Mahasiswa dan Gerakan Moral Force "Mahasiswa Tidak Lagi Singa"
Cari Berita

Advertisement

Mahasiswa dan Gerakan Moral Force "Mahasiswa Tidak Lagi Singa"

Senin, 14 Mei 2018

Foto : Agus S. Ismail dan bapak Arji di pelajaran kota Jakarta.
Indikatorntb.com - Seringkali kita mendengar Istilah-istilah yang keren buat mahasiswa. Mahasiswa sebagai The agent of change, The agent of control social, dan The agent of moral force. Istilah-istilah itu sebenarnya bermakna progresif dan aplikatif. Tapi, bisa hanya sekedar teori kalau tidak mampu ditranformasi menjadi sebuah tindakan nyata.

Kami menyadari betul bahwa mahasiswa hari ini tidak lagi menjadi 'singa' dimata masyarakat sebagaimana pendahulu mereka mahasiswa dan aktivis 98. Karena mahasiswa hari ini hanya berorientasi pada tataran teoritis, grand konsep, dan atau bahkan tataran aplikasi sudah mampu dirumuskan sampai pada tingkat operasionalisasinya, hanya saja mereka tersendat karena beberapa alasan tertentu. Artinya hal ini menjadi kritikan penting untuk mahasiswa, bahwa label mahasiswa masih menjadi tumpuan harapan banyak orang di sekitarnya. Bukan berarti sikap apatis masyarakat terhadap fungsi mahasiswa adalah mengingkari keberadaan mahasiswa itu sendiri. Tetapi, pertanyaan 'kemana mahasiswa?' adalah bentuk kegelisahan masyarakat terhadap nilai dan eksistensi mahasiswa sebagai agen perubahan secara aplikatif. Setidaknya kita masih punya harapan untuk membenahi arah gerakan kita, yang mulai 'mati' oleh faktor-faktor X.

Mahasiswa harus membangun rasa dan karsa baru sebagai sebuah nilai yang implementatif. Selain mampu berpidato seperti Soekarno, memiliki analisis yang tajam seperti Hatta, tetapi juga harus mampu bergerilya di lapangan seperti KH. Ahmad Dahlan. Mahasiswa harus mampu mengkolaborasi ke-khas-an tokoh-tokoh revolusioner 'The founding fathers' dan mengejahwantahkan pandangan-pandangan mereka secara massif di lapangan. Mahasiswa harus mampu mengkoordinasikan segala inderanya untuk berpikir, merasa dan bertindak secara nyata untuk orang-orang yang mau mereka perjuangkan.

Dengan rumusan di atas Forum Komunikasi Mahasiswa Bima (FKMB) Ciputat Raya mencoba untuk membuat sebuah 'gerakan moral force' untuk membangunkan kembali kesadaran mahasiswa, bahwa mereka adalah mata, telinga, tangan, dan kakinya rakyat dan orang-orang yang membutuhkan mereka. Setidaknya ini adalah upaya mahasiswa Bima di FKMB Ciputat-Raya untuk mengembalikan tradisi mahasiswa yang hilang.

Penulis : Syamsul Rijal Al-Gholwas