Tarik Ulur Emosi Pembaca dalam Novel Seumpama Matahari
Cari Berita

Advertisement

Tarik Ulur Emosi Pembaca dalam Novel Seumpama Matahari

Jumat, 29 Juni 2018

Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Seumpama Matahari merupakan novel karya Arafat Nur yang berlatar belakang mengenai GAM (Gerakan Aceh Merdeka). Novel ini menyajikan cerita secara langsung tanpa bertele-tele mengenai jalan cerita pemberontakan para geriliya dalam membalas dendam sakit hatinya.

Disini Araf Nur menceritakan seorang anak yang bernama Asrul yang tergoda atas ajakan temannya ,untuk bergabung dalam GAM karena sakit hatinya atas kematian ayahnya yang mati terbunuh karena ulah TNI.

Asrul selama satu tahun meninggalkan ibu dan adiknya dikampung halaman demi bergeriliya di tengah hutan aceh untuk melawan TNI yang telah membunuh ayahnya.

Dalam novel ini Arafat Nur tidak hanya menceritakan mengenai balas dendam, sakit hati, ataupun perang saja tetapi juga diberi bumbu – bumbu cinta oleh Arafat Nur untuk menumbuhkan semangat pembaca.

Arafar Nur dalam menulis novel ini menggunakan bahasa yang sederhana tanpa menggurui dalam penulisannya. Seperti pembahasannya disini mengenai bagaimana bisa Asrul begitu dengan dengan TNI karena kematian ayahnya yang tidak bersalah dan merasa mati dengan tidak adil.

Arafat Nur juga menyajikan cerita perdamaian antar keduanya di ahir cerita dengan dialihkan cerita mengenai pelarian Asrul dalam kejaran TNI dan penemuan tambatan hatinya dalam pelarianya.

Asrul disini diceritakan dalam pelariannya ke tanah Riau lah menemukan Putri yang diahir cerita akan menjadi istrinya. Putri disini diceritakan hanya tinggal berdua bersama Ana adiknya, Putrid an Ana adalah anak yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuannya karena terbunuh oleh TNI, tetapi Putri dan Ana sangat berbeda dengan Asrul karena Putri dan Ana tidak ingin membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya dan ingin melanjutkan hidup dengan sewajarnya.

Sungguh naas kisah Asrul ditanah Riau, karena uang saku yang Asrul peroleh dari Ibunya telah habis untuk menompang hidupnya di Riau dalam masa persembunyiannya tanpa Asrul memperoleh pekerjaan untuk menambah keuangannya. Pada saat itulah asrul ditemukan kembali dengan Putrid an adiknya, dengan persetujuan Ana ahirnya Putri membawa Asrul tinggal dirumah mereka dan membantu Asrul untuk bersembunyi dalam kejaran para TNI itu.

Selama berada satu rumah dengan Asrul bibit cinta Putri terhadap Asrul mulai tumbuh dan mengiginkan asrul tetap berada didekatnya untuk selamannya.

Pada saat Arafat Nur membahasan mengenai kisah cinta Asrul dan Putri, Arafar nur kembali memberikan ketegangan dalam ceritannya. Dimana dalam ceritannya Arafat Nur mulai memberikan konflik-konflik pada ceritannya yang membuat pembaca mulai merasakan ketegangannya. Pada saat itu Arafat Nur mempermainkan emosi pembaca dalam penghayatan memaknai jalan cerita tersebut.

Ketika Asrul mengetahui Putri menyimpan harapan dalam kepadannya, Asrul pun sedikit mulai menghindar dikarenakan merasa tidak pantas untuk Putri karena keadaanya yang tidak jelas dan statusnya yang membahayakan bagi Putri dan adiknya.

Setelah melakukan pembicaraan serius ahirnya Asrul menyatakan keinginannya juga untuk menikahi Putri. Tetapi Arafat Nur membubuhi cerita cinta Asrul dengan sedikitit hambatan yang didatangkan dari komandan GAM asrul yaitu Zen yang menghubungi Asrul kembali untuk kembali bergabung dalam misi mereka untuk membalas dendam kepada TNI dan kembali lagi bergeriliya ditengah hutan.

Setelah direnungi Asrul pun memutuskan untuk hidup damai bersama Putri dan keluargannya nanti dan menolak bergabung dengan tim geriliyannya dan di balas dengan amukan dari Zen yang merasa tidak terima karena Asrul menolak kembali bergabung dengannya untuk menyelesaikan misi menghancurkan para TNI tersebut.

Setelah berpamitan dengan Putri dan Ana, ahirnya Asrul kembali tanah kelahirannya yaitu Aceh untuk menemui ibu dan adiknya dengan bertujuan mendapat restu oleh ibunya untuk menikahi Putri yang berada di Riau. Tetapi Arafat Nur benar-benar memainkan emosi pembaca yang kembali lagi memberikan konflik dalam alur cerita cinta Asrul.

Belum melewati satu malam berada di rumah, bau kedatangan Asrul tercium oleh TNI yang kemudian datang untuk menangkap Asrul, dengan sangat ketakutan ibu Asrul berusaha melindungi Asrul, tetapi dengan segenap keberaniannya Asrul menyerahkan dirinya tanpa sedikit bentuk perlawanan.

Pada saat di intrograsi dalam penjara Asrul mengatakan semua yang terjadi pada Asrul yang mengalami bentuk penghasutan karena sakit hatinya yang dialami karena kematian ayahnya.

Mendengar pengakuan Asrul yang dinilai jujur maka panglima TNI tersebut luluh dan melepaskan Asrul dengan perjanjian bahwa Asrul tidak akan bergabung kembali menjadi Geriliya.

Berita atas penangkapan Asrul terdengar oleh Putri dan Ana yang langsung memutuskan untuk datang menghampiri asrul di Aceh. Setelah berada di Aceh Putri mendapatkan Asrul sudah dibebaskan dari penjara dan merasakan kelegaan karena Asrul yang masih baik-baik saja. Dengan begitu Asrul pun mengenalkan Putri dan Ana kepada ibu dan adiknya serta menyampaikan niat baiknya untuk mempersunting Putri.

Penulisan novel ini menurut saya Arafat Nur menggunakan pendekatan Emotif dikarenakan penulisan cerita dalam novel ini Arafat Nur sangat mempermainkan emosi pembaca karena klimaks-klimaks pada cerita diposisi yang tidak terduga oleh pembaca.

Mempermainkan Emosi pembaca ini adalah hal yang wajar untuk menimbulkan rasa penasaran pembaca terhadap alur cerita tersebut. Ending dalam cerita ini memang bukan ending yang menggantung dan sangat dapat ditebak tetapi pada perjalanan alurnya cerita demi ceritanya sangatlah susah untuk diterka oleh pembaca.

Arafat Nur memang jago membolak-balikan emosi pembaca dalam novelnya kali ini yang berjudul Seumpama Matahari. Bahkan ada sebuah artikel yang menyatakan bahwa cerita Seumpama Matahari ini sempat ingin dimusnahkan oleh yang bersangkutan tetapi penulis yaitu Arafat Nur menyelamatkannya dan terwujudlah novel yang berjudul Seumpama Matahari ini.

Begitulah perjuangan Arafat Nur dalam mempertahankan sebuah cerita yang hampir termusnahkan oleh pelaku aslinya sendiri. Cerita yang begitu menarik dengan kisah konflik yang beralur dengan tarik ulur emosi yang rapi membuat novel ini begitu terkesan menarik serta diujung kisah yang menyajikan perdamaian antara kedua pihak yang bersangkutan dengan konflik tersebut. Arafat Nur mebubuhi ending ini dengan pernikahan Asrul dan Putri serta kematian Zen di medan perang.

Penulis : Riesta Maulidya Muaqiba (Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang).