Ini 10 Tanda Awal Kekalahan Jokowi, Nomor 3 Paling Nyata
Cari Berita

Advertisement

Ini 10 Tanda Awal Kekalahan Jokowi, Nomor 3 Paling Nyata

Jumat, 14 September 2018

Presiden Jokowi (foto : teropongsenayan)
Indikatorbima.com - Pemilihan umum calon Presiden dan calon wakil Presiden sudah hadir di depan mata. Dan presiden Joko Widodo belum puas dengan hasil kinerjanya sendiri selama 4 tahun memimpin, baik itu tidak puas dengan kegagalannya maupun tidak puas dengan keberhasilannya. Atau mungkin tidak puas dengan keduanya.

Hal itu dapat kita lihat dari antusias dan keinginan Presiden Joko Widodo bersama timnya untuk kembali mencalonkan diri sebagai Presiden Republik Indonesia, #2019tetapjokowi.

Kegagalan dan keberhasilan Presiden Joko Widodo dalam membangun NKRI pun muncul secara bersamaan. Seolah memaksa warga negara untuk memilih suatu kebenaran. Apakah Presiden Joko Widodo telah gagal atau sebaliknya berhasil. Pilihan itu ada pada rakyat. Walaupun sebenarnya kita dapat melihat, bahwa keduanya sebagai kebenaran yang tidak bisa dihindari lagi.

Namun, dalam konteks dan polemik pemilihan calon Presiden dan calon wakil Presiden, penulis tidak ingin mengajak pembaca untuk fokus membahas isu #2019gantipresiden dan #2019tetapjokowi, atau isu gagal dan berhasilnya Jokowi dalam membangun NKRI. Tapi penulis ingin mengajak pembaca yang budiman untuk melihat secara seksama tentang kenyataan yang menurut penulis tidak bisa dibantah lagi. Yaitu, tentang hal-hal yang sudah terjadi di depan mata.

Yang dimana hal-hal itu bisa kita jadikan sebagai salah satu cara untuk memberikan masukan, peringatan atau bahkan mengkritik cara Presiden Joko Widodo dalam melakukan upaya-upaya politik untuk mempertahankan kekuasaannya.

Hal-hal itu adalah tanda-tanda kekalahan Presiden Joko Widodo dalam upaya mempertahankan kekuasaannya. Penulis melihat tanda-tanda itu ada dan mulai terlihat sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan dirinya sebagai calon Presiden Joko Widodo bersama KH. Ma'ruf Amin sebagai wakil calon Presidennya serta menunjuk narasumber publik dan pilihan isu yang akan dimainkan.

Sedikitnya penulis melihat 10 tanda kekalahan Presiden Joko Widodo dalam upaya mempertahankan kekuasaannya. 10 tanda itu penulis paparkan sebagai berikut :

1. Kekuasaan
Rezim Joko Widodo telah gagal menggunakan kekuasaannya untuk tetap tampil rendah hati dalam menerima perbedaan.

Presiden Joko Widodo tidak mampu menyatukan perbedaan menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Justru, sebaliknya perbedaan dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya. Jangankan perbedaan Suku, Ras, Agama dan Antar Golongan. Perbedaan antara tagar saja menjadi sesuatu yang berbahaya di Negeri ini.

Selain itu, Para ulama diduga didiskrimanalisasi, suara toa masjid di atur ulang, umat pecah belah, hoax dan isu sara berkembang pesat, isu makar, pembubaran ormas islam, hutang luar negeri menumpuk, ekonomi hanya sampai 5%, harga BBM selalu naik, korupsi semakin menjadi-jadi bahkan ada yang korupsi berjamaah, dan masih banyak lagi lainnya, semua itu terjadi pada saat Presiden Joko Widodo berkuasa. Sehingga tidak menutup kemungkinan, kekuasaan itu sendirilah yang akan melengserkan Joko Widodo.

2. Umat Islam

Suara terbanyak di Indonesia adalah umat Islam. Isu agama sangat masih dimainkan oleh pihak lawan. Hal itu terbukti, ketika PILKADA DKI Jakarta. Ahok kalah dan dikalahkan oleh umat Islam. Padahal elektabilitas Ahok sangat tinggi. Namun, ketika umat Islam bergerak dan bersatu, bukan hanya elektabilitasnya saja yang jatuh, tapi jabatan Ahok juga jatuh sejatuh-jatuhnya, bahkan masuk penjara gara-gara menista Agama.

