Sebelum Jadi Advokat Handal Kepercayaan Masyarakat, Dul Pernah menjadi Buruh Semen
Cari Berita

Advertisement

Sebelum Jadi Advokat Handal Kepercayaan Masyarakat, Dul Pernah menjadi Buruh Semen

Senin, 09 Juli 2018

Foto : Abdullah,SH.,MH bersama anak-anak di Kampungnya.
Indikatorbima.com - Abdullah Pernah menangis terseduh-seduh karena dibentak mandornya saat menjadi buruh semen di kota Jakarta. Bahkan ketika kuliah, dirinya terpaksa melahap bumbu sate sisa temannya. Pernah juga menjadi pengamen di kota Malang tempat ia menuntut ilmu. Bahkan tak jarang asam (oi mangge) dijadikan sebagai kuah dan lauk.

Kisahnya berawal ketika ia merantau ke kota Malang untuk menempuh pendidikan tinggi.

Abdullah atau yang akrab disapa Dul merantau ke Kota Malang pada tahun 2008. Ia diterima sebagai salah satu mahasiswa jurusan Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Malang. Selama di Kota Malang, Dul hidup serba apa adanya. Susah senang ia rasakan sebagai perantau ulung.

"Saya bersama teman-teman mengamen. Mulai dari Landungsari sampai ke daerah Suhat, itu bolak-balik jalan kaki. Hanya dapat 10 ribu," ungkap Dul meningat kisahnya itu.

Suatu hari, Dul benar-benar teringat pada salah satu momen di mana ia harus berpura-pura kenyang di hadapan temannya yang sedang makan sate ayam. Padahal sebenarnya ia sangat lapar. Usai temannya menghabiskan sate itu hingga yang tersisa hanya bumbunya saja lalu pergi, Dul kemudian memakan sisa bumbu sate itu sebagai lauk.

"Suatu saat teman saya datang ke kost bawa sate ayam, ia sempat mengajak saya makan tapi saya bilang sudah kenyang. Padahal lapar. Kan nggak enak, masa saya makan makanan yang dibawa tamu. Hingga akhirnya saya makan bumbu sate sisa teman saya itu," terang Dul ketika menceritakan kisah sedihnya saat menjadi perantau di Kota Malang.

Meski sebenarnya Dul bisa di Bilang sebagai anak orang yang punya. Namun, Dul tidak mau menjadi anak manja dan cengeng, ia ingin menjadi perantau ulung yang kuat dan tangguh, ia ingin hidup mandiri tanpa menyusahkan keluarganya.

Pada tahun 2012 Dul berhasil menyelesaikan studi S1-nya di Kota Malang. Tidak hanya sampai di situ, Dul adalah salah satu orang yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan juga pemuda yang memiliki semangat dan cita-cita. Baginya belajar dan mencari ilmu tidak pernah mengenal lelah, tidak kenal waktu dan umur, karena semangat itu, pada tahun 2014 Dul berhasil menyelesaikan S2-nya tepat waktu.

"Saya adalah salah satu orang yang tidak pernah puas, bagi saya ilmu pengetahuan adalah kunci kesuksesan," katanya.

Setelah menyelesaikan S2-nya, Dul memutuskan untuk merantau ke Kota Jakarta. Berbagai usaha ia lakukan untuk mencari dan mendapatkan pekerjaan di kota metropolitan tersebut. Namun apa daya, dari sekian lamaran pekerjaan yang ia masukan, tidak satu pun yang menerimanya.

"Saya memberanikan diri merantau ke Kota Jakarta, untuk mencari pekerjaan. Sudah lamar sana sini tapi ndak ada satu pun diterima," kisahnya.

Selama 6 bulan di kota Jakarta, sambil menunggu informasi tentang lamaran yang ia masukan ke berbagai instansi tersebut, untuk bertahan hidup dan mencari pengahsilan, Dul bekerja sebagai buruh semen.

