Bobroknya Kaum Aktivis
Cari Berita

Advertisement

Bobroknya Kaum Aktivis

Sabtu, 08 September 2018

Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Aktivis adalah orang yang giat bekerja untuk kepentingan suatu organisasi politik atau organisasi massa lain. Dia mengabdikan tenaga dan pikirannya, bahkan seringkali mengorbankan harta bendanya untuk mewujudkan cita-cita organisasi.

Aktivis identik dengan kaum pembela kepentingan umum dan yang selalu menentang kebijakan-kebijakan penguasa yang tak berpihak pada kepentingan banyak orang, pembela kaum tertindas dari permainan penguasa, konglomerat, borjuasi, dan kapitalis.

Berbicara tentang aktivis, bukanlah sesuatu yang baru dan terdengar asing dalam kehidupan masyarakat. Aktivis telah menjadi bagian dari sejarah dalam membawa perubahan pada system kekuasaan dan pemerintahan di negeri ini.

Seiring berjalannya waktu, istilah aktivis semakin populer dalam kehidupan masyarakat, terutama di kalangan anak muda dan mahasiswa. Setiap orang yang bergabung dalam suatu lembaga dan organisasi yang bertujuan untuk memperjuangkan hak orang lain disebut aktivis. Aktivis perempuan misalnya, mereka dikenal dengan visi dan misinya dalam menyuarakan kesetaraan gender.

Dalam dunia mahasiswa, kata aktivis sering ditujukan kepada mereka yang banyak berkecimpung dalam dunia organisasi. Baik organisasi yang bersifat internal dan organisasi yang bersifat eksternal maupun organisasi lokal atau basis kedaerahan. Walaupun berorganisasi itu bukanlah sesuatu hal yang wajib dalam dunia pendidikan, tetapi ada nilai istimewa yang didapatkan oleh mahasiswa-mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi. 

Dengan bergabung di organisasi, akan memberikan perubahan yang siginifikan terhadap wawasan, cara berpikir, pengetahuan, kepemimpinan, dan cara bersosialisasi dalam masyarakat yang notabenenya tidak diajarkan di bangku kuliah. Maka tidak heran, ketika sudah mengakhiri status kemahasiswaannya biasanya mantan aktivis lebih mudah mendapatkan pekerjaan dibandingkan dengan mereka yang dulunya hanya menjadi kupu-kupu (kuliah-pulang)  di kampus.

Organisasi memang tidak menjamin seseorang bisa mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikannya di bangku kuliah. Akan tetapi, dengan berorganisasi setidaknya kita sudah memiliki sedikit pengalaman untuk bekal di kemudian hari, baik dalam dunia kerja maupun ketika bersosialisasi dengan masyarakat.  

Dengan aktif berorganisasi, kita akan terbiasa untuk berbicara dan tampil di depan umum, akan sering berhadapan dengan surat-menyurat, belajar tentang manajemen dan kepemimpinan, memiliki kenalan/link dimana-mana. Semua itu tentu tidak akan pernah didapatkan  oleh mahasiswa-mahasiswa tukang kuliah, yang setiap harinya sibuk berkutat dengan teori-teori yang ada di buku. Secara akademik mereka memang cerdas, tetapi dari segi pengalaman mereka masih sangat kurang.

Ironisnya, saat ini sedikit sekali organisasi yang dapat menjalankan fungsinya sebagai penampung aspirasi dan juru bicara mahasiswa serta menjadi kekuatan sosial masyarakat. Saat ini, mahasiswa yang bergabung dalam organisasi secara kuantitas memang sudah mengalami peningkatan, tetapi dari segi kualitas masih banyak yang patut dibenahi.

Banyak kita jumpai organisasi yang terlihat vakum dan tidak melakukan kegiatan apapun, pada hal jumlah anggotanya tergolong banyak. Ataupun kita sering melihat organisasi yang setiap minggunya selalu rutin mengadakan pertemuan, tetapi tidak ada program yang dilaksanakan untuk kepentingan mahasiswa dan masyarakat. Mereka terlalu terlena dengan kesibukan sendiri hingga mengabaikan tugas dan tanggungjawabnya sebagai wakil untuk menampung aspirasi mahasiswa dan masyarakat.

Namun perlu diketahui bahwa tidak semua organisasi mengalami hal yang sama. Baik buruknya suatu organisasi sangat bergantung dengan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya. Sebuah organisasi yang dikelola oleh aktivis-aktivis yang kritis dan memiliki integritas yang tinggi tentu akan berjalan dengan baik.

Mereka selalu menyumbangkan ide, gagasan, tenaga bahkan nyawanya untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat. Berbeda dengan organisasi yang dipenuhi oleh aktivis abal-abalan yang hanya mengandalkan nama dan atribut organisasi yang mereka miliki. Mereka terlihat seperti orang sok sibuk, padahal tidak melakukan apa-apa. 

Banyak aktivis abal-abalan yang tampil di depan publik karena ingin dikenal oleh banyak orang, melakukan demonstrasi sana sini. Kemana saja mereka pergi, selalu mengenakan baju aktivis sehingga bisa memperlihatkan kepada semua orang kalau mereka adalah seorang aktivis. Lebih miris lagi, ketika berdiri di depan mereka berkoar-koar dengan suara lantang, seolah-olah mereka adalah pemberontak dalam menuntut keadilan rakyat. Tetapi ketika berhadapan dengan penguasa, mereka bungkam setelah ditawarkan sedikit uang.

Berkaca pada cerita diatas, maka perlu adanya kesadaran bagi setiap mahasiswa akan peran penting sebuah organisasi dalam dunia mahasiswa, terutama bagi mereka yang berkecimpung di dalamnya. Para pelaku organisasi memiliki tugas dan tanggungjawab sebagai agen perubahan dalam kehidupan masyarakat. Bukan malah menjadi penjilat yang bermuka dua.

Menjadi aktivis tidak hanya sekedar bisa berorasi dan melakukan demonstrasi turun ke jalan, di tugu-tugu ataupun persimpangan jalan, tetapi juga memiliki tanggungjawab moral yang wajib dipertanggungjawabkan. Cerdaslah Wahai Mahasiswa!!

Penulis : Abied Poetra (Ketua Bidang Kemahasiswaan FKMB-Ciputat Raya).