Istri Seorang Aktivis
Cari Berita

Advertisement

Istri Seorang Aktivis

Senin, 10 September 2018

Foto : Penulis
“Aku berangkat, jaga dirimu dan anak kita, baik-baik sayang.” ungkapnya. Ia menunduk, lalu naik ke atas kereta. Aku harap ia memberikan senyuman terakhir, tapi itu tak terjadi. Aku rasa ia meneteskan air mata perpisahan, sebelum kereta benar-benar pergi.

Usia kandunganku baru sekitar sembilan bulan, pernikahanku dengannya sudah memasuki tahun ke-lima. Ini adalah calon anak pertama kami. Ia begitu sibuk, tanah yang subur jarang ia sentuh, ia memang kurang bergairah dalam persoalan ini, karena hasrat dan gairahnya hanya diperuntukan untuk kepentingan rakyat.

“Nak, kalau kamu nanti lahir dengan selamat, dan tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa, ibu tak mau kau seperti ayahmu. Ibu tak menginginkan kamu tuk menjadi seorang aktivis.” Aku merindukannya.

Joker puluhan kali ditelpon oleh seseorang, untuk memastikan rencana berjalan dengan lancar, tanpa hambatan apapun. Sebab, lebih baik mati dari pada pulang dengan kegagalan. Itu inti pesannya!

Joker bekerja sebagai kepala koki, tapi akhir-akhir ini, ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Kereta pun meluncur dengan sangat cepat.

Persoalan kemanusiaan, seperti: pelanggaran HAM, korupsi, kesewenang-wenangan penguasa, kekerasan terhadap perempuan, ketimpangan ekonomi (kemiskinan), pemerataan pendidikan, kesehatan, keadilan dan kedaulatan hukum, itu yang kami perjuangkan. Hidup adalah melawan kezaliman. Ya…, Perlawanan!

Untuk melawan kezaliman, kami tergabung dalam sebuah komunitas, yaitu komunitas Pembebas Kaum Tertindas. Komunitas ini, beberapa hari kedepan akan dibubarkan. Alasannya sederhana, karena dianggap sebagai ancaman, maka harus disingkirkan. Hanya dengan begitu kekuasaan akan langgeng. Mereka tak mau diganggu dikursi goyangnya!!!

Ia masih menikmati perjalanannya, ia begitu berhati-hati. Berkas penting ada di dalam tasnnya. Ada sekitar empat berkas. Semuanya penting! Ada salah satu berkas yang paling penting. Perjalanan ini untuk rakyat. Ia ingin menyelesaikannya. Berkas itu harus bisa sampai ke-tangan Jaksa.

Intelejen gugup. Apalagi Baginda Raja yang sedang bertahta. Beliau sakit kepala. Penyakit yang tak harusnya ia derita. Karena itu penyakit orang miskin. Penyakit penguasa adalah stroke. Beredar kabar, ada informasi yang hendak dibocorkan ke-publik, informasi yang begitu penting. Data rahasia. Istana gemetar, dan Baginda benar-benar stroke.

Perasaan khawatir selalu mengganggu pikiranku. Mengkhawatirkan dirinya dan calon anak kami. Malam ini tiba-tiba perutku begitu sakit, rasa yang sulit untuk dijelaskan secara detail. Semacam ada guncangan yang begitu dahsyat. “ Ia ingin segera melihat dunia, tenanglah nak.” Cemasku.

Tujuh jam lagi, kereta akan tiba di stasiun ibu kota. Kebenaran sejarah akan bisa terungkap hanya dalam hitungan jam saja. Ia tersenyum sipu, perjuangannya sebentar lagi akan berlabuh pada muaranya. Mimpinya akan segera terwujud.
Ibu kota adalah pusat segalanya. Pentas, drama dan rekayasa adalah sarapan pagi. Tragedi terkubur dalam-dalam di tempat ini. Jika kau tak punya mental baja, tak ku izinkan kau tuk kesana.

Seorang wanita bernama Rani menyapa lebih dulu. “Halo, boleh kita bicara.” Ia tersenyum mesra. “silakan duduk mbak.” Ketusnya. Obrolan dimulai dari seorang petani yang bunuh diri, dengan mencangkul kepalanya sendiri. Ia meninggal tepat di atas tanaman bawangnya yang gagal panen. Hutang melilitnya. Harga pupuk dan obat tanaman yang mahal. Petani menjerit, Baginda Raja melempar senyum. “hadapi semua dengan senyuman.” Tegasnya.

Dalam kondisi seperti ini, aku ingin bilang, Jan!

