Dari Menjual Pepaya, Pemuda ini Raup Uang Hingga Ratusan Ribu Perhari
Cari Berita

Advertisement

Dari Menjual Pepaya, Pemuda ini Raup Uang Hingga Ratusan Ribu Perhari

Selasa, 26 Juni 2018

Foto : Saat Ginanjar melayani salah satu pembelinya.
Indikatorbima.com - Ginanjar Kartasasmita (26) tahun pemuda asal Desa Pai Kecamatan Wera Kabupaten Bima merantau ke kota Bima untuk berjualan pepaya jenis California. Dari hasil penjualan pepaya jenis California tersebut, Ginanjar bisa meraup uang sedikitnya 300 rb perhari atau paling banyak 800 rb, Selasa (26/06/18).

Disekitar area lapangan Sera Suba atau tepatnya di depan Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Jl. Soekarno Hatta kota Bima, Ginanjar seorang diri hampir setiap harinya menggelar tikar sebagai tempat istrahat menunggu pembeli dan memasang meja kecil sebagai tempat penjualan pepayanya.

"Hampir setiap hari saya jualan disini," ungkapnya saat ditemui oleh Indikator Bima di tempat ia berjualan.

Ditengah sinar matahari yang menyengat dan dinginnya malam di kota Bima. Ginanjar tetap semangat untuk berjualan pepaya dari pukul 14.00 WITA hingga pukul 23.00 WITA.

"Dari siang sampai malam baru pulang," ucapnya.

Meski bekerja sebagai penjual pepaya, diusianya yang masih muda. Ginanjar mengaku tidak pernah malu. Baginya menjual pepaya bukanlah masalah, yang terpenting adalah pengalaman memulai usaha kecil-kecilan dan hasilnya halal untuk dimakan.

"Untuk apa malu? Belajar usaha dulu nggak apa-apa yang penting halal," terangnya saat menjaga dagangannya.

"Tak ada bisnis yang kecil, tak ada kepercayaan yang melebihi bisnis," lanjutnya.

Setiap hari, Ginanjar dapat menjual sedikitnya 25 buah, bahkan suatu hari pernah laku 70 buah. Harga buah pepaya jenis California yang dijual oleh Ginanjar cukup bervariasi, mulai dari harga 10 rb, 15 rb hingga 20 rb. Tergantung besar dan kecilnya.

"Alhamdulillah pernah laku banyak. Harga tergantung ukurannya" katanya.

Meski bukan miliknya sendiri, Ginanjar tetap amanah dalam bekerja. Ginanjar menjual pepaya milik salah satu anggota keluarganya dengan penuh tanggungjawab. Setiap transaksi jual beli selalu ia buatkan catatan tersendiri.

Konsumen yang membeli buah pepaya Ginanjar juga cukup bervariasi. Mulai dari ibu-ibu anak muda, bahkan bapak-bapak.

"Kebanyakan ibu-ibu, bahkan pegawai," cetusnya.

Untuk memperlancar proses jual belinya. Ginanjar tidak hanya membuka lapak di pinggir jalan. Melainkan juga menerima pemesanan untuk konsumen yang berada di sekitar area kota Bima.

"Kadang ada yang minta antar, ya saya antar," ungkapnya.

Meski begitu, Ginanjar tidak ingin menjadi penjual pepaya selamanya. Sebebarnya Ginanjar bercita-cita ingin menjadi penulis.

"Saya ingin menjadi penulis," tutupnya.

Reporter : Amar El Real
Editor      : Furkan AS