Doktor Muda Asal Bima Soroti Pendidikan di Bima, 4 Aspek ini Perlu Pembenahan
Cari Berita

Advertisement

Doktor Muda Asal Bima Soroti Pendidikan di Bima, 4 Aspek ini Perlu Pembenahan

Sabtu, 19 Mei 2018

Foto : Dr. Heldy Ramadhan Putra Pembangunan doktor termuda program studi manajemen pendidikan UNJ Jakarta.
Indikatorbima.com - Heldy Ramadhan Putra Pembangunan (26) tahun doktor termuda program studi manajemen pendidikan asal Bima menyoroti problematika pendidikan di Indonesia khususnya di Bima. Menurutnya ada 4 aspek pendidikan yang perlu pembenahan, yaitu sarana dan prasaran pendidikan, guru, Leader Member Exchange dan pergantian kepala daerah yang berefek pada pergantian kepala sekolah, Sabtu (19/05/18).

"Pendidikan secara konstitusional adalah tanggung jawab negara, namun pendidikan secara moral adalah tanggung jawab pelaku pendidikan itu sendiri," kata Heldy yang baru saja menyelesaikan gelar doktor program studi manajemen pendidikan di di UNJ Jakarta ini.

Baca : Hebat! Putra Asal Bima Jadi Doktor Di Usia 26 Tahun, ini Motivasinya

Menurut Heldy Ramadhan Putra Pembangunan yang saat ini sedang mengajar mata kuliah Supervisi pendidikan, teori sistem, manajemen sekolah, profesi tenaga pendidik dan kependidikan, metodologi penelitian sebagai Asisten Dosen Prof. Dr. Mukhneri Mukhtar, M.Pd di Universitas negeri Jakarta ini mengatakan bahwa, pendidikan di Bima sudah cukup bagus, namun ada beberapa aspek yang perlu dibenahi demi meujudkan pendidikan yang berkualitas.

"Secara komprehensif, saya kira pendidikan di Bima sudah cukup bagus, walau memang perlu adanya pembenahan dibeberapa aspek," katanya kepada Indikator Bima.

"Fokus guru terhadap profesinya, Leader Member Exchange yang perlu dijaga, sarana dan prasaran yang belum maksimal dalam menopang aktivitas dilingkungan sekolah, ganti kepala daerah biasanya ganti pula kepala dinas sampai kepada kepala-kepala sekolah," lanjut alumni mahasiswa IKIP Mataram ini.

Hal itu katanya, menjadi penghambat bagi tiap-tiap kepala sekolah dan warga sekolah untuk memaksimalkan produktifitas sekolah.

"Saya rasa ini menjadi tidak maksimal karena ada renstra yang harus dimaksimalkan oleh tiap-tiap kepala sekolah dan warga sekolah dalam meningkatkan produktivitas disekolahnya," tuturnya lagi.

Oleh karenanya untuk mengatasi permasalahan tersebut, Heldy mengatakan bahwa pemerintah perlu memperhatikan dan meningkatkan kesejahteraan guru. Agar guru lebih maksimal dalam melaksanakan profesinya sebagai seorang guru tanpa sibuk mencari penghasilan ditempat lain.

"Kesejahteraan guru perlu diperhatikan oleh pemerintah, karena saya melihat begitu banyak guru yang mencari penghasilan tambahan ditempat lain sehingga guru tidak begitu maksimal dalam menjalankan profesinya sebagai seorang guru, baik dalam penyusunan RPP, berprilaku inovatif, atau bahkan memunculkan OCB dalam lingkungan sekolah," jelasnya.

Selain itu, menjaga kualitas hubungan antara kepala sekolah dengan para guru-guru sangat diperlukan dalam hal ; (a) komunikatif, (b) kepala sekolah harus mampu menghasilkan keputusan yang partisipatif, (c) kepala sekolah harus mampu menjalankan EMASLIM (Edukasi, Manajer, Administrator, Supervisor, Leader, Inovator, Motivator).

Sementara itu, terkait sarana dan prasarana pendidikan Heldy mengakui bahwa anggaran untuk pendidikan masih sangat terbatas, semuanya butuh proses. Oleh karenanya kepala sekolah dan guru harus mampu menganalisis kebutuhan di sekolahnya.

"Untuk sarana dan prasarana sy kira memang butuh proses dengan keterbatasan anggaran, kuncinya adalah bagaimana memaksimalkan sumber daya yang ada. kepala sekolah dengan guru harus mampu menganalisis kebutuhan yang ada disekolahnya," terangnya.

"Tapi kembali lagi, mengubah pendidikan itu tidak seperti mengubah arah speed boat tetapi mengubah pendidikan seperti mengubah arah kapal tanker, butuh waktu, sumber daya, dan lain-lain (begitu kata pak Anies Baswedan) yang sy kutip," tutupnya.

Reporter : Furkan AS
Editor : Fuad D Fu