Konflik Batin Gadis Lereng Gunung Sindoro
Cari Berita

Advertisement

Konflik Batin Gadis Lereng Gunung Sindoro

Rabu, 06 Juni 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Genduk merupakan sebuah novel bergenere drama, dengan setting tahun 1970-an. Novel ini menceritakan seorang gadis kecil berusia 11 tahun yang tinggal bersama ibunya atau biyung di Desa Ringinasari terletak di lereng Gunung Sindoro. Genduk adalah sosok gadis kecil yang sederhana namun memiliki rasa keingintahuan yang besar dan tekad yang kuat dalam menjalani kehidupannya.

Sejak kecil Genduk selalu bertanya-tanya dimana keberedaan ayahnya atau pak’e yang belum pernah ia temui. Ketika ia melontarkan pertanyaan kepada biyung mengenai gimana wajah pak’e, biyung Genduk selalu membisu dan enggan untuk menjawab pertanyaan itu. Begitupula ketika Genduk bertanya kepada penduduk setempat mengenai pak’e tidak pernah mendapatkan jawaban. Salah satu orang yang bersedia menjawab pertanyaan Genduk hanyalah Kaji Bawon.

Genduk hidup sebagai anak yatim bersama biyungnya di gubuk reyot yang memiliki pohon jambu kecil di depan rumahnya. Setiap malam Genduk selalu menaiki pohon jambu karena disanalah ia melontarkan keinginannya untuk bertemu dengan pak’e. Selain itu, melalui pohon jambu Genduk bisa melihat desa-desa lain yang menghubungkan akses jalan ke Kota Parakan. Dimana Kota Parakan adalah pusat kemajuan ilmu dan teknologi tidak seperti Desa Ringinasari yang belum ada listrik sama sekali. “Dari atas pohon jambu depan rumahku, kutengadahkan kedua telapak tangan, kota itu terlihat hanya satu raupan tangan, dan aku seperti mengenggam permata karena cahaya-cahaya lampu kota yang berkilauan, entah kenapa aku mempunyai keyakinan aku akan menumakan pak’e disana”. Itulah kalimat yang dilontarkan Genduk pada saat ia tengah merindu pak’e.

Ditengah-tengah konflik dalam dirinya mengenai keberadaan pak’e, muncul konflik baru mengenai petani tembakau. Hampir seluruh penduduk Desa Ringinasari menggantungkan hidupnya pada daun-daun tembakau termasuk biyung Genduk. Para petani tembakau Desa Ringinasari menghasilkan tembakau yang berkualitas tinggi, namun para petani termasuk biyung Genduk harus menelan kekecewaan akbiat ulah gaok dan kaduk yang suka menipu. Melihat kejadian ini Genduk merasa harus melakukan sesuatu demi perekonomian keluarga dan penduduk Desa Ringinasari.

Usia Genduk yang mulai beranjak dewasa, terpaksa harus merendahkan dirinya kepada seorang tengkulak yang bernama kaduk karena ia berjanji akan membeli tembakau biyungnya dengan harga yang tinggi asalkan Genduk menuruti semua permintaannya. Akan tetapi, kaduk hanya memanfaatkan dan membohongi Genduk setelah mendapatkan apa yang ia mau. Genduk harus menelan rasa kekecewaan dan penyesalan yang sangat mendalam. Kejadian ini membuat Genduk memutuskan untuk pergi dari desa Ringinasari menuju ke Kota Parakan. Sebelum matahari terbit, dengan mengendap-endap Genduk beranjak keluar dari rumahnya dengan tekad yang sudah bulat ia meinggalkan desa tercintanya itu.

