Bima Dalam Ancaman, "Bima Ramah" Akankah Jadi Harapan?
Cari Berita

Advertisement

Bima Dalam Ancaman, "Bima Ramah" Akankah Jadi Harapan?

Kamis, 10 Mei 2018

Foto : Penulis

Indikatorbima.com - BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris) melabelkan Bima sebagai zona merah dan ditempatkan sebagai sarang teroris (2016-2017). Bukti datanya jelas, karena disetiap ada aksi penangkapan pasti salah satu dari pelaku tersebut berasal dari Bima-Nusa Tenggara Barat.

Setidaknya, pasangan mereka berasal dari Bima. Bahkan disinyalir bahwa istri Santoso sebagai jaringan utama teroris Internasional-Indonesia adalah perempuan asal Bima. Artinya relasi sosio-historis antara Bima dan Poso sangat kuat.

Menurut penelusuran kami, dengan mendialogkan dan menverifikasi keadaan Bima dari historositasnya, memang Bima menjadi salah satu wilayah tumbuhnya corak berpikir yang radikal. Terbukti pada tahun-tahun awal kemerdekaan sekitar 1959 terjadi pengeboman yang terjadi disekitar wilayah Semanggi, sebagai upaya untuk membunuh presiden Soekarno pada saat itu, aktornya adalah orang Bima. Sikap itu diambil untuk memberikan respon terhadap acak adulnya politik kenegaraan. Kelompok tersebut tidak dapat menerima percampuran ideologi Islam dengan komunis yang dengan terang-terangan bertentangan.

Menurut kesaksian dari seseorang yang kami datangi untuk mengkonfirmasi kondisi terkini Bima, beliau menceritakan bahwa kebenaran Bima dalam posisi tidak aman didukung oleh data-data yang cukup.

Pertama, beliau paparan bahwa dua orang dari dosanya dan masih ada hubungan saudara dengan masuk ke dalam jaringan santoso.

Kedua, pernah terjadi khatib jum'at diturunkan, hanya karena membicarakan persoalan tafsiran tentang kalimat lita'arafu dengan pendekatan sosial yang matang.

Ketiga, maraknya indikasi-indikasi pengajian yang mengajarkan tentang kebencian terhadap sesama manusia yang berbeda keyakinan dan agama.

Terakhir adalah tertangkapnya seorang yang diidentifikasi sebagai teroris di jalan baru desa Dore dan desa Talabiu.

Selain persoalan-persoalan pemahaman keagamaan yang potensial memunculkan konflik horizontal maupun vertikal. Masyarakat Bima sedang mengalami masa transisi sosial dari masyarakat pertanian dan masyarakat dagang yang sopan dan kesantunanya terjaga menjadi masyarakat politik yang ganas, emosional dan kehilangan jati dirinya.

Sehingga mereka tidak terkontrol dan cenderung untuk mengambil jalan kekerasan untuk menyampaikan aspirasi. Kekerasan tidak hanya dijadikan sebagai alat intimidasi politik, tetapi justru mengakar seolah menjadi budaya.

Keganasan menjadikan Bima suatu hari nanti sebagai hutan rimba yang bermental barbar dan dari situlah kanibalisme akan berlaku. Manusia Bima yang muncul dikemudian hari adalah zombie dan vampir yang akan mencari mangsa, kemudian mangsa tersebut berubah jadi aktor penyebar virus anarkisme. Pola-pola kekerasan yang mengakar sebagai legitimasi politik, akan berujung pada lahirnya generasi preman dikemudian hari. Gejala ini harus dipangkas, supaya Bima menjadi daerah yang matang.

Selain itu, ketertinggalan daerah Bima dibandingkan dengan daerah lain di NTB itu relatif jauh, Daerah Bima masih menjadi daerah termiskin dengan pendapatan perkapitanya sangat rendah, sekitar 300-5000 perhari.

Padahal aspek sumber daya alam kita sangat unggul dibandingkan daerah yang lain di Indonesia. Bima punya komoditas pertanian yang unggul, bawang, garam, padi, kedelai, kopi dan bahkan sayur mayur. Begitupun dengan pariwisata, pariwisata Bima banyak sekali, pantai Pink, pantai Wane, pulau Ular, Doro sangiang, Lawata, Kalaki, ditambah lagi tempat pariwisata Internasional yaitu Tambora.

