Ketika Al-Quran Hilang Wangi
Cari Berita

Advertisement

Ketika Al-Quran Hilang Wangi

Jumat, 01 Juni 2018

Ilustrasi (foto : Tingkrongan Islami)
Indikatorbima.com - Ramadhan yang diberkati. Konon sebagai pengganti umur umat nabi saw yang dipendekkan. Berbeda dengan umat-umat nabi sebelumnya dengan kisaran 3 hingga 9 ratus tahun, umat Muhammad hanya 6 puluhan. Maka ramadhan yang didalamnya ada malam yang setara dengan seribu bulan setidaknya dapat membuat equevalent umur kita yang dipendekkan.

Ramadhan juga disebut Syahrul Quran. Dimana Al Quran diturunkan pada malam ke 17 nya meski sebagian ulama khilaf tentang kapan turun pertama kalinya.

Saat dimana Al Quran pertama kali diturunkan yang kemudian kita sebut dengan peristiwa Nuzul al Quran. Semesta bertasbih. Air berhenti mengalir. Angin senyap. Semua makhkuk hidup sujud bahkan daun dan semua pohon. Pasir dan segalanya bertasbih atas kuasaNya.

Para ulama khilaf tentang materi Al Quran apakah suaranya, tulisannya atau isinya atau ketiganya sekaligus. Bahkan beberapa ulama mutazilah juga berdebat tentang status Al Quran apakah makhluk atau bukan.

Kontroversi Al Quran juga terus mengemuka. Beberapa menyoal tentang mushaf yang tersebar di beberapa sahabat termasuk dialek membaca yang kemudian melahirkan qiraah sab'ah atau bacaan yang tujuh.

Beriman kepada kitab-kitab Allah adalah pilar penting. Mengingkari berarti membatalkan iman. Begitupun dengan Al Quran yang menyempurnakan kitab-kitab sebelumnya. Zabur, Taurat, Injil dan suhuf-suhuf yang tersebar. Semua dengan berita yang sama: ke tauhid an. Berita tentang hidup abadi setelah hidup fana di dunia. Kabar tentang rahmat juga azab.

Akan halnya Al Quran yang diturunkan paling akhir berfungsi menyempurnakan dan menggenapi kitab sebelumnya. Al Quran sempurna tanpa cela, baik isi, tulisan hingga mukjizat yang menyertai. Allah sendiri yang menyatakan Diri sebagai penjaganya. Jadi tidak mungkin Al Quran mengalami perubahan meski satu huruf.

Al Quran adalah petunjuk semua manusia. Rahmat bagi semesta tanpa kecuali. Di dalamnya ada petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Setiap hurufnya adalah kebaikan. Membacanya adalah keberkahan tiada berhingga.

Pada kenyataannya kita hanya berhenti pada tahapan membaca dan menghafal tapi lemah pada aspek pengamalan. Membaca dan menghafal miskin implementasi. Al Quran berkurang wanginya. Kecuali berlomba fasih dan tartil. Menjadi ironis lagi ketika substansi Al Quran diamalkan oleh mereka yang bukan muslim. Sementara kita hanya sibuk membaca dan menghafal.

Wangi Al Quran "dicuri". Iqra perintah membaca dengan segala makna lainnya. Membaca kalam Allah. Bukan hanya tulisan di kertas. Kalam Allah tersebar di semesta. Membaca, memahami, menganalisa, berkaca dengan menyebut asma Tuhan yang menciptakan. Al Quran kehilangan hikmahnya karena kita tidak mampu membaca dengan baik. Membaca dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan.

Penulis : Nurbai Yusuf @taddarus:16: Pesantren Tegalrejo Magelang