PAN dan Politik Dikotomis
Cari Berita

Advertisement

PAN dan Politik Dikotomis

Minggu, 06 Mei 2018

Amien Rais Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). (Foto : Kompas).
Indikatorbima.com - Diantara partai yang ikut, bagi saya hanya PAN yang masih mengusung semangat reformasi meski mulai terseok dimakan pragmatisme politik yang terus menguat. Memang PAN dihadapkan pada dua pilihan sulit, tetap kukuh memegang idealitas dengan resiko tidak mendapat kue kekuasaan atau meninggalkan idealitas sebagai partai reformis dengan harapan mendapat kue kekuasaan.

Dua pilihan sulit ditengah kelimun pragmatisme politik dengan praktik transaksi dan liberalisasi demokrasi yang terus. William Lidle pernah mengingatkan bahwa partai-partai yang kukuh dengan idealitas akan cepat lapuk dan di tinggal, sebut saja Masyumi. Kurang bagus apa cita-cita ideal yang mereka bangun. Tapi para konstituen lebih memilih sekilo beras, gula dan sembako yang dibagi menjelang subuh sebelum 'coblosan', ketimbang cita-cita ideal yang dibanggakan.

Demokrasi kita kehilangan spiritualitas, kehilangan semangat musyawarah dan mufakat, yang ada adalah praktik demokrasi liberal dengan semangat kebebasan tanpa batas.
Demokrasi tidak menjanjikan kesejahteraan, tapi kebebasan, kebebasan bila diberikan kepada masyarakat dengan status ekonomi rendah, akan di jual dengan harga murah.

Amien Rais tahu bagaimana menjaga idealitas PAN sebagai partai reformis dan itu sangat eksotik. Orang boleh bersetuju atau tidak dengan semua statement politiknya, sebagaimana awal pertama kali Amien kemukakan tentang suksesi yang awalnya juga dicela dan dicaci, tapi kemudian isu 'suksesi-kekuasaan' kala itu menjelma menjadi isu yang paling ditakuti Cendana daripada ribuan moncong bedhil yang diarahkan. Dari situlah reformasi politik bergulir dan berlangsung tanpa bantahan.

PAN ada di simpang jalan. Dihadapkan pada realitas dan isu politik yang terus berubah cepat. Harus cekatan dan cerdas agar tak gampang patah apalagi tenggelam di tengah kelimun dan kompetisi politik. Di luaran banyak kompetitor yang senang melihat mati.

Amien Rais tahu betul bagaimana menjaga marwah PAN sebagai partai reformis tetap terjaga dan tidak kehilangan daya ikat dari konstituennya tetap rekat, sebuah pekerjaan yang membutuhkan nalar cerdas. Statement politik partai Allah (hiz-billah) dan partai syaithan (hiz-bus syaithan) tidak harus dipahami secara teologis tapi lebih kepada semangat politik ketuhanan untuk menjaga idealitas dan haluan politik sebagai partai reformasi, atau pernyataannya tentang kooptasi 70% tanah oleh aseng adalah wujud semangat PAN sebagai partai reformis yang tidak jemu merawat dan mengusung semangat prakmatis agar tak kehilangan pemilih.

Keduanya dimainkan utuh tidak dikotomis dipisah tanpa solusi. Disitulah Amien Rais menunjukkan kecerdasannya sebagai maestro politik yang ulet dan tepat bidik. Suka tak suka statement politik Amien Rais selalu menjadi hoot isue. Dan itulah seharusnya politisi sejati yang tak hanya berpikir tentang perut dan kekuasaan semata. Itulah yang kemudian saya sebut bahwa PAN satu-satunya partai yang masih merawat semangat reformasi. Ketika partai yang lain hanya berebut biting dan kekuasaan semata tanpa hijab. Wallahu a'lam

Penulis : @nurbaniyusuf
Penyuka PAN