Jokowi Memang Asyik
Cari Berita

Advertisement

Jokowi Memang Asyik

Rabu, 18 Juli 2018

Jokowi (foto : Simomot)
Indikatorbima.com - Tak pernah kehilangan tema untuk membahas orang satu ini. Hampir semua suka membincang Jokowi baik yang bersetuju atau tidak. Tokoh paling fenomenal di paruh pertama abad 21. Presiden yang dipuja oleh para pendukung yang setia dan sasaran bully bagi lawan politiknya. Dan itu yang menyebabkan elaktabilitas-nya tetap tinggi terjaga. Selalu menjadi tradding topic dimanapun. Inilah Presiden paling mempesona menurut para pemilihnya.

Tapi maaf, saya tak akan memilih Jokowi pada Pilpres mendatang karena setiap capres yang saya pilih selalu keok. Amien Rais kalah, Mega kalah, Prabowo kalah, bahkan Gus Ipul juga kalah. Politik memang unik bahkan suami dan isteri bisa beda pilihan meski ngakunya sama. Jadi jangan pernah percaya dengan pilihan isteri, saat di bilik suara, hanya dia dan Tuhannya yang tahu.

Imam Al Junaid Abu Qasim Al Baghdadi salah seorang ulama salaf, maha guru sufi masyhur, berjalan diiringi para muridnya usai shalat Jumat. Beliau dikenal alim. Banyak ilmu dan suka menolong. Majelisnya selalu penuh sesak karena tausiyahnya menyenangkan. Tidak menggurui dan yang terpenting tidak merasa paling benar sendiri.

Suatu hari sepulang shalat jumat, Al Junaid menepi ke pinggir karena tak ingin mengganggu anjing berserta anaknya yang lewat. Beliau berhenti memberi jalan, hingga semua anak anjing lewat tanpa terganggu. Sontak para santri penasaran dan mengajukan banyak tanya.

Guru, kenapa harus minggir, kenapa menepi dan mengalah, bukankah dia hanya anjing, hewan najis yang kita diharuskan mencuci tujuh kali dan satu diantaranya harus dengan tanah, masih belum
cukupkah keterangan bahwa dia hanya binatang haram, najis dan rendah ?

Dengan tenang sang guru menjawab. Saat berpapasan tadi anjing bertanya kepadaku, yang aku tak bisa menjawab.:"Apa salahku diawal penciptaan hingga aku diciptakan menjadi makhluk haram dan najis. Dan apa kebaikan dan jasamu di awal penciptaan hingga kau diciptakan sebagai makhkuk yang paling mulia ?

Saya tak tahu seberapa rendah Jokowi di mata lawan politik nya hingga siapapun yang dekat dengannya akan dicap buruk. Kemudian memuja kepada siapapun yang menjauh darinya syukur ikutan membully.

Anis Baswedan dicap penyebar Syiah, agen Yahudi hingga antek liberal karena menjadi tim sukses. Kemudian sontak berubah menjadi pemimpin idola dengan berbagai sebutan dan gelar mulai dari Good Bener hingga khalifah sayidin panoto gomo yang amanah, jujur, adil dan merakyat. Sebaliknya Tuan Guru Bajang di cap ulama busuk dan hapalan al Quran-nya di doakan tinggal dua ayat setelah sebelumnya di puja-puja sebagai gubernur paling alim, paling jujur, paling amanah, paling Islam dan paling-paling yang lain ...

Politik ber aroma kebencian makin kental dan itu merambah tidak terdeteksi. Dan saya berlindung dari membenci dan membully kepada siapapun yang saya tak suka. Junjungan dan kekasihku berujar: "Cintailah kekasihmu (secara) sedang-sedang saja, siapa tahu di suatu hari nanti dia akan menjadi musuhmu; dan bencilah orang yang engkau benci (secara) biasa-biasa saja, siapa tahu pada suatu hari nanti dia akan menjadi kecintaanmu” (Riwayat Turmidzi)

Tapi semua terserah kita, mau membenci atau memuji sesuka hati tak ada yang melarang karena semua akan berpulang kepada masing-masing tanpa terkurangi. Tapi mungkin saja Jokowi malah memanen kebaikan kita karena bully dan ghiba yang kita lakukan padanya ... bulilah sepuas hatimu sebelum Jokowi menerbitkan Perpres tentang larangan membully dirinya ... Wallahu a'alam

Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar