Sangiang Desa Harapan
Cari Berita

Advertisement

Sangiang Desa Harapan

Selasa, 19 Juni 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Di desa saya (Sangiang) tidak kekurangan orang pintar, yang ada malah kelebihan orang pintar. Tapi sayang, problem klasik yang melilit harapan belum mampu di lepas. Atau Jangan-jangan justru ADD adalah awal dari kekacauan ini?, pemdes dan masyarakat hanya berputar di lingkaran masalah klasik, tidak jarang terkesan saling mencari-cari kesalahan, walau kenyataannya kesalahan itu tidak perlu di cari-cari, karena kesalahan justru ada di depan mata, yakni tidak adanya kesamaan kehendak antara masyarakat dan pemdes lah masalah paling serius.

Tanpa sadar aktivitas itu menguras banyak energi dalam berdemokrasi di desa. Harusnya pemdes tidak bersikap egois, apalagi dalam penyelenggaraan pemerintahan tidak memberi ruang kepada masyarakat untuk berpartisipasi.
Dalam empat tahun berjalannya UU Desa, dengan alokasi anggaran fantastis, seharusnya mampu menjadi solusi terhadap kekurangan air bersih, bahkan tidak perlu ada iuran dari warga hanya untuk se gentong air bersih tiap bulan. Karena tujuan dari alokasi ADD adalah menjadi solutif untk masalah klasik semacam ini, lucu rasanya, jika sampai sekarang warga masih beriuran untuk membeli air bersih.

Melangkah lebih jauh

Masalah administratif memang menjadi hal yang paling mendasar dan urgen untuk diselesaikan, kepatuhan pada administrasi adalah kunci utama dalam penyelenggaraan pemerintahan yang efektif. Namun hal itu tidak seharusnya menjadi alasan satu satunya untuk terjebak lebih lama lalu mengesampingkan masalah urgen yang lain. Pemdes dengan partisipasi aktif masyarakat, sudah seharusnya melangkah lebih jauh untuk membicarakan upaya terwujudnya desa sangiang yang mandiri dan tidak tergantung pada suplai pusat.

Pemanfaatan potensi sumber daya alam dan menghidupkan ekonomi kreatif masyarakat harusnya menjadi diskursus serius antara pemdes dan masyarakat. Kendati desa sangiang memiliki potensi sumber daya alam yang cukup kaya, hingga kini belum ada langkah kongkrit dari pemerintah desa untuk memanfaatkannya. Tidak bisa dimaklumi jika diskursus konstruktif semacam itu di abaikan apalagi sampai di anggap tidak penting. Jika benar, sama sekali tidak ada harapan untuk itu, sungguh sia sia negara membayar gaji perangkat pendamping desa jika tidak mengingatkannya.

Pemudalah Aktornya

Sebagai penggerak kesadaran dalam masyarakat, sudah sepatunya pemuda menjadi aktor utama yang mengarahkan dan menggerakkan perubahan ke arah yang lebih baik, bukan malah mencipta distrust masyarakat apalagi sampai menjadi aktor disharmoni dalam kehidupan di desa. Trust (kepercayaan) masyarakat bisa dimiliki jika pemuda berjalan bukan atas kehendak ego pribadi, melainkan wajib berkehendak atas nama kepentingan masyarakat banyak. Pemuda adalah jembatan yang menyatukan perspektif masyarakat dan pemerintah Desa, yang menjamin platform gotong royong dan kekeluargaan tetap bersemayam dalam kehidupan desa.

Jika pemuda paham terhadap perannya, maka harapan akan tatanan kehidupan yang lebih baik dapat segera mungkin tercapai dengan baik pula.
Semoga apa yang di semogakan dapat segera tersemogakan. Semoga saja.

Yogyakarta, 18 Juni 2018

Penulis : Asrizal
(Pemuda Desa Sangiang)