Hebat, Perempuan Asal Bima ini Taklukkan Puncak Gunung Butak Menggunakan Gamis
Cari Berita

Advertisement

Hebat, Perempuan Asal Bima ini Taklukkan Puncak Gunung Butak Menggunakan Gamis

Senin, 24 September 2018

Foto : Siti Hajar saat menikmati secangkir kopi diatas puncak Gunung Butak, Jawa Timur.
Indikatorbima.com - Panjat gunung atau mendaki gunung adalah olahraga, hobi ataupun profesi berjalan yang memerlukan keahlian khusus dan pengalaman.

Umumnya dalam pendakian harus melalui rute perjalanan yang penuh dengan lika-liku, hutan lebat, semak-semak, jalan terjal, bebatuan, krikil bahkan jurang-jurang. Oleh karenanya dibutuhkan peralatan yang memadai.

Setidaknya beberapa peralatan yang penting bagi pendaki adalah kompas, kacamata hitam, baju hangat, topi, sarung tangan, tongkat untuk mendaki, senter, peralatan P3K, pemantik api dan sebuah pisau.

Namun, bagaimana jika pendakian dilakukan menggunakan gamis? Sebuah pakaian islami yang seharusnya digunakan untuk bersantai atau jalan-jalan di lingkungan yang sejuk dan aman. Namun, Siti Hajar berbeda. Ia tidak hanya menggunakan gamis untuk bersantai, tapi juga digunakan untuk mendaki gunung.

Ya, seorang perempuan tangguh asal desa Campa, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat berhasil menaklukan puncak gunung Butak, Jawa Timur bersama 6 temannya menggunakan gamis kesayangannya.

"Hobi yang membuat ketagihan," kata Siti Hajar kepada Indikator Bima di Kota Malang, Senin (24/09/18).

Siti Hajar (22) tahun berangkat bersama 6 orang temannya, yaitu Jebra, Fuad, Nuril, Sirsulk, Ama dan Agi berangkat dari kota Malang menuju Gunung Butak pada hari Sabtu (22/09/18) kemarin. Ia merupakan satu-satunya pendaki yang menggunakan gamis di hari itu.

Meski menggunakan gamis/hijab Syar'i, Siti Haja tidak merasa kesulitan sedikitpun. Justru dengan menggunakan gamis, Haja mengaku lebih leluasa dan bebas untuk bergerak.

"Memakai gamis saat mendaki itu menurut saya sangat nyaman. Saya tidak merasa kesulitan sedikitpun saat mendaki. Malahan saja merasa bebas untuk melangkahkan kaki kesana kemari," ungkapnya.

Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya seorang pendaki menaklukan puncak Gunung Butak yang berada pada posisi -7,922566˚ dan 112,451688˚ dengan ketinggian 2.868 mdpl (9,409 ft) menggunakan gamis. Bahkan Siti Hajar sempat diremehkan, dirinya dianggap tidak akan mampu mencampai puncak. Justru ia akan menyusahkan pendaki yang lain. Namun, Siti Hajar mampu membuktikan bahwa semua anggapan dan remehan itu tidaklah benar.

"Sempat diremehkan sama orang," terangnya.

Seperti yang diketahui, melakukan pendakian dapat membahayakan nyawa yang bisa disebabkan oleh medan pendakian yang memang berbahaya, cuaca buruk, tersesat, atau pengaruh dari kondisi medis yang sebelumnya telah dimiliki oleh pendaki. Atau ancaman lainnya yaitu serangan dari hewan buas, atau kontak dengan tanaman beracun yang menyebabkan ruam, bahkan termasuk tersambar petir (terutama di tanah yang tinggi). Namun, Siti Hajar berhasil melewati semua itu tanpa ada hambatan sedikitpun.

Gunung Butak termasuk gunung dengan tipe iklim C dan D dengan suhu kurang lebih 0˚C - 10˚C pada malam hari. Sedangkan pada pagi hari hingga siang harinya suhu berkisar antara maximum 15˚C Tipe Hutan: Gunung Butak merupakan hutan hujan tropis dan hutan lumut.

Reporter : Furkan As