Euphoria Politik Kader Persyarikatan
Cari Berita

Advertisement

Euphoria Politik Kader Persyarikatan

Sabtu, 05 Mei 2018

Ilustrasi (foto : Raja Juli Antoni).
Indikatorbima.com - Horreeee ... kita boleh berpolitik. Itu kata hati yang lama terpendam. Setelah sekian lama politik persyarikatan mati suri kini siuman kembali. Semoga dibarengi dengan kesadaran penuh bahwa politik adalah jalan terjal, siap kalah dan siap menang. Ini pertaruhan bukan hanya soal berapa ribu KTP di setor, tapi lebih pada soal kondisi psikologis jamaah Persyarikatan termasuk stigma kita tentang apa itu politik.

Kegamangan bersikap juga disertakan pada kalimat klise "diwakafkan" sebuah kalimat bersayap yang "maaf" saya tak suka. Karena 'diwakafkan' juga bermakna pecat atau di usir halus dari Persyarikatan. Dan itu juga soal pemahaman yang harus dirampungkan. Sikap warga Persyarikatan terhadap kader yang memilih jalan politik juga sangat kejam dan diskriminatif. Ini juga pekerjaan berat yang harus segera di pahamkan.

Sikap resmi PWM Jatim mengusung dua calon satu DPD dan satu DPR RI adalah langkah cerdas yang patut di apresiasi dan di dukung secara faktual bukan hanya jargon di atas kertas tapi dilupakan saat bitingan di bilik suara karena silau dengan amplopan yang dibagi fajar menjelang subuh.

Bagaimana pun kita akui bahwa kita tak punya pengalaman dalam soal beginian. Mungkin kita
piawai membangun universitas atau rumah sakit, tapi untuk urusan raihan biting suara nanti dulu. Dan kita perlu melihat realitas politik di masyarakat akar rumput, bukan idealitas yang kita mimpikan. Ini soal biting di bilik suara, bahkan suami dan istri pun, bisa saja beda pilihan, siapa bisa awasi.

Menginstruksikan kader-kader lewat pengajian atau masjid, mushala dan aum lainnya saja juga tak cukup dan akan banyak minta ongkos sosial. Sebab akan menjadi ajang kampanye yang dilarang oleh Bawaslu. Bagaimana ketika di lapangan kita bertemu dengan kader Persyarikatan yang lain yang kebetulan berbeda partai politik. Pasti rentan konflik termasuk lewat partai mana ia harus dicalonkan. Akan muncul polarisasi antara kader politik resmi yang direstui Persyarikatan dan kader swasta yang maju 'karepe dewe'. Belum lagi soal sungkanisme karena faktor persahabatan dan persekutuan keluarga atau kedekatan lainnya.

Kesadaran politik ini perlu dibangun di kalangan pengurus dan penggiat persyarikatan agar tak banyak menimbulkan soal di kemudian hari. Saatnya kita berhati besar dan berlapang dada menerima perbedaan pilihan politik para kader yang telah lebih dulu berkhidmat di partai politik. Sebuah niscaya yang tak bisa di bantah.

"Siapa yang membantah jasamu pada agama dan sambutanmu yang mula-mula, yang begitu besar bagi Islam. Allah telah memilihmu sebagai pembela Allah dan Rasu-Nya. Ke tempat kalian inilah hijrah. Dari kalangan kalian sebagian besar isteri-isterinya dan sahabat-sahabatnya, posisi itu hanya ada pada kalian setelah kami. Karena itu, maka kamilah para Amir dan tuan-tuan para Wazir. Kami tak akan meninggalkan Tuan dalam musyawarah dan tak akan memutuskan sesuatu tanpa Tuan-tuan".

Pidato yang sangat memukau, menghantarkan Abu Bakar ra ke kursi khalifah. Abu Bakar ra telah bekerja keras dan berani masuk pada pusat konflik dan ia memenangkan petarungan, kursi khalifah di genggam meninggalkan Ali ra yang menggerutu karena merasa ditilap duduk disamping jenazah Rasulullah, pesan nya adalah : politik adalah kerja keras dan 'keluar-rumah'. Bukan duduk berpangku berharap jabatan menjemput.

Di lapangan kita akan berhadapan dengan para mafiosso yang terdiri dari para makelar dan broker politik dengan pasar taruhan ratusan milyar sebab politik telah puluhan tahun menjadi industri. Dan kita lambat menyikapi. Atau bahkan tak paham sama sekali. Dan saya punya banyak teman yang bekerja profesional dalam urusan bitingan dan kemana suara di berikan di bilik suara. Politik itu memang manis .. semanis aroma maghafir .. harum tapi menyakitkan.

Jargon bahwa Muhammadiyah tidak berpolitik praktis juga harus segera kita rekonstruksi. Bahwa politik itu kotor dan jahat karenanya harus dijauhi, juga segera di tata ulang. Ini penting sebab menyangkut kesadaran kolektif warga Persyarikatan yang sudah kadung patuh pada stigma bahwa politik itu dosa. Wa laa taqrabu 'politik' innahu kaana fa khisyatan maa'as sabiila.
Wallahua A'lam

Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar