Tanah Pinjaman
Cari Berita

Advertisement

Tanah Pinjaman

Selasa, 01 Mei 2018

Foto : Penulis
Berpuluh tahun ku hidup di kampungku
Menjadi saksi atas tumbuh dan berkembangnya anak cucuku
Menjadi saksi akan rukunnya kehidupan desaku
Menjadi saksi atas damai dan asri alam desaku.

Desaku, hanyalah sebuah tempat kecil yang sederhana
Tidak ada keserakahan dan keberingasan
Tidak ada keculasan dan pembodohan
Semua berjalan pada timbangan yang seimbang.

Berpuluh tahun itu telah berlalu
Kini Keberingasan dan keculasan menjajah
Kediktatoran dan keserakahan menguasasi
Tanah yang kupikir milikku dan penduduk desaku
Hanyalah sebuah “tanah pinjaman”

Mereka merampas, membongkar, dan menghancurkanya
Tanah yang kupikir warisan leluhurku
Yang juga ingin ku wariskan ke anak cucuku
Hanyalah sebuah “Tanah pinjaman”

Tanah itu adalah milik mereka yang berkuasa
Milik mereka yang bermodal

Tinggalah rintihan tak berdaya
Rintihan yang bahkan tak menggetarkan hati mereka
Rintihan yang dipandang nanar
Rintihan yang menjadi tawa bagi mereka

Jadilah kami pegemis pada tanah moyang kami
Jadilah kami gelandangan pada tanah kelahiran kami
Jadilah kami peminta-minta
Lalu mati dan terkubur pada “tanah pinjaman” kami.

Penulis : Miftahul Jannah