Kali Pertama Aku Berkisah Tentang Ayah
Cari Berita

Advertisement

Kali Pertama Aku Berkisah Tentang Ayah

Senin, 17 September 2018

Foto : Penulis
Foto tersebut belum genap setahun. Dilihat dari kostum yang kugunakan, kawan mungkin bisa menebaknya. Ya, diambil pas momentum wisudaku (23 Oktober 2017).
Melihat foto tersebut, aku bersyukur sekali.

Empat tahun berlalu, aku pernah berpikir, apakah Ayah akan ada di hari aku mengenakan baju wisuda dan memakai toga? Sebab Ayahku sempat mengalami stroke. Bagian kanan tubuhnya lumpuh total. Aku seketetika diselimuti kabut duka. Mungkinkah waktu bersama Ayah di dunia sampai di tahun itu saja?

Sembalun, 16 Juni 2014. Aku dan saudara-saudari BEM FKIP Universitas Mataram melaksanakan pembubaran panitia di sana. Tepat pukul 05.15 WITA, ketika aku baru saja selesai melaksanakan ibadah Shalat Subuh, tetiba saja handphone-ku berdering, pertanda ada panggilan masuk.

Aku angkat telepon dari nomor tidak bernama. Di seberang sana, terburu-buru suara seorang wanita-tetanggaku-mengabarkan, bahwa Ayah dilarikan ke rumah sakit tepat jam satu dini hari tadi.

Dikabarkannya, bahwa tensi Ayah naik, mencapai 290, jika terlambat satu jam saja dilarikan ke rumah sakit, mungkin Ayah tidak bisa diselamatkan lagi. Aku yang tidak sempat mencerna dengan baik kalimat-kalimat yang disampaikan tetanggaku itu, langsung berlari sambil menangis tersedu-sedu di bawah pohon jambu sebuah villa tempat kami menginap. 

Salah seorang temanku datang mendekat dan bertanya. Aku pun menjelaskan sambil terisak. Ketua BEM kami memutuskan, jika memang keadaan Ayahku parah, aku boleh pulang. Pulang ke Bima langsung pada hari itu. Tanpa berpikir panjang, aku pun menempuh perjalanan dari Sembalun ke Mataram kurang lebih dua jam-normalnya empat jam-dibonceng Kakak Tingkat untuk sampai ke Mataram.

Di Mataram, kakakku juga mengalami kekalutan. Pada akhirnya kami pun pulang ke Bima menggunakan travel hari itu juga-perjalanan siang-tiket pesawat tidak berhasil didapat. Kosong.

Entah mengapa memang, sepanjang perjalanan menuju Sembalun di hari kemarin, terbayang selalu wajah Ayah. Ayah yang suka membuat ramuan dan setia berjaga ketika aku sakit. Ayah yang berkisah tentang Malin Kundang menjelang tidur siang ketika aku masih menjadi bocah. Ayah yang terkadang juga menjadi "musuh" dalam hal-hal sepele.

Di travel, air mataku tidak berhenti mengalir. Aku juga mengenang Ayah yang pernah berkata di hari wisuda kakakku (13 Desember 2013), "Nuni nanti mau pakai baju wisuda seperti apa? Mau kebaya seperti kakakmu atau bagaimana? Biar Ayah saja yang menjahitkan untukmu." Aku pun membalas, "Duh, Yah. Masih jauh juga Nuni wisuda. Baru jadi Maba. Doakan saja kuliah Nuni lancar. Masalah baju, itu urusan belakangan. Banyak tukang jahit, Ayah."

Akhirnya, waktu 4 tahun menghampiriku. Tiba saatnya aku diwisuda. Aku mengenakan pakaian yang tidak dijahitkan Ayahku. Modelnya juga bukan kebaya. Gamis warna krem, pilihanku sendiri. Namun, mulai dari pembelian kain hingga dibawa ke tukang jahit, Ayahlah yang menjadi pemeran utamanya.

Ah, Ayah. Bersyukur sekali stroke itu sudah tidak menggerogoti tubuhmu sekarang. Semoga tidak ada serangan kedua sampai kapan pun. Baarakallaahu fii umrik. Berkah di usia yang kian bertambah. Sukses dunia dan akhirat. Sehat-sehat selalu, ya. Supaya Ayah bisa menyerahkan bungsumu ini ke pria yang tepat. Aamiin yaa Rabbal'alamiin
Kota Bima, 17 September 2018.
Ditulis oleh seorang anak bungsu yang mengetahui Ayahnya lahir pada tahun 1961.

Penulis : Nur Samaratul Qalbi