Ketika Jokowi Dilanda Rasa Takut dan Panik
Cari Berita

Advertisement

Ketika Jokowi Dilanda Rasa Takut dan Panik

Minggu, 06 Mei 2018

Presiden Joko Widodo (foto : Suarajakarta)
Indikatorbima.com - Presiden Joko Widodo sudah mendapatkan dukungan sedikitnya 5 partai politik besar, yakni PDI-P, NASDEM, GOLKAR, HANURA dan PPP. Selain itu PKPI dan PSI juga sepakat untuk mengusung Joko Widodo untuk maju menjadi calon presiden periode 2019-2024 mendatang. Belakangan PKB juga telah menyatakan dukungannya, namun dengan syarat ketua umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai cawapresnya.

5 partai besar dan 3 partai lainnya sudah menyatakan sikap untuk mendukung Joko Widodo. Namun Joko Widodo masih saja panik dan takut. Padahal Para Politisi hebat siap siaga mendampinginya kapanpun dan dimanapun ia berada. Sehingga, seharusnya Joko Widodo tidak perlu turun tangan untuk menghadapi situasi politik yang sedang berkembang.

Elektabilitas Joko Widodo berdasarkan hasil polling sementara harusnya menjadi pegangan sementara untuk tetap tenang, berfikir menggunakan akal sehat kembali dalam melakukan kegiatan politik praktisnya.

Selain itu, Joko Widodo hampir punya segalanya, salah satunya adalah kekuasaan. Bahkan KSP pernah digunakan untuk menerima para pemimpin atau kader Partai Politik untuk membahas persiapan dan strategi PEMILU 2019 yang akan datang. Ia sedang berkuasa, ia hampir bisa melakukan apa saja untuk menarik hati rakyat.

Dan sepertinya rakyat memang sudah tertarik dan terikat hatinya oleh kesederhaan dan pencitraan Presiden Joko Widodo. Joko Widodo hampir tidak bisa lepas dari hati rakyat. Rakyat sudah sangat senang dan gembira melihatnya tetap seperti itu. Tapi kenapa Joko Widodo bersama pasukannya harus panik dan takut, hingga mereka tidak bisa membedakan mana kesombongan dan mana kerendahan hati, Bukan kah posisi aman itu ada ditangan mereka?

Kenapa Presiden Joko Widodo dan pasukannya harus bereaksi berlebihan ketika mendengar kata hutang menumpuk, pekerjaan asing menyerbu, ekonomi menurun, infrastruktur ambruk, #2019 ganti presiden, subsidi BBM, listrik atau 2030 Indonesia bubar. Kenapa presiden harus ikut-ikutan ngomong soal itu? Tidak bisakah pasukannya saja yang menanggapi?

Joko Widodo benar-benar panik dan ketakutan. Hal itu benar-benar terlihat dari raut wajahnya ketika berpidato. Padahal serangan politik dari pihak sebelah belum seberapa bahkan sebenarnya bukan apa-apa.

Harusnya pak Joko Widodo lebih banyak diam alias tidak banyak bicara. Harusnya pak Joko Widodo duduk santai sambil minum kopi dan tetap fokus untuk bekerja. Bukan turun gunung dan menjelaskan tentang perekonomian Indonesia yang baik, tentang Infrastruktur yang kuat dan kokoh, tentang hutang yang bisa diatasi, tentang tahun 2030 Indonesia tidak akan bubar, tentang subsidi BBM, tentang lsitrik dan lain-lain. Harusnya semua itu tidak perlu seorang Presiden yang menjelaskan, cukup menteri atau timsesnya saja.

Joko Widodo benar-benar panik dan takut sampai-sampai anak buahnya tidak bisa dikendalikan. Sampai-sampai anak buahnya tidak bisa membedakan, mana percaya diri dan mana kesombongan. Harusnya Joko Widodo menenangkan dan memperingatkan anak buahnya untuk menjaga mulut dan perilakunya untuk tidak sombong dan angkuh. Sebab, hal itu sangat berpengaruh pada Joko Widodo.

Dia harusnya sibuk bekerja, bukan asyik dengan hasil polling sementaranya. Bukan malah menunjukan sikap sombong dan banyak bicara. Joko Widodo harusnya tetap tenang dan berfikir jernih.

Kalau Joko Widodo tetap menunjukan rasa panik dan ketakutannya dihadapan publik, maka penulis sangat yakin, Joko Widodo dapat dikalahkan pada Pemilu 2019 yang akan datang.

Menurut hemat penulis, Ketakutan, kepanikan dan kesombongan adalah sumber kekalahan itu sendiri.

Penulis : Furkan AS