Meski Tak Diperhatikan, Masjid La Kai Kamina Ini Jadi Tempat Wisata Pemuda
Cari Berita

Advertisement

Meski Tak Diperhatikan, Masjid La Kai Kamina Ini Jadi Tempat Wisata Pemuda

Jumat, 22 Juni 2018

Sejumlah pemuda wisata Kecamatan Langgudu saat berpose di depan masjid.
Reporter : Fuad D Fu
Editor      : Subhan Al Karim

Indikatorbima.com - Masjid kuno La Kai Kamina di Desa Kalodu Kecamatan Langgudu memang tak dipelihara oleh masyarakat dan tidak terperhatikan oleh pemerintah.

Dilihat dari lingkungan sekitar masjid sudah ditumbuhi rumputan yang tinggi dan lebat, bahkan didalam masjid kebersihan sama sekali tidak terjaga dengan baik. Pada hal, masjid ini mempunyai nilai sejarah perjalanan para putra kerajaan Bima dahulu.

Meski begitu, sejumlah pemuda wisatawan asal Desa Rupe Kecamatan Langgudu ini tetap menjadikan masjid La Kai Kamina sebagai tempat wisata budaya dan sejarah.

Sebab, menurut Idris salah satu wisatawan lokal ini, bahwa masjid La Kai Kamina memang menyimpan nilai sejarah perjungan dan perjalanan putra kerajaan yang perlu dilestarikan dan bernilai edukasi untuk masyarakat, terkhusus untuk generasi muda.

"Seharusnya masjid yang bernilai sejarah ini dipelihara dan diperhatikan, agar sejarah adanya masjid ini bisa lestari hingga bisa dipelajari oleh generasi kedepan," ujar Idris minggu (17/06/2018).

Ia juga mengungkap dan menyayangkan, bahwa di sekitar masjid ini sudah tidak terpelihara, sudah dipenuhi dengan rerumputan yang tinggi.

Sejarahnya, masjid La Kai Kamina ini didirikan sejak tahun 1308 Masehi, yang didirikan oleh Jena Teke (Putra Mahkota) La Kai yang berganti nama Abdul Kahir setelah masuk Islam, bersama mubaliq dari Sulawesi Selatan.

Masjid ini, merupakan masjid kuno tertua setelah masjid Kampo Nae di Kecamatan Sape.

Berdasarkan informasi yang dihimpun indikatorbima.com, bahwa di zaman kerajaan, Desa Kalodu ini dijadikan tempat persembunyian Jena Teke La Kai (Abdul Kahir) bersama pengikutnya.

Jena Teke La Kai terpaksa meninggalkan Istana Bima karena mau dibunuh pamannya Salisi yang berambisi mengambil alih kekuasaan kerajaan yang dibantu oleh Belanda.

Dengan bantuan Belanda, Salisi berhasil mengambil alih kekuasaan kerajaan tanpa persetujuan lembaga Hadat Dana Mbojo (Pemerintahan kerjaan) pada waktu itu.

Sejak didirikannya masjid La Kai Kamina ini, di Desa Kalodu menjadi pusat penyiaran agama Islam yang dimulai oleh putra kerajaan Bima dan para mubaliq dari Sulawesi Selatan.

Konon, bentuk masjid ini pun mempunyai makna tersendiri. Masjid bersegi empat sama sisi sebagai simbol empat putra kerjaan Bima yang memeluk agama Islam, diantaranya La Kai (Abdul Kahir) sendiri, La Mbilla (Jalaluddin), Bumi Jara Mbojo (Awaluddin), Manuru Bata Putera Raja Dompu Ma Wa’a Tonggo Dese (Sirajuddin).

Sementara, empat sisi bangunan mengartikan sebagai simbol asal para guru putra kerajaan ini yang berasal dari Sulawesi Selatan yaitu dari Gowa, Luwu, Bone dan Tallo.

Begitu juga dengan tiang masjid yang berjumlah delapan tiang yang berbentuk segi delapan sebagai simbol putra kerajaan Bima dan para guru Islamnya dari Sulawesi Selatan tersebut.

Masjid La Kai Kamina ini pun terletak di dataran tinggi yang di kelilingi pegunungan hutan, dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua, jaraknya dari Kota Bima sekitar 70 kilometer.

Namun sanyangnya, jalan menuju masjid La Kai Kamina sangat berbahaya sebab melewati tanjakan yang tinggi dan beberapa tikungan tajam, selain itu juga jalan masih dalam kondisi rusak.

Padahal, menurut Idris wisatawan lokal, di Kalodu para wisatawan bukan hanya berwisata dan melihat tempat bersejarah, tetapi juga bisa menikmati air terjun dan pemandangan yang sangat indah diatas pegunungan. 

Bahkan, kata Idris, sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi tempat wisata yang dapat mendorong perekonomian masyarakat setempat dibanding tempat-tempat lain.

"Sangat bagus, bukan hanya masjid La Kai Kamina yang bisa dilihat tetapi juga Desa Kalodu punya wisata alam air terjung. Pemandangan alamnya sangat indah," ungkap Idris pemuda Desa Rupe.

Ia juga berharap, Desa Kalodu harus bisa diperhatikan pemerintah daerah dan bisa dikelola secara lestari potensi wisata yang ada. Karena menurutnya, kemajuan daerah bisa juga dikembangkan melalui pengelolaan wisatanya.