Teologi Pemaafan Terhadap Penista Agama
Cari Berita

Advertisement

Teologi Pemaafan Terhadap Penista Agama

Jumat, 06 April 2018

Ilustrasi (foto : Kabarin)
Indikatorbima.com - Dahulu yang mulia Rasulullah saw pernah melaknat suatu kaum (Empirium Kisra Persia dan beberapa dusun di Arab bani Muhdhar agar diberi paceklik seperti paceklik Yusuf. Melaknat: Rihyan, Ri'il dan Dzakwan karena menghina syariat Islam) namun dilarang setelah turun firman Allah Ta’ala: "Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran [3]:128).

Sebagian ulama berpandangan kepada hadits Aisyah bahwa Nabi saw hanya memberi pemaafan kepada orang-orang yang menghina diri beliau secara personal tapi tidak ada maaf bagi mereka yang menghina syariat Islam. Logika ini sekilas terlihat benar tapi akan berdampak serius terhadap keutuhan konsep syariat Islam (Allah, Al Quran dan Nabi saw adalah satu kesatuan utuh syariat Islam yang tidak boleh dipisah).

Nabi saw adalah bagian syariat Islam yang sangat urgen. Menghina Nabi saw juga sama dengan menghina syariat Islam secara keseluruhan. Maka memisahkan Nabi saw dari keutuhan syariat Islam karena alasan pemaafan hanya berlaku terhadap diri Nabi saw adalah batil. Sebab Nabi saw dengan syariat Islam tidak boleh dipisah, tapi satu kesatuan utuh yang tunggal. Menghina Nabi saw juga bermakna menghina syariat Islam secara keseluruhan. Jadi tak ada alasan bahwa pemaafan hanya karena bersangkut dengan diri Beliau saw semata.

Adapun Doa Nabi saw kepada Kisra Persia hanya berlaku sekali setelah itu dimansukh. Pun dengan doa-doa lainnya yang diucapkan spontan: Semoga tanganmu berdebu. Semoga putus lehernya. Semoga umurnya tidak bertambah dan semoga perutnya tak pernah kenyang". Semua akan berbalik menjadi rahmat bila yang di doakan tidak berhak mendapat doa itu.

Ada begitu banyak riwayat yang menjadi bukti kasih sayang Rasulullah saw kepada seluruh umat manusia. Riwayat ini sekaligus membuktikan bahwa Islam merupakan agama damai, menyelamatkan, dan tidak sedikit pun identik dengan perang, pedang, darah, dan pertaruhan nyawa.

Salah satu riwayat tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam kitab Shahihnya meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah ra yang bertanya kepada Nabi saw, “Ya Rasulullah, laknatilah orang-orang musyrik itu.”

Mendengar kalimat yang diucapkan oleh salah satu sahabat mulianya itu di depan kaum kafir, musyrik, para penentang dakwah dan penista syariat lainnya, Nabi saw tersenyum lembut. “Sungguh,” jawab beliau amat santun: 'Aku diutus bukan untuk menjadi tukang laknat. Aku hanya diutus sebagai pembawa rahmat, dan kasih sayang.”

Bukankah riwayat tentang mendoakan keburukan dan melaknat sudah dihapus. Bukankah orang kafer dan musyrik adalah para kawanan penista agama. Apa ada penghinaan yang lebih hina ketimbang yang mengatakan bahwa Allah taala punya anak. Bahwa Allah punya sekutu dan berserikat. Orang-orang kafer mendustakan ke-nabi-an. Dan menyebut nabi sebagai tukang sihir dan orang gila. Mereka menghina Al Quran dengan menyebut kumpulan syair.

Marah kah Nabi ketika agamanya dihina dan di dustakan kaum-nya. Sebagaimana Nuh, Luth atau Dzun Nun yang 'purik" dan berdoa untuk kebinasaan kaumnya. Apakah Nabi saw menerima tawaran Jibril as untuk mengazab kaumnya yang mendustakan dan mengihina risalahnya. 'Kalau mereka dibinasakan kepada siapa aku berdakwah .. jawab nabi kepada Jibril as.

Berkaitan dengan konfirmasi Ummu Sulaimm terhadap doa Nabi saw agar umur putrinya tidak bertambah Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya aku telah melakukan perjanjian dengan Allah. Aku mengatakan bahwa sesungguhnya aku ini manusia biasa. Aku kadang suka sebagaimana orang biasa suka, dan aku juga kadang marah sebagaimana orang biasa marah. Jadi barangsiapa yang aku doakan buruk sementara ia tidak layak menerima doa itu, maka doa tersebut akan berbalik terhadapnya menjadi pembersih, penumbuh, dan pendekat dirinya kepada Allah di hari kiamat kelak’.” (HR Muslim).

Masya Allah ...... itulah kelembutan baginda Nabi saw kepada umatnya. Sholu 'alaih .. Ya Rasulullah ...

Penulis : @nurbaniyusuf
PADMA-Community