Hanya saja kita belum mampu untuk mengelola sumber daya alam itu dengan baik. Dinas pariwisata malah menaikkan anggaran untuk pacuan kuda yang notabene disusupi kegiatan perjudian. Sedangkan komoditas-komoditas pertanian kita dibuatkan atau dicarikan pasar yang besar untuk hasil para petani.

Bima memiliki kelemahan yang sangat mendasar. Bima tidak memiliki brand, sehingga orang di luar mengenal dengan baik Bima dan indentitasnya. Branding sangat perlu untuk pergaulan yang lebih luas, sehingga Bima tidak hanya dikenal dengan konflik antar kampung. Walaupun itu adalah pengaruh stigma media yang berpikir bisnis (kapitalisasi informasi).

Tetapi setidaknya, pemerintah berpikir dengan matang Bima mau diarahkan ke mana. Misalkan, Bima sebagai sektor pertanian, peternakan, Daerah pendidikan, atau daerah politik. Tetapi dari pilihan itu tentu memiliki konsekuensi, yaitu pemerintah harus terus mendorong masyarakat agar mereka bekerja bersama-sama mewujudkan brand tersebut dengan program-program unggulannya.

Pola pikir elit dan masyarakat awam Bima sudah banyak terkontaminasi oleh corak pemberitaan media massa yang sering menampilkan tragedi dan komedi politik. Demikian, dapat disaksikan bahwa elit dan masyarakat Bima seringkali membincangkan politik sebagai ekspresi pengetahuan mereka.

Hasil survei kecil-kecilan yang penulis lakukan ketika pulang ke daerah 95% bahan perbincangan masyarakat Bima berbau politik pragmatis. 78% orientasi pembicaraannya tentang politik adalah kekuasaan dan uang. 5-12% masyarakat membicarakan soal pengembangan sumber daya manusia, budaya, pendidikan dan sektor sentral lainnya. Sedang 10 % persennya tidak berbicara apapun soal politik. Jika dilihat perbandingan begitu jauh perbandingannya.

Lalu konsep "Bima Ramah" sudah sejauh mana aplikasinya? Bima Ramah, kemungkinan besar hanya akan menjadi slogan nihil makna dan tidak aplikatif. Sama halnya dengan NAWACITA nya Jokowi. Tidak berefek bagi masyarakat, bahkan pada saat konflik terjadi antara dadi ou dengan beberapa daerah di kecamatan Woha, antara masyarakat Talabiu dan Brimob seolah mengubah slogan menjadi BIMA MARAH.

Itu artinya aplikasi Bima ramah dari grand konsep menjadi sebuah program belum terlaksana secara maksimal. Transformasinya belum matang, sehingga Bima Ramah hanya jadi lelucon.

Bima Ramah terbukti tidak menjadi konsep baku yang aplikatif adalah ketika saya mengusulkan untuk membuat sebuah pencanangan program MAGRIB MENGAJI sebagai sebuah upaya untuk membentuk generasi hebat masa mendatang. Generasi emas Bima dan juga generasi emas Islam, karena antara Bima dan Islam tidak dapat dipisahkan. Program MAGRIB MENGAJI sebenarnya adalah untuk sebuah program yang berupaya untuk mengintegrasi semua jenjang pendidikan, agar nuansa pendidikan dikelas secara Islam. Dan Al-Qur'an dijadikan sebagai modal besar generasi Bima.

Karena orang Bima di luar daerah terkenal dengan mantapnya membaca Al-Qur'an. Kemudian selain itu memberikan tambahan fungsional terhadap TPQ dan gurunya supaya mampu mendesain program-program yang bagus untuk anak-anaknya. Bahkan Masjid menjadi tempat yang diharapkan untuk bekerja membangun generasi emas Bima. Kalau seandainya Bima Ramah mengarap program itu secara masif, maka Bima Ramah menjadi lebih aplikatif. Tapi nyatanya tidak sama sekali.

Bima Ramah sesungguhnya masih bias dan jauh dari harapan!!!

Gubuk peradaban, 10 Mei 2018
Penulis : Syamsul Rijal Al-Gholwasy