Agama Kami Tak Mengajarkan Teror
Cari Berita

Advertisement

Agama Kami Tak Mengajarkan Teror

Rabu, 23 Mei 2018

Ilustrasi (foto : sketsanews)
Indikatorbima.com - ISIS mengumbar kekejaman atas nama Islam tapi berbalik dikecam sesama teroris. Al Qaeda marah dan mengecam tindakan brutal dan biadab yang mereka lakukan. Ditempat asalnya, ISIS juga tak mendapat dukungan bahkan terpojok dan diusir. ISIS butuh basis baru yang aman dan leluasa bergerak setidaknya mendapat perlindungan dan simpati. ISIS lahir dari konspirasi buruk. Indonesia salah satunya yang banyak dilirik kelompok-kelompok kecil yang beringas.

Teror sama sekali tak berkait dengan ajaran Islam. Sebuah tindakan yang bermula dari orang yang merasa sakit karena dizalimi kemudian bertindak mencari pembenar pada sesuatu yang di imani dan agama menjadi cara paling mudah sebagai pembenar. Siapapun bisa melakukan kekerasan tidak penting dari agama atau manhaj apapun.

Dan Indoenesia akan dengan mudah tercabik dan koyak seperti Lebanon, Syuriah atau Iraq. Kita akan saling menghancurkan sesama muslim. Sebab kita tak punya musuh yang nyata, musuh kita sebenarnya adalah hantu radikalisme, hantu merasa benar sendiri, dan hantu merasa takut dimangsa teman seiman.

Sebenarnya kita ini mau perang melawan siapa? Medan tempur yang mana atau kepada siapa moncong laras bedhil mau kita arahkan. Setiap hari kita tak henti membincang tentang musuh Islam, tapi tak jelas siapa musuh islam itu? Siapa ? Dimana ?

Nyatanya kita hanya sibuk baca berita hoax yang disebar entah oleh siapa dengan tujuan dan maksud yang kita juga tak pernah tahu. Lantas kita tetapkan ada musuh Islam yang mau mengancam, di iringi pidato riuh diatas mimbar tentang musuh Islam. Berbagai dalil dan hujjah tentang lazimnya jihad ketika Islam dalam keadaan terpuruk.

Lantas kita keluar dari majelis dan sibuk mengamati mencari musuh di jalan, di mall, pada toko swa-layan, pada produk Yahudi dan sekelompok mata sipit yang merebut pekerjaan, pada kapitalis yang menguasai hajat hidup orang banyak, pada masjid yang katanya dhirar atau pada halaqah yang katanya intoleran. Itulah deret musuh yang harus di lawan, konon pada mereka itulah jihad harus ditegakkan, pikiran-pikiran ini demikian menghantui, melahirkan ketakutan, kecemasan dan paranoid akut. Lantas siapapun yang berbeda dianggap musuh meski berada dalam satu shaf saat shalat.

Dalam setiap peperangan Rasulullah saw melarang mencemari air, membunuh orang tua, wanita dan anak-anak, melindungi tempat ibadah dan fasum lainnya, pendeta rahib dan kitab suci bahkan meski sekedar memindah rupaka dalam gereja pun tak boleh. Bahkan Al Quran juga melarang umat Islam berdebat dengan ahli kitab kecuali dengan cara yang baik dan santun. Tidak boleh merendahkan apalagi menghinakan ke-imanan dan kepercayaan yang dianuti. Dan jangan pernah lupa, Rasulullah pun di sayangi dan dirawat pamannya Abu Thalib yang masih kafer hingga ajal.

Jujur selama hampir setengah abad lebih menjadi muslim tak pernah keluar dari lisan para Guruku tentang ajaran apalagi suruhan untuk dendam dan kebencian. Kami juga tidak diajari mencegah munkar dengan cara membunuh. Tak seorang pun berhak memaksa orang lain mati. Apalagi dengan cara yang tidak sportif. Sayidina Ali ra pernah mengurungkan niatnya membunuh lawan di medan tempur, sebab tak ingin mengotori niat jihadnya dengan amarah dan dendam karena wajahnya yang di ludahi oleh musuhnya.

Malam hari Shalahuddin Al Ayyubi menyelinap ke tenda lawan tandingnya Richard Leon Heart yang dikabarkan sakit. Dia bawakan beberapa ramuan dan memastikan sehat pada esuk harinya. Perang harus tetap terjaga dari kecurangan dan main belakang.

Agama kami tak membenarkan intimidasi apalagi teror. Tidak ada paksaan untuk memeluk agama Islam (laa ikrahaa fid-dien) sebab sudah jelas mana yang benar dan mana yang bathil. Jihad atau perang harus ditetapkan bersama (negara-khilafah) bukan person atau kelompok yang mengatas namakan umat Islam kemudian bertindak sendiri membunuhi siapapun yang dianggap penghalang. Ini Islam milik bersama bukan sekumpulan kecil yang merasa paling benar ... ". Wallahu a'lam.

Penulis : @taddarus 6 masjid Banyubening Gunungsari-Batu