Aprodhyte: Perempuan Bandit Berwajah Elok
Cari Berita

Advertisement

Aprodhyte: Perempuan Bandit Berwajah Elok

Kamis, 07 Juni 2018

Ilustrasi Aphrodhite (foto : socimage).
Indikatorbima.com - Aphrodhite. Perempuan. Nakal sekaligus cantik. Penuh pesona. Cerdas berwawasan. Hangat menggairahkan. Gemar bersolek, suka berhias dan banyak memberi, terutama saat di ranjang. Pesonanya di endus banyak pangeran di gunung Olymphus tempat para dewa-dewi tinggal.

Kemolekannya tak terperi berbanding lurus dengan jahat dan culasnya. Perayu ulung. Matanya menembus siapapaun yang memandang. Entah berapa laki-laki sudah ditekuk. Dia bisa tidur dengan siapapun yang ia suka tanpa membayar. Semua yang diidamkan perempuan ada padanya. Banyak yang iri juga memuji.

Ada dua versi aphrodhite meski Plato buru-buru mengklarifikasi bahwa memang ada dua aphrodhite yang berbeda. Tapi keduanya punya kemiripan. Lazimnya sebuah mitos maka tak ada yang sepenuhnya sama sebab selalu dipengaruh oleh cerita yang dikembangkan.

Perempuan dalam konteks gender selalu menagih kesetaraan. Meski
dalam beberapa kasus perempuan justru selalu menang dan mengalahkan. Sekilas terlihat lembut tapi menyimpan kekuatan mematikan dan banyak laki-laki menjadi kurban.

Sebut saja Adam dibuat menyesal dan harus diusir dari surga hanya untuk memenuhi keinginan Hawa yang terus merajuk ingin makan buah khuldy. Nuh juga tak berdaya dengan kekerasan hati isterinya yang terus mengganggunya. Isteri Luth yang menyimpan banyak gundik di rumahnya. Pun dengan Dawud yang harus bersujud selama 40 hari memohon ampunan karena skandal '99 ekor' domba yang dimilikinya. Begitu pula dengan Sulaiman putra Dawud tergolek lemah di kursinya sebelum bertaubat karena angkuh bicara bakal punya anak 100 laki-laki perkasa dari 100 isterinya.

Konon Adam tak bisa tidur dan selalu gelisah hidup sendirian di surga. Sebelum Allah menciptakan Hawa sebagai pasangannya dari tulang rusuknya. Ada perbedaan substansi penciptaan. Adam diciptakan dari tanah liat (min thien -min tthurab) sebagai bahan dasar sebelum tiupkan ruh Allah kepadanya, sedang Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam.

Hawa atau perempuan hanya bagian terkecil dari tubuh laki-laki berfungsi menggenapi tidak lebih. Hawa atau perempuan bisa saja mempunyai kemampuan sebagai seorang Adam atau laki laki tapi tetap saja bagian terkecil yang dimiliki Adam.

Sebab itulah kesaksian dua perempuan setara dengan kesaksian seorang laki laki. Menerima waris setengah dari yang diberikan kepada kaum laki-laki. Shaf terbaiknya adalah di bagian belakang. Aqiqahnnya cukup satu ekor kambing. Dan boleh di poligami.

Berbagai riset dikembangkan untuk mencari hujjah bahwa perempuan itu setara tapi tetap saja perempuan adalah makhkuk marjinal yang dimuliakan. Bahkan saat dimuliakan pun perempuan tetap sebagai penggenap kembali ke awal penciptaannya: tulang rusuk.

Aphrodhite mungkin sadar bahwa ia tak bakal sama. Ia berpikir di luar kotak. Dan ia berhasil mengalahkan atau merendahkan laki laki manapun. Bahkan ayah kandungnya: Zeus juga jatuh cinta. Perselingkuhannya dengan panglima Ares mengacak-acak tata krama para penghuni olymphus.

Panglima yang tidak terkalahkan itu harus mencium kaki Aphrodhite di setiap pagi dan petang. Dan Aphrodhite dengan bangga menjulurkan kakinya yang indah itu dicium panglima perkasa itu. Lalu siapa sebenarnya lebih kuat ...

Penulis : Nurbani Yusuf : @taddarus: 19
Komunitas Padhang Makhsyar