Kader PDIP Bima Dinilai Kejam Lebih dari PKI, Ketua DPC PDIP Angkat Bicara
Cari Berita

Advertisement

Kader PDIP Bima Dinilai Kejam Lebih dari PKI, Ketua DPC PDIP Angkat Bicara

Sabtu, 18 Agustus 2018

Foto : Pamflet/banner kampanye calon anggota DPRD Kabupaten Bima DAPIL IV milik darusman (sumber : facebook @Darusman Wuse)
Indikatorbima.com - Darusman, A.Ma yang mengaku sebagai Calon Anggota DPRD sementara Kabupaten Bima Dapil IV (Wera Ambalawi) dengan nomor urut 5  harus tereliminasi dari partai PDIP. Darusman mengaku ditipu dan dikhianati, bahkan dirinya menganggap apa yang ia alami sangatlah kejam, bahkan lebih kejam dari pada PKI, Sabtu (18/08/18).

"Ditipu, dikhianati, di bantai dan kejamnya PKI lebih kejam ini yang saya rasakan," ujar Darusman kepada Indikator Bima melalui WhatsApp.

Darusman menceritakan kronologis dan proses bagaimana dirinya di eliminasi padahal dirinya sudah ditetapkan sebagai calon anggota DPRD sementara Kabupaten Bima dengan nomor urut 5 yang di usung oleh partai PDIP.

Awalnya rekan sesama calon anggota DPRD sementara Kabupaten Bima Dapil IV atas nama Musmuliadin yang akan diusung oleh partai PDIP tidak terima dengan penetapan nomor urut calon. Dimana rekannya yang juga ketua PAC PDIP Kecamatan Ambalawi tersebut, tidak setuju jika dirinya ditetapkan sebagai calon anggota DPRD sementara dengan nomor urut 2 oleh partai PDIP.

Tidak terima dengan hal itu, rekannya Musmuliadin tersebut mengajak Darusman bersama 3 orang lainnya untuk membuat surat pernyataan pengunduran diri bermaterai 6000 sebagai bentuk kekecewaan dan penekanan kepada DPC PDIP agar mau merubah posisi nomor urut calon. 

Surta pernyataan itu diantar oleh Adi ke rumah Darusman untuk dimintai tanda tangan.

Setelah surat pengunduran diri tersebut ditanda tangani oleh Darusman bersma 3 orang temannya, surat pengunduran diri tersebut kemudian diserahkan kepada DPC PDIP Kabupaten Bima.
Namun yang terjadi justru hal yang tidak terduga, ternyata surat pengunduran diri 4 orang teman Darusman tersebut, tidak pernah sampai ke kantor DPC PDIP Kabupaten Bima, melainkan hanya surat pengunduran diri milik Darusman saja yang diserahkan dan sampai kepada DPC PDIP Kabupaten Bima.

"Nyatanya itu muslihat mereka belaka, karena surat pengunduran diri saya saja yang disampaikan," ungkap Darusman.

Darusman menduga, bahwa peristiwa tersebut sudah direncanakan oleh teman-temannya untuk menggeser posisinya sebagai calon anggota DPRD sementara Kabupaten Bima. Dan digantikan oleh salah satu kader partai Golkar yang datang melamar ke DPC PDIP Kabupaten Bima.

"Saya menduga mereka sudah merencanakan untuk menggeser saya, karena ada saudara Iqbal dari PK Golkar yang datang melamar," terangnya.

Mendapati peristiwa yang dianggap sebagai peristiwa penipuan dan penghianatan itu, Darusman bergegas mendatangi kantor DPD PDIP pada tanggal 10 Agustus 2018 untuk melakukan klarifikasi. Namun, hingga saat ini dirinya belum juga mendapatkan kejelasan.

"Kemarin tanggal saya pergi ke Kantor PDIP Kabupaten Bima, untuk menanyakan hal demikian, dan kata pak Ketua DPD, akan berusaha untuk memulihkan kembali tapi nyatanya sampai hari ini belum ada kabarnya," turunya.

Lebih lanjut Darusman juga menduga, bahwa peristiwa tersebut juga melibatkan unsur DPC PDIP Kabupaten Bima untuk bersekongkol menggeser dirinya. Selain itu, Darusman juga menduga adanya politik transaksional.

"DPC PDIP itu partai, kendaraan dan ada orang yang mengendalikannya. Dan saya menduga ada mahar politik atau proses transaksional yang terjadi, sehingga saya tereliminasi," paparnya.

"Saya memang bukan sebagai kader yangg di kader, tapi saya sebagai warga PDIP dan memiliki kartu keanggotaan," lanjutnya.

Darusman menegaskan bahwa dirinya tetap ingin menjadi calon Anggota DPRD Kabupaten Bima DAPIL IV, sebab dirinya sudah berjuang cukup lama dan susah payah.

"Saya tetap ingin menjadi caleg tetap di PDIP mengingat perjuangan saya sudah cukup lama dan panjang," tegasnya.
Menanggapi hal itu, Nurdin Ketua  DPC PDIP Kabupaten Bima menanggapi serius peristiwa yang dialami oleh Darusman. Nurdin membenarkan bahwa yang sampai ke kantor DPC Kabupaten Bima hanya surat pengunduran diri dari Darusman saja. Nurdin juga mengaku tidak tau menau tentang siapa yang menyampaikan surat pengunduran diri Darusman sebagai calon anggota DPRD sementara Kabupaten Bima.

"Surat pengunduran dari Darusman, yang jelas surat ini sampai ke kantor DCP PDIP saya tidak tau siapa yang bawa kesini," terangnya kepada Indikator Bima melalui Telpon.

Hal lain juga disampaikan oleh Nurdin, bahwa Darsuman belum ditetapkan sebagai calon anggota DPRD Sementara Kabupaten Bima dari partai PDIP. Menurutnya, Darusman hanya salah satu calon yang akan didaftarkan ke KPU. Namun, hal itu belum dilakukan karena Darusman belum menyampaikan surat penguduran diri dari Honor daerah, sebaliknya yang sampai ke kantor DPC PDIP Kabupaten Bima adalah surat penguduran diri Darusman sebagai calon Anggota DPRD sementara Kabupaten Bima.

"Ini semua kan ada proses, yang jelas Darusman datang setelah ada pendaftaran di KPU. Beliau itu kan statusnya kan sebagai honor daerah. Saya kan menunggu surat pengunduran diri sebagai honor daerah tapi sampai hari ini tidak ada, yang sampai malah surat pengunduran diri sebagai calon anggota DPRD. Dia kan belum ditetapkan sebagai calon anggota DPRD dari partai karena surat pengunduran diri sebagai honor daerah belum sampai," jelasnya.

"Kami juga kan bersikap, partai ini kan tidak bodoh," lanjutnya.

Sementara itu, terkait pernyataan Darusman tentang dugaan peristiwa penghiatan dan penipuan yang dilakukan oleh teman-temannya dan kekejaman teman-temannya yang dianggap lebih kejam dari PKI ditanggapi santai oleh Nurdin. Nurdin menganggap hal itu bukan urusan partai, melainkan urusan Darusman dengan teman-temannya.

"Itu kan urusan dia dengan orang-orang itu. Itu kan urusan personal. Yang saya proses kan sesuai dengan fakta yang ada di tangan saya," tegasnya.

Reporter : Ginanjar
Editor      : Furkan AS