"Saya bekerja sebagai buruh semen, gajinya lumayan. Di dalam hati saya berkata, saya tidak boleh berhenti sampai di sini. Saya tidak boleh kalah dengan keadaan" ujarnya.

Ketika menjadi buruh semen itu, Dul harus bekerja sesuai dengan perintah atasannya. Suatu waktu, Dul pernah menangis seorang diri karena dibentak oleh atasannya. Bukan karena manja atau cengeng, tapi Dul menangis karena merasa terharu dengan penderitaan dan perjuangan para buruh. Ia menangis karena ia kasihan pada keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

"Saat itu saya melakukan kesalahan kecil, manangis terseduh-seduh. Saya merasakan betul bagaimana mereka parah buruh berjuang bertahan hidup. Saya benar-benar merasakannya," tutur Abdullah sambil mengenang kisah sedihnya itu.

Meski sempat merasakan semua penderitaan itu, Dul tidak pernah merasa kekurangan. Baginya merasa tidak puas disertai rasa syukur adalah kecukupan itu sendiri. Bahkan baginya, apa yang telah ia alami itu belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan para pendahulu, belum seberapa dibandingkan dengan perjuangan para petani, buruh, nelayan dan masyarakat tidak mampu lainnya. Baginya apa yang ia alami belum lah seberapa, masih banyak penderitaan yang lain.

"Saya sadar itu belum seberapa, masih banyak penderitaan-penderitaan yang lebih dari apa yang saya rasakan itu," timpanya.

Disela-sela perjuangan hidup di Jakarta itu, Dul kemudian menerima informasi tentang pendaftaran pendidikan profesi Advokat di UI Depok. Ia pun mendaftar dan beberapa waktu kemudian lulus menjadi seorang Advokat. Disitulah ia memulai karirnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan Advokatnya. Dul kemudian kembali ke Kota Malang menjadi Dosen di UMM sekaligus menjadi Advokat sekitar dua tahun. Namun, timbul perasaan rindu untuk kembali ke kampung halamannya. Ia sempat berfikir, bahwa selama ini ia telah mengabdi di negeri orang. Sudah pada saatnya ia kembali dan mengabdikan jiwa dan raganya pada kampung halamannya di Dompu. Dul pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya pada tahun 2016.

"Sampai 2016 awal, saya memutuskan untuk hijrah kembali ke Dompu dan berjuang di tanah kelahiran," ungkapnya.

Tidak lama kemudian, Dul memutuskan untuk mendirikan Yayasan Tambora Bangkit (YARKI) sebuah lembaga bantuan hukum yang memiliki misi kemanusiaan. Dul mendirikan YARKI sebagain biesar tujuannya untuk memberikan bantuan hukum secara gratis kepada masyarakat yang tidak mampu. Melakui YARKI Dul bersama kawan-kawannya dapat membantu dan membela masyarakat tidak mampu di hadapan penegak hukum yang kerap berlaku tidak adil, agar hukum tidak tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

"Sejak tahun 2017, saya bertujuan untuk memberikan bantuan hukum bagi masyarakat tidak mampu," ungkapnya.

"Dan YARKI sudah bekerja sama dengan Pengadilan Negeri Dompu dan Pengadilan Agama Dompu untuk pos bantuan hukum masyarakat tidak mampu," tambahnya.

Setelah melewati semua hal itu, Dul kemudian sukses menjadi Advokat handal kepercayaan masyarakat, beberapa kasus sudah dan sedang ia jalani untuk masyarakat di Dompu. Tidak jarang ia membantu dan membela masyarakat bahkan pemuda dihadapan negara untuk mendapatkan keadilan dan kepastian hukum secara gratis.

Kini masyarakat dan pemuda telah merapatkan barisannya untuk mengusung Abdullah, SH., MH. sebagai calon anggota DPRD Kab. Dompu DAPIL I (Hu'u, Pajo dan Dompu) periode 2018-2024.

Reporter : Furkan AS
Editor      : Fuad D Fu