Prasangka itu Memakan Kebaikan Seperti Api Membakar Kayu Bakar
Cari Berita

Advertisement

Prasangka itu Memakan Kebaikan Seperti Api Membakar Kayu Bakar

Rabu, 01 Agustus 2018

Ilustrasi (foto : Pixabay)
Indikatorbima.com - Adalah Said bin Amir Al Jumhi gubernur Syam, seorang zuhud, alim dan wara yang ditunjuk menjadi gubernur menjadi salah satu kunci keberhasilan Pemerintahan khalifah Umar Ibnul Khattab. Itu pula yang kemudian menjadi jawaban Khalifah Ali bin Abi Thalib saat di demo orang-orang khawarij yang mengkonfrontasi kenapa pemerintahan Sayidina Ali banyak pejabat korup. Fitnah, bully, ghiba dan kekacauan di mana-mana.

Sayidina Ali menjawab tegas: Masa Pemerintahan khalifah Abu Bakar dan Umar yang diperintah adalah sahabat-sahabat terbaik, amanah, jujur, dan wara tapi masaku yang aku perintah adalah orang-orang seperti kamu. Banyak bicara suka mengeluh, dan malas. Yang hanya mau taat kepada pemimpin di kelompok mu saja. Yang menggunakan ayat-ayat Alquran untuk mendebat, suka mengkafirkan kepada yang tidak sepaham".

Saat khalifah Umar Ibnul Khattab melakukan muhibah ke kota Syam puluhan orang berkumpul pada majelis menyampaikan berbagai keluhan terhadap kepemimpinan Gubernur Said bin Amir Al Jumhi. Khalifah Umar pun memanggil Gubernur Said untuk dikonfrontasi agar masalah segera bisa di urai dan ada jalan keluar terbaik.

Apa yang kalian keluhkan tanya khalifah,

Mereka menjawab, “Ia tidak keluar kepada kami kecuali jika hari telah siang.”

“Apa jawabmu tentang hal itu, wahai Sa’id?” kata Umar.

Sa'id terdiam sebentar, kemudian berkata, “Demi Allah, sebenarnya aku tidak ingin menjawab hal itu. Namun, kalau memang harus dijawab, sesungguhnya keluargaku tidak mempunyai pembantu. Maka setiap pagi aku membuat adonan roti, kemudian menunggu sebentar sehingga adonan itu mengembang. Kemudian aku buat adonan itu menjadi roti untuk keluargaku, selesai itu aku berwudhu dan baru keluar rumah menemui penduduk.”

"Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” tanya Umar.

Mereka menjawab, “Sesungguhnya, ia tidak menerima tamu pada malam hari.”

“Apa jawabmu tentang hal itu, wahai Sa’id?”

“Sesungguhnya, Demi Allah, aku tidak suka untuk mengumumkan ini juga. Aku telah menjadikan waktu siang hari untuk rakyat dan malam hari untuk Allah Azza wa Jalla,” jawab Sa'id.

“Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” tanya Umar lagi.

Mereka menjawab, “Sesungguhnya ia tidak keluar menemui kami satu hari dalam sebulan.”

“Dan apa ini, wahai Sa’id?”

Sa'id menjawab, “Aku tidak mempunyai pembantu, wahai Amirul Mukminin. Dan aku tidak mempunyai baju kecuali yang aku pakai ini, dan aku mencucinya sekali dalam sebulan. Dan aku menunggunya hingga baju itu kering, kemudian aku keluar menemui mereka pada sore hari.”

“Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?”

Mereka menjawab, “Ia sering pingsan, hingga ia tidak tahu orang-orang yang duduk di majelisnya.”

“Dan apa ini, wahai Sa’id?”

Sa'id menjawab, “Aku menyaksikan meninggalnya sohabat Khubaib bin Adi Al-Anshari di Mekah. Kematiannya sangat tragis di tangan orang-orang kafir Quraisy. Mereka menyayat-nyayat dagingnya kemudian menyalibnya di pohon kurma. Orang Quraisy itu meledek, “Khubaib, apakah kamu rela jika Muhammad sekarang yang menggantikanmu untuk disiksa?” Khubaib menjawab, “Demi Allah, kalau saya berada tenang dengan keluarga dan anakku, kemudian Muhammad tertusuk duri sungguh aku tidak rela.” Ketika itu aku masih dalam keadaan kafir dan menyaksikan Khubaib disiksa sedemikian rupa. Dan aku tidak bisa menolongnya. Setiap ingat itu, aku sangat khawatir bahwa Allah tidak mengampuniku untuk selamanya. Jika ingat itu, aku pingsan.”

Seketika itu Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakan prasangka baikku kepadanya.”
Kemudian khalifah memberinya bantuan 1000 dinar emas untuk memenuhi kebutuhan nya tapi lagi-lagi Gubernua Said membagikannya kepada orang faqir yang lebih membutuhkan nya.

Tak salah rakyat mengeluh dengan model kepepiminan gubernur Said. Gubernur Said juga tak salah karena beliau dapat menyampaikan rasional atas perbuatan yang beliau lakukan. Yang jadi soal adalah prasangka, maka khalifah Umar menjaga nya dengan prasangka baik sebelum ada tabayyun dan mendapatkan jawaban atas soal yang disangkakan. Maka berhati-hatilah terhadap prasangka apalagi hanya medsos yang dijadikan sumber referensi.

Pemimpin kita hari ini memang tak ada yang sebaik Gubernur Said dan Khalifah Umar dan kita sebagai warga juga tak sebaik warga pada masa Khalifah Umar dan Gubernur Said. Jadi merendahlah.

Agar tak mudah berprasangka pada sesuatu yang kita belum tahu. Apalagi hanya bersumber pada media sosial dan kabar sepihak untuk menilai seseorang apakah mulia atau hina. Lantas kita ini siapa ...
Wallahu a'lam

Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar