Jika Agama Menjadi Kumpulan Rasa Takut
Cari Berita

Advertisement

Jika Agama Menjadi Kumpulan Rasa Takut

Minggu, 06 Mei 2018

Ilustrasi (foto : Intisari Online)
Indikatorbima.com - Agama bisa menjadi apapun bergantung siapa yang peluk dengan persepsi beragam, termasuk ketika agama direduksi menjadi tumpahan kecewa karena kekalahan bertumpuk. Agama adalah kumpulan rasa takut. Kumpulan para pemurung. Isak juga tangis. Sesal dan entah apalagi. Ratusan ribu orang membenturkan kepala di Dinding Karbala hingga berdarah. Disertai tangis yang dipaksakan atau air mata yang ditumpahkan prematur. Di makam-makam yang dianggap keramat air mata tumpah. Sesal juga lirih suara para pendosa yang mengaku atau deret hajat yang belum juga diijabah.

Di ruang sempit sakramen, air mata bercucuran. Suara berbisik dari pendosa yang mengaku, dan berencana melakukan dosa lagi. Para rahib memagut dupa. Berjalan pada ruang-ruang entah berantah, menafsir penderitaan dan samsara. Pada sajadah kumal yang di gelar, pada tasbih yang terus diputar. Air mata menyesak dada. Hilang diantara rimbunnya kumparan takut.

'Tuhan telah mati .. .. " kata Nitze bersungut kethus seorang tokoh failasuf yang jengkel melihat banyak dosa dilakukan di rumah Tuhan oleh mereka yang mengaku sebagai pelayan Tuhan. Marx tak kalah garang, ia sebut agama sebagai candu sebab ia saksikan begitu banyak korupsi dan kapitalisasi agama justru dilakukan para rahib dan gereja. Pernyataan ke dua failasuf itu memang bukan untuk kita tapi apa salahnya kita juga mawas diri. Agar tak bernasib sama.

Agama memang bergantung pada siapa yang memahami. Wajah yang ditampilkan pun beragam. Tampilan ke-beragama-an mengalami banyak varian. Ada yang kaku sekeras batu. Ada yang lembek selembek karet tak punya prinsip. Ada yang lentur fleksibel.

Setidaknya wajah Yahudi, Nasrani dan Islam mereprensentasi. Yahudi dikenal keras. Rasional dan selalu berdasar untung rugi. Yehofah adalah Tuhan yang suka menghukum dan tak mau memberi ampun. Rasional, tegas meski kadang menjengkelkan. Sapi betina adalah pembuktian betapa rasional dan matre nya umat Yahudi yang mengaku sebagai umat pilihan kekasih Allah, itu adalah kumpulan orang banyak tanya. Selalu berulah dan banyak melanggar.

Berbeda dengan Yahudi. Tuhan Bapa sebagaimana diyakini orang Nasrani adalah Tuhan yang sangat pengasih bahkan merelakan anak satu-satunya untuk dijadikan tebusan dosa waris anak Adam. Isa adalah personifikasi wajah welas mengalah, bila ditempeleng pipi kiri berikan pipi kananmu.

Islam berada diantara keduanya. Sebagai penyempurna, Islam berada ditengah. Tidak berat ke kanan juga tidak oleng ke kiri. Al Islam aw sath - umatan wasathan. Agar kita tetap berada di tengah. Pengadil dan saksi bagi umat yang lain. Islam menganut keseimbangan.

Kabar gembira dan kabar takut hendaknya disampaikan berimbang. Tidak dominan salah satunya. Agar umat bisa utuh mencerna.

Ketika agama dominan kabar takutnya bisa dibayangkan umat akan lari menjauh meninggalkan dunia. Memenuhi sajadah. Memutar tasbih. Tinggal di gunung-gunung. Dan meninggalkan semuanya. Mengejar kesalehan personal. Hidup esoteris.

Sebaliknya ketika dominan kabar gembiranya umat akan sembrono. Membuat gampang dan enggan susah. Dua sikap ekstrim ini kerap menjadi picu konflik kecil-kecil yang terus.

Tuhan selalu dipersepsi menakutkan. Memberi hukuman. Dan tidak bisa senyum. "Aku sesuai prasangka hamba-Ku. Jangan sekali-sekali kalian mati sebelum berprasangka baik kepada-Ku", Jadi Tuhan bergantung prasangka kita. Tuhan yang tinggal dalam pikiran, jiwa dan hati yang kita punya bergantung prasangka yang kita bangun. Memang Tak ada salahnya takut. Sesal atau apapun, tapi jika takut menjadi perasaan kolektif yang terjadi adalah sikap intoleran. Menafikkan semuanya. Cenderung menarik diri. Lari dari kenyataan. Mengejar kesalehan personal tanpa hirau pada sekitar.

Itulah agama. Apapun bisa. Termasuk rasa takut yang dibuat menabalkan iman. Dan siapapun berhak mempersepsi agama sesuai yang disangka. Termasuk perasaan takut. Lalu perasaan kita mana yang dominan terhadap agama: takut, harap atau dekat ... ".

Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar