Politik Caci Maki Vs Politik Santun Ala Jokowi
Cari Berita

Advertisement

Politik Caci Maki Vs Politik Santun Ala Jokowi

Selasa, 03 April 2018

Presiden Jokowi (foto : Detik.com)
Indikatorbima.com - Saya berharap ada calon Presiden yang merancang visi Indonesia 2030 atau 2050 dan bukan calon Presiden baper, yang mengumbar keluh kesah seperti kumpulan orang-orang panik yang tak punya visi kemudian membabi buta menyerang lawan politik dengan cara tak patut.

Bukan soal berapa banyak hutang dihitung mestinya ada Capres yang bicara soal bagaimana membangun tanpa ngutang atau tentang cara cepat membayar utang tanpa ngutang. Harusnya ada calon Presiden yang bicara tentang sirih berbuah durian. Ayam betina bertelur lima atau sepuluh kali sehari. Atau air tercurah di setiap rumah-rumah.

Apakah ada korelasi antara wajah ndeso dengan sikap ke-diktator-an seseorang. Apakah yang macak kota lantas tidak ada peluang untuk bersikap yang sama. Apakah orang-orang yang macak ndeso selalu diktator dan apakah yang selalu 'paezz' berdandan parlente identik dengan sikap demokrat, toleran atau entah apalah. Dan saya menyesal bila pernyataan demikian malah keluar dari lisan seorang guru besar. Saya pikir ini menyinggung perasaan saya dan orang orang lain yang berawal dari desa lantas dikorelasikan dengan diktator.

Beragam cara dilakukan untuk memotong jalan. Berbagai isu ditebar bahkan kata kata yang sangat buruk muncul dari lisan para politisi yang mengaku menjuangkan kepentingan tegaknya agama Islam. Lantas banyak orang bertanya apa benar dengan cara dan prilaku seperti itu Islam hendak ditegakkan. Apakah Islam bisa tegak dengan caci maki dan sumpah serapah.

Mungkin kita tak suka dengan Jokowi atau karena faktor 'kebelet' ingin berkuasa sehingga tak sabar menunggu ritual lima tahunan. Maka apapun dilakukan untuk menyerang Jokowi. Plonga-plongo, klemar-klemer, darahnya mengandung PKI, ngibul, pemimpin penipu hingga wajah ndeso tapi diktator atau pemimpin goblok mental maling atau apapun perkataan buruk dan merendahkan. Hal-hal yang bersifat sangat personal dan privasi pun kita umbar untuk membuat nya tampak semakin buruk.

Tumpah ruah pidato bernada menghina semakin riuh. Caci-maki, sumpah-serapah, hasud dan dendam, saya prihatin kenapa sikap demikian kian meruak diantara kita. Tak perduli lagi siapa lawan siapa kawan. Semua cara dilakukan asal tujuan tercapai. Para penganut Machiaveli tumbuh subur tak hirau pada norma dan kesantunan.

Entah sejak kapan kita menjadi kawanan penista yang suka menghardik dan mencela dengan alasan nahy munkar. Lantas melaknat dan mencela siapapun yang tak sama dengan kita punya pandangan. Apa dengan alasan nahy munkar itu lantas semua caci dan maki dihalalkan. Membalas hoax dengan hoax, fitnah dibalas fitnah, bully dibalas bully , apakah ini yang kita pahami dengan qishas,

Jokowi tidak pernah melakukan itu, jangankan membalas, menjawab pun tidak. Mestinya kita malu. Setidaknya itu yang saya tahu, perkara dibelakang layar ada perkiraan atau dugaan melakukan ini dan itu saya tak tahu. Yang saya tahu Jokowi tak pernah pidato dengan mencela dan menyerang privasi lawan politiknya. Bahkan Tetap santun berkata. Tetap klemar-klemer. Cuek dan tertawa gaya ndeso. Dan tersenyum lembut . Meski kita tak pernah tahu bagaimana hatinya. Atau akan membalas dengan cara yang kita tak duga.

Itulah politisi matang. Tidak mudah gupuh, tidak mudah kemrungsung, tidak mudah emosi dan tidak menunjukkan marah di depan publik. Dan itu yang banyak disuka. Banyak mengundang simpati. Gerakannya sulit dibaca lawan dan kesempatan sekecil apapun untuk memperkuat posisi. Mengkalkulasi dan menghitung konstelasi politik dengan cermat, hemat energi karena pertempuran sesungguhnya belum di mulai. Sementara politisi lain sibuk melakukan akrobat dan boros energi dan loyo saat bertempur beneran. Ejakulasi politik prematur saya bilang.

Sejak mula saya bukan pendukung Jokowi apalagi memberi suara pada bilik suara. Saya tidak suka sejak awal. Hanya bedanya saya tidak pernah mencela apalagi nmemfitnah orang yang tidak saya suka. Saya hanya mencoba berpikir obyektif meski tak selamanya bisa. Setidakknya saya tidak membenci orangnya tapi membenci perbuatan nya.

Darurat politik santun. Politisi muslim saatnya memberi teladan bukan malah menjadi sumber masalah. Bukankah kita punya Shalahuddin Al Ayubi meski berseteru berat dengan Richard Leon Heart tetap bersahabat dan saling menolong meski esok hari kembali bertarung satu lawan satu. Tidak cukupkah contoh itu.

Penulis : @nurbaniyusuf
PADMA-Community