Tidak menutup kemungkinan hal itu juga akan terjadi pada Joko Widodo, bahkan saking paniknya terhadap gerakan umat islam, Joko Widodo memilih ulama sebagai calon Wakilnya. Hal itu diharapkan mampu menarik perhatian, kepercayaan, dan suara umat islam.

Apa yang dilakukan oleh Joko Widodo itu sudah cukup membuktikan, bahwa ada jarak antara Joko Widodo dengan umat islam, sehingga ia memilih KH. Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden.

Saat ini umat islam sedang marah dan terluka, anggaplah sebagian kecil. Tapi biasanya, luka itu akan semakin membesar dan berbahaya jika tidak segera ditangani dengan obat.

Umat islam akan sangat berpaling jika Presiden Joko Widodo tidak berpihak pada umat islam. Dan sepertinya umat islam memang mulai berpaling.

3. #2019gantipresiden dan #2019tetapjokowi

Menurut penulis, pro dan kontra kedua tagar diatas bisa menjadi pemicu kekalahan Joko Widodo. Karena kedua tagar diatas terlihat tidak mendapatkan tempat yang sama di mata negara. Yang satunya dilindungi, dan yang satunya lagi dilarang bahkan dibubarkan dan dipersekusi.

Gerakan #2019gantipresiden dianggap sebagai gerakan gerombolan pengacau yang tidak bermoral, penipu umat, melanggar hukum, didalamnya ada ujaran kebencian dan fitnah, kampanye diluar jadwal, bahkan dianggap sebagai makar. Sehingga dilarang dan bubarkan, bahkan dipersekusi.

Sementara gerakan #2019tetapjokowi dianggap sebagai gerakan gerombolan yang bermoral, taat hukum, selalu benar, tidak pernah dilarang apalagi dibubarkan, tidak dianggap kampanye diluar jadwal, apalagi dianggap makar. Pokoknya syah dan konstitusional, siapapun yang mengganggu, siapapun yang melarang apalagi mempersekusi akan ditangkap dan diadili.

Padahal menurut hemat penulis, Gerakan #2019gantipresiden dan gerakan #2019tetapjokowi adalah hak setiap warga negara yang harus di lindungi oleh negara. Kedua tagar itu sama-sama membicarakan Presiden Joko Widodo. Bedanya, yang satu membicarakan kegagalan Joko Widodo dan yang satunya membicarakan keberhasilan Joko Widodo. Harusnya diberikan ruang yang sama. Bukan dilarang apalagi dibukarkan, harusnya yang dilarang dan dibubarkan itu adalah orang yang melarang denga cara persekusi.

4. Kesombongan dan Kebodohan

Presiden Joko Widodo di kelilingi oleh kesombongan dan kebodohan. Kesombongan yang disebabkan oleh kebodohan. Orang pintar dan cerdas tidak mungkin berlaku sombong dan angkuh, tetapi dia akan berlaku rendah hati dan sabar.

Presiden Joko Widodo tidak boleh sombong ketika di puji karena prestasinya, tetap rendah hati ketika elektabilitasnya masih diatas angin. Sebaliknya tidak boleh bodoh menerima kritik dan saran, tidak boleh marah ketika ditunjukkan kekurangan dan kegagalannya.

Tapi, sepertinya orang yang berkuasa itu identik dengan kesombongan. Lihat saja cara jubir-jubir Joko Widodo ketika bicara. Terlihat sombong dan bodoh. Seolah-olah hanya mereka yang paling benar, seolah Joko Widodo tidak akan mampu dikalahkan. Mereka seperti mencerminkan perilaku tuannya. Asal bapak senang.

Runtuh dan lengsernya kekuasaan itu, karena kesombongan dan kebodohan. Merasa diri paling benar. Itulah yang sedang terjadi pada kubu Joko Widodo.

5. Pencitraan

Pencitraan yang berlebihan akan membuat orang semakin muak dan bosan. Apalagi pencitraan yang menggunakan kekuasaan dan peralatan negara. Jika itu terjadi, maka itu pelanggaran.