Perjalanan yang cukup panjang ia telusuri, udara subuh masih menusuk tulang, tanpa menggunakan senter ia terjatuh di lubang yang besar sampai lututnya terluka. Namun hal itu tidak merubah pemikiran Genduk untuk kembali ke rumahnya. Genduk tetap melanjutkan perjalanan hingga sampailah ia di tegalan buk yang merupakan perbatasan Desa Ringinasari dengan Desa Mranggen. Untuk menuju ke Kota Parakan biasanya menggunakan angkutan umum, namun Genduk yang tidak mau mengambil resiko karena ia takut ada yang mengenalinya terpaksa harus menulusuri jalanan. Setelah berjam-jam berjalan, sampailah Genduk di sebuah pasar yang bernama “Pasar Legi”. Genduk yang hanya bermodal uang logam dari hasil tabungan bambu memberanikan diri untuk memasuki pasar Legi.

Genduk tidak pernah melihat pedagang yang begitu ramai di desanya, ia hanya bisa takjub, bingung dan heran melihat kepadatan dan keributan orang-orang berjualan dan belanja. Ia menikmati dan berkeliling di pasar sambil terkagum-kagum. Hari mulai beranjak siang, Genduk terus melanjutkan perjalanannya menuju ke arah timur. Genduk kembali menyusuri sepanjang jalanan Kota Parakan. Pada saat ia sedang berjalan beberapa langkah tiba-tiba ada seorang anak menaiki sepeda yang meluncur dari atas bangunan ke arah jalanan besar. Genduk dengan cepat meraih sepeda itu dengan kedua tangannya karena sepeda itu terhenti pada jarak satu lengan dengan truk yang sedang mundur. Beruntung anak itu bisa diselamatkan, Genduk yang merasa lemas dibantu duduk oleh seorang ibu-ibu yang kebetulan ibu itu adalah orang tua anak yang menaiki sepeda. Kemudian Genduk diperkenalkan kepada kakek yang bernama Pak Djan selaku orang tua dari ibu tersebut.

Pak Djan atau yang memiliki nama asli Tjo Tian Djan adalah seorang juragan yang menjual tembakau langsung ke pabrik Gudang Garam dan Djarum. Sebagai rasa terima kasih Pak Djan, Genduk diberikan sebuah gelang yang berwarna hijau dimana gelang itu adalah tanda dari keluarga besar Tjo Tian Djan. Genduk hanya menganguk-ngangguk dan segera pamit dari rumah Pak Djan karena ia harus segera melanjutkan perjalanan mencari pak’e.

Setelah berjalan cukup lama, sampailah Genduk di sebuah warung milik Bu Wongso. Genduk menceritakan tujuannya ke Kota Parakan kepada Bu Wongso, kemudian Bu Wongso menyarankan Genduk pergi ke pondok pesantren milik Bu Siti Suparkati istri dari Pak Ikhsan tepatnya di Desa Kauman yang tidak jauh dari Pasar Legi. Setelah menghabiskan es nya Genduk pamit kepada Bu Wongso, ia berjalan ke arah barat menuju Desa Kauman. Sesampainya disana Genduk mendengar adzan dari salah satu masjid, ia melaksankan sholat asar berjamaah disana.

Secara kebetulan masjid itu dekat dari pondok pesantren yang dimaksud Bu Wongso.
Setelah beberapa jam menunggu, Genduk akhirnya bertemu dengan Bu Siti Suparkati dan Pak Ikhsan. Kemudian Genduk diceritakan oleh Pak Ikhsan bahwa ayahnya atau pak’e nya sudah meninggal pada zaman PKI. Dengan rasa sedih yang sangat mendalam Genduk pun kembali ke Desa Ringinasari. Sesampainya di Desa Ringinasari Genduk kembali mendengar permasalahan tembakau yang dialami oleh biyung dan penduduk setempat. Dengan tekad yang meluap-luap Genduk akhirnya memberanikan diri untuk kembali menemui Mbah Djan, ia menceritakan seluruh persoalan yang dialami oleh penduduk desa Ringinasari. 

Berkat keberaniannya tersebut akhirnya tembakau penduduk Desa Ringinasari termasuk biyung Genduk dibeli dengan harga sesuai dengan tembakau yang dihasilkan. Dari situlah penduduk Desa Ringinasari, biyung dan Genduk tidak perlu takut lagi terhadap penipuan gaok dan tengkulak.

Penulis : Baiq Tety Yuliana (mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang).