilah yang membuat mahasiswa juga tidak berdaya melawan kebijakan-kebijakan pemimpin yang zholim Negeri ini.

Baca Lagi : Bobroknya Kaum Intelektual

Ingat !. Bangsa ini bukan bangsa yang miskin, tapi bangsa kita ini dimiskinkan. Bangsa kita ini bukan bangsa yang kecil, tapi bangsa kita dikecilkal oleh keperibadian y yang tidak memiliki daya saing. Bangsa kita bukan bangsa yang tidak mampu bersaing, tapi kita merasa bangga dengan sifat apatis kita terhadap keadaan.

Harapan satu-satunya yang dimiliki oleh rakyat ialah mahasiswa, karena di pundaknya itulah semua harapan rakyat ditumpukan. Jika mahasiswa tidak memiliki modal (akal aktif) bagaimana dia bisa menyampaikan harapan rakyat. Yang menginkan kesejahteraan, kebahagiaan, keamanan, kedamaian dan terlebih menjadi Bangsa yang unggul atas bangsa yang lain. Bangsa yang besar atas bangsa yang lain.

Kita sebagai mahasiswa harus keluar dari zona nyaman. Kebiasaan lebih memilih handphone dari pada buku. Kebiasaan memilih layar dari pada papan dan kebiasaan memilih sumpit dari pada spidol.

Sejata mahasiwa adalah buku, pulpen (spidol) dan papan. Jika mahasiswa tidak memiliki itu, tunggulah kehancuran atas diri, rakyat dan Bangsa ini.

Ayo tinggalkan kebiasaan lama, lakukan perubahan kearah yang lebih baik.

Bismillah, dan pasrahkan semuanya kepada Allah. Jadilah manusia yang taat terhadap rakyat, agama dan Allah SWT.

Penulis : Nurul mawwadah Islamiyah (Ketua Umum FKMB-Ciputat Raya)