Menurut penulis, pencitraan yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo sangat berlebihan. Hampir seluruh daerah ia datangi, hanya sekedar membagikan sepeda dengan pertanyaan seputar nama-nama ikan, atau sekedar meresmikan acara dan bendungan. Bahkan, Joko Widodo harus turun tangan untuk membagikan sertifikat tanah. Untuk apa kalau bukan untuk pencitraan?

6. Partai Koalisi

Partai Koalisi Joko Widodo bisa saja menjadi penyebab kekalahan. Pasalnya partai utama pendukung Joko Widodo sering disebut sebagai partai terkorup di Indonesia. Misalnya pada tahun 2002-2014 PDIP menempati posisi pertama sebagai parati terkorup dengan jumlah 157 kasus diikuti oleh partai GOLKAR dengan jumlah 113 kasus (kasku.co.id).

Hal itu bisa menjadi alasan bagi rakyat Indonesia untuk berpikir dua kali. Rakyat Indonesia sangat benci pada koruptor, bahkan siap melawan koruptor.

7. Membengkaknya Hutang Luar Negeri

Dalam waktu 4 tahun kepemimpinan Joko Widodo, hutang luar negeri Indonesia semakin bertambah.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) Februari lalu, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia 2017 silam mencapai US$352,2 miliar atau sekitar Rp4.849 triliun (kurs Rp13.769).

Jumlah itu naik 10,1% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai gambaran, pada 2016, ULN Indonesia 'hanya' naik sebesar 3%.

Satu periode tidak cukup bagi, Presiden Joko Widodo untuk membayar hutang negara Indonesia. Sepertinya Ia butuh satu periode lagi. Tapi, pertanyaannya adalah mampukah Jokowi Membayar semua hutang itu jika terpilih lagi nanti, atau malah akan menambah hutang Indonesia?

Jika tidak terpilih lagi, maka hutang itu akan menjadi tanggungan dan beban Presiden selanjutnya. Lempar batu sembunyi tangan.

8. Kesombongan dan Keangkuhan Jubir-Jubir Joko Widodo

Yang menjatuhkan elektabilitas Joko Widodo adalah Jubir-jubirnya.

Jubir-Jubir yang selalu kontroversial, sombong dan angkuh, dan selalu merasa benar sendiri, seperti Ali Mochtar Ngabalin, Adian Napitupulu, Jhonny G Plate, Masinton, Ruhut Sitompul, Irma Suryani Chaniago dan Dwi Ria, ditambah lagi Fahrat Abbas

Joko Widodo memang perlu di bela, bahkan bila perlu di bela mati-matian. Tapi, tidak dengan cara sombong dan angkuh.

9. Maraknya Isu SARA dan Hoax

Kedua isu yang sulit dibendung oleh pemerintahan Joko Widodo, meski segala upaya sudah dilakukan, namun kedua isu ini masih saja beredar luas dan berkembang biak.

Pelaku sudah ditankap dan dipenjarakan, aturan lengkap, polisi siap siaga awasi medsos dan lain-lain.

Pemerintah cukup kewalahan menangani kedua isu ini, SARA dan Hoax seolah tidak bisa mati, mati satu tumbuh seribu, yang patah tumbuh lagi, sangat sulit dihentikan. Kedua isu ini mengarah pada Joko Widodo, hampir tak bisa di bendung.

10. Pergerakan Mahasiswa

Mahasiawa yang selama ini tidur pulas, seolah tidak perduli akhirnya turun ke jalan menyuarakan suara rakyat. Mereka sebagai agent of control telah kembali, telah sadar, telah bertindak. Ini bisa menjadi momok tersendiri untuk Jokowi Dodo. Sebab, hal-hal yang disuaran mahasiswa adalah berkaitan dengan kinerja dan kebinakan Presiden Jokowi Dodo.

Bagi penulis, ketika mahasiswa sudah turun ke jalan. Maka, bersiaplah untuk kalah dan di lengserkan. Itulah mahasiswa!

Itulah 10 tanda kekalahan Presiden Joko Widodo menurut penulis yang mulai terlihat saat ini.

Penulis : Furkan As