Mereka begitu menikmati perbincangan itu. Ketertarikannya terhadap persoalan sosial dan kemanusian, menambah keakraban mereka, yang baru berkenalan. Rani memakai jas hitam dan kemeja putih. Dengan rok mini tepat di atas lutut. Rambut hitam nan panjang, terurai rapi. Kilauan liontinnya begitu bersahabat. Ia terlihat begitu mempesona. “aku harap suamiku tak tergoda dengan perempuan itu.” Aku mencemaskannya.

Ada yang janggal dari penampilan Rani malam itu. Penampilan yang hampir sempurna. Tapi kenapa ia memakai sandal jepit. Apa karena ia terburu-buru. Apa ia tak memiliki sandal lagi. Apa mungkin ia gugup. Atau memang ia adalah umpan dari sebuah jebakan?

“Mari kita simak ilustrasi berikut ini.”

Seorang pria paruh baya menghampiri mereka. Ia membawakan makanan; daging rusa dan cumi bakar. Santapan yang begitu menarik. Dalam krisis seperti ini, ditawari hidangan yang mewah, satu kata, “sikat.” Sebotol anggur hitam, menyempurnakan pertemuan malam itu. Pertemuan ditutup dengan, goodbye!

Keesokan harinya, semua penumpang kereta panik dan ketakutan. Berhembus kabar, ada salah seorang penumpang yang mati. Tak tahu penyebabnya apa. Ada indikasi ia keracunan. Ia berjenis kelamin laki-laki. Pelakunya masih ada di dalam kereta. Ia bersembunyi. Dan semuanya saling mencurigai.

Perutku semakin sakit. Tak tertahankan lagi. Ia nekat ingin segera keluar. Aku menggigit bibir. Keringat bercucuran. Listrik tiba-tiba padam. Tetangga sudah terelap tidur. Aku sendirian. Jauh dari orang tua. Jauh dari suami. Namun, pertolongan Tuhan selalu datang disaat-saat terakhir. Bayiku lahir dengan selamat. Aku menamainya, Arul.

Rani dihubungi Bos Besar. “terimakasih, rencana berjalan dengan lancar.” Ia tertawa terbahak-bahak.

Hari ini adalah hari kematian suamiku. Sudah sekitar tujuh bulan sejak hari itu. Kasus yang masih jauh dari kata tuntas. Kebenaran disembunyikan, entah oleh siapa. Aku tak mau berspekulasi. Namun, kecurigaanku kian terbukti. Mereka pasti pelakunya.

Kematiannya menghebohkan negeri. Masyarakat dan mahasiswa turun ke-jalan. Aksi massa dimana-mana. Kondisi begitu mengkhawatirkan. Misteri kematian yang masih tabuh, atau memang sengaja ditutupi. Penguasa menyuruh tenang. Team pencari fakta dibentuk, tapi sampai hari ini, dokumen itu tak penah dipublis ke publik. Mungkin hilang. Mungkin juga sengaja dilenyapkan. Mungkin dan mungkin!

Kasus ini dibawa ke pengadilan. Tapi hambar. Semua kecewa. Saling melempar batu. Gugat sana sini. Ibarat pemburu, mereka tak serius menembak sasarannya. Mungkin, mereka juga takut diburu oleh atasannya.

Hukum manusia tak akan pernah adil. Keadilan hanya milik Tuhan. Namun, misteri sedikit terungkap. Kepala koki jadi tersangka utama. Ia adalah eksekutornya. Rani dibiarkan bebas begitu saja. Ia semakin mempesona. Sekarang ia menjadi simpanan pejabat. Lalu siapakah pelaku intelektualnya? Aku tak punya cukup bukti untuk mengatakannya. Silakan disimpulkan sendiri.

Ketika itu, suamiku membawa empat berkas. Salah satu berkas yang terpenting adalah terkait pemilu hitam. Ini sangat sensitif. Semua pilihan memang beresiko. Yang terpenting, jangan pernah menyesalinya. Ia selalu bangga dengan keputusan yang ia ambil. Walupun nyawa menjadi taruhannya.

Melawan lupa. Sejarah harus diungkap. Kalau sekarang belum bisa. Kedepan harus bisa. Dan yang terpenting, Arul tak akan ku izinkan untuk melanjutkan perjuangannya.
Dongeng ini hanyalah fiktif, tapi kalau ada yang mengganggapnya nyata, juga tak apa. Arul tak mengerti kisah yang disampaikan oleh ibunya. Tapi, itu berkesan dan menyedihkan. Sekaligus penuh misteri.

Arul memutuskan untuk menjadi seorang aktivis. Walau ibunya tak suka. Seorang intelektual organik, tak akan menyerah sebelum mimpi itu benar-benar tercapai. “ aku Arul, orang yang akan menjadi aktivis pembebas kaum tertindas, pemikir yang tercerahkan, dan melanjutkan perjuangan sang Ayah, yang tak sampai.” Maaf, Ibu!

Penulis : Taufik Rahman