IDP Bukan Politisi Tapi Pembangkang
Cari Berita

Advertisement

IDP Bukan Politisi Tapi Pembangkang

Rabu, 01 Agustus 2018

Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri (foto : Abbie Makese).
Indikatorbima.com - Perjalanan demokrasi menuju puncak pemimpin atau menjadi orang nomor satu di kabupaten Bima telah mewarnai perjalanan demokrasi pada tahun 2014-2015 silam, sampai pada akhirnya terpilih Hj. Indah Darmayanti Putri sebagai orang nomor satu di kabupaten Bima.

Dalam perjalanan kepemimpinan beliau cukup dipenuhi dengan berbagai dinamika, karena cinta masyarakat kabupaten Bima terhadap beliau sungguh luar biasa.

Sebagai orang pertama perwakilan gender memimpin kabupaten Bima, ini merupakan sejarah baru untuk sistem keistanaan dana Mbojo dalam mempertahankan sistem dinasti demokrasi daerah Mbojo itu merupakan langkah alternatif dalam menjunjung tinggi tatanan kekerajaan.

Ini menunjukan bahwa Hj. Indah Darmayanti Putri adalah orang
yang dipercaya bisa bertarung dalam dunia politik.

Paradigma masyarakat ketiak melihat Hj. Indah Dhamayanti Putri atau yang akrab di sapa Umi Dinda pada saat itu merupakan pilihan terbaik dalam menemukan jati diri pemimpin yang diimpikan, karena masyarakat yakin bersama orang yang kemudian dipilih oleh masyarakat kabupaten Bima lebih khususnya masyarakat desa Renda adalah pilihan hati nurani masyarakat secara langsung tanpa adanya indikasi politik praktis.

Suara masyarakat Renda sendiri yang diberikan kepada bupati Bima mencapai 90%. Ini menunjukan bahwa kepercayaan penuh untuk melanjutkan tongkat estafet Almarhum (H. Feri) dipercayakan kepada Hj. Indah Darmayanti Putri, kepercayaan itu telah membawa beliau menjadi orang nomor satu di kabupaten Bima. Karena menurut data pemilihan pada tahun 2015 silam sampai dengan hari ini suara terbanyak untuk Umi Dinda terbesar berada di desa Renda.

Dalam perjalanan kepemimpinan Umi Dinda banyak dinamika yang dihadapi mulai dari struktural pemerintahan, pembangunan infrastruktur, sampai pada pemberdayaan masyarakat. Semuanya menuai sorotan dari publik.

Sebagai orang yang berperan di bidang eksekutif, mungkin dianggap sebagai hal yang lumrah dan niscaya atas keberadaannya. Tapi kita harus ketahui bersama, bahwa Bima ramah itu dalam kepemimpinannya merupakan visi keummatan.

Bima Ramah sebagai visi utama bupati Bima, masih menjelma dalam mimpi mewarnai tidur panjang kepemimpinannya, karena konsep BIMA RAMAH sampai hari ini banyak masyarakat tidak tahu persis bagaimana grendesaint yang coba ditampilkan pada publik.

Tidak lain itu pula yang dirasakan oleh masyarakat Renda yang begitu santun dalam melihat perjalanan kepemimpinannya.

Renda sebagai desa yang memberikan suara terbanyak untuk Umi Dinda pada saat itu telah di khianati dan dilupakan oleh pemerintahan daerah, karena sampai pada titik awal keberangkatan kepemimpinannya (Bupati Bima) tidak memberikan sumbangsih apapun pada masyarakat Renda.

Ini ditunjukan dengan adanya beberapa penolakan yang dilakukan oleh Bupati Bima terhadap kehadiran generasi muda Renda beberapa waktu lalu.

Kehadiran generasi muda beberapa waktu lalu ditolak mentah-mentah oleh bupati Bima, padahal kehadiran mereka merupakan panggilan dari janjinya yang ingin sering bertemu dengan generasi muda Renda atas pengakuannya pada tanggal 20 Juli 2018 lalu, perjumpaan dengan generasi muda adalah kerinduan terhadap masyarakat Renda "Saya ingin sering bertemu dengan kalian" kata bupati Bima saat itu.

Kalimat itu merupakan ungkapan yang terus diingat oleh pemuda Renda sampai dengan hari ini. Karena kepergian pemuda Renda beberapa waktu lalu merupakan panggilan kerinduan beliau, dan itu bukanlah ungkapan kebetulan yang tiba-tiba keluar dari mulut beliau tapi itu merupakan ungkapan nurani atas kesadaran politik.

Kekecewaan sudah pasti muncul pada pemuda dan generasi Renda, karena hal itu merupakan suatu penghinaan dan penghianatan terhadap kepercayaan masyarakat Renda.

Pemuda sebagai representasi dari masyarakat Renda menganggap benar-benar dikecewakan oleh Bupati Bima. Hal ini menuai banyak sorotan dari tokoh-tokoh pemuda Renda, termasuk PK KNPI Belo angkat bicara, yang langsung putra kelahiran Renda itu beliau tidak ingin bahwa generasinya dipandang sebelah mata oleh pihak pemerintahan.

Sebagai desa yang melahirkan petarung dan begitu santun dalam berpolitik, Renda tidak akan tinggal diam terhadap kelakuan pemerintahan daerah hari ini, dengan mempertimbangkan bahwa bupati tidak ingin menyapa Renda lagi dan melupakan segala hubungan dengan masyarakat Renda. Oleh karena itu kita semua selaku generasi penerus desa Renda menyatakan sikap bahwa;

1. Bilamana bupati bima tidak ingin hadir di renda maka suara bupati Bima (Hj. Indah Darmayanti Putri) bisa kami pastikan tidak akan ada 1 pun pada periode yang akan datang.
2. Kami tidak ingin melihat bupati Bima melintasi wilayah Belo selatan, bilamana hal demikian terjadi maka dianggap perlu untuk menutup akses jalan Renda itu sendiri.
3. Menganggap bahwa pemerintahan periode 2015 sampai pada hari ini telah gagal dalam melakukan, mewujudkan, dan menciptakan Bima Ramah sebagai visi utama.
4. Meminta kepada bupati agar kiranya menepati janji politik kepada masyarakat Renda sebagai bentuk tanggungjawab moral sebagai manusia yang mempunyai hati nurani.
5. Apabila poin-poin diatas tidak mampu direalisasikan dan diwujudkan maka bupati Bima harus mengendurkan diri atas dasar kesadaran politik, baik sebagai politisi maupun sebagai bupati Bima.

Saya akhiri tulisan ini dengan kutipan Francis Fukuyama yang menyatakan bahwa "jika ingin memperbaiki negara dan menjadi negara yang kuat cukup perbaiki lembaga yang ada didalamnya". Mari kita ber-Fastabikulkhairat.
Salam rindu untuk Bupati Bima.

Penulis : M. Yusuf Malik