Bobroknya Kaum Intelektual
Cari Berita

Advertisement

Bobroknya Kaum Intelektual

Sabtu, 08 September 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Istilah intelektual, kiranya tidak asing lagi di telinga kita. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ‘Intelektual’ berarti cerdas, berakal, berpikir jernih, yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Yaitu Seseorang yang mempunyai kecerdasan tinggi dengan cara berpikir dengan akal sehat sesuai dengan ilmu pengetahuan.

Jadi tidak sembarang berpikir dengan ke-ego-an sifat manusia. Intelektual, biasanya banyak hadir pada kaum mahasiswa dan cendikiawan. Terlebihnya ada, hanya saja jarang bahkan tidak sama sekali.

Walaupun memang tidak bisa dipungkiri orang yang terlihat biasa, tetapi memiliki kecerdasan yang luar biasa. Begitu juga dengan sebaliknya, kaum mahasiswa dan cendikiawan yang dalam benak manusia adalah seorang yang berintelektual, belum tentu memiliki kecerdasan dalam berpikir, apalagi untuk bertindak sesuai dengan ilmu pengetahuan.

Inilah faktanya yang terjadi di era milenial, yaitu era dimana manusia disibukan dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bahkan tidak bermanfaat sama sekali. Bobroknya kaum intelektual ini sangat mengganggu dan meresahkan masyarakat. Yang seharusnya mereka menjadi pondasi kehidupan, malah menjadi perusak masa depan.

Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Salah satunya adalah perubahan zaman. Kaum intelektual tidak mampu menyesuaikan dengan perubahan zaman. Sehingga mereka sendiri terbawa arus kebodohan yang nyata. Belakangan ini ilmu pengetahuan terus berkembang dan meramba seluruh aspek kehidupan manusia. Sebagai kaum intelektual tentu harus cepat mengambil langkah dan berpikir cerdas demi masa depan yang cerah.

Faktor terbesar bobroknya kaum itelektual hadir dari kemalasan untuk membaca. Banyak yang memberi ide dari egonya, bukan dari ilmu pengetahuanya. Sehingga mereka berdebat untuk menjatuhkan satu sama lain bukan untuk menemukan titik kebenaran. Yang lebih parah lagi, untuk menyebunyikan kebodohan dalam dirinya.

Maka, sudah sepatutnya kita semua yang mengaku kaum intelektual, kembali membuka lembaran demi lembaran. Pertama untuk menghilangkan kebodohan dalam diri kita dan orang lain. Kedua untuk menjadi kunci dalam menemukan ilmu pengetahuan. Ketiga untuk menjadikan perubahan yang nyata dalam masyarakat dan berbangsa. Dan jika kita tidak mampu untuk membaca buku, maka bakarlah buku tersebut. Itu lebih bermanfaat dari pada menjadi pajangan kebodohan.

Penulis : Sirajuddin (Kabid Pers FKMB-Ciputat Raya)