Perempuan dan Perjuangannya
Cari Berita

Advertisement

Perempuan dan Perjuangannya

Kamis, 19 April 2018

Sumber foto dari penulis langsung
Indikatorbima.com - Makhluk cipta tuhan, penuh kelembut hatinya, penyabar jiwanya yaitu makhluk yang disebut perempuan. Manusia dengan jenis ini adalah salah satu bagian pelengkap atau pasangan bagi jenis yang satunya kaum pria. pada hakikatnya perempuan adalah makhluk yang sama seperti pria, sama-sama berakal, budi pekerti dan sebagai khalifah bagi manusia. Akan tetapi perempuan sering kali dianggap lemah oleh kaum adam begitu pula kontruk berfiikiran masyarakat.

Kaum perempuan sebagai makhluk yang lemah lembut daripada kaum pria, sering kali mendapatkan tempat di bawah atau bisa di bilang tidak sebanding dan sepandai kaum pria. Mereka selalu bertempat di bawah bayang-bayang lelaki yang dianggap lebih kuat fisiknya dari pada perempuan. Banyak yang beranggapan itu adalah kodrat perempuan sebagai makhluk hidup, selalu melayani dan menjamu laki-laki.

Konstruk berfikir seperti itu di anggap benar oleh kebanyak masyarakat dan tidak terbantahkan lagi bawasannya perempuan itu lebih lemah daripada laki-laki. Pengotakan hal seperti dengan mudah diterima oleh kaum hawa sebagai makhluk hidup, dengan sendirinya perempuan derajatnya ada dibawa kaum adam.

Tidak adanya pertentangan antara konstruk berfikir masyarakat terhadap perempuan sudah menjadi hal bisa di kalangan makhluk hidup. Bawasannya sejati perempuan hidup dirumah bergulat dengan dapur dan rak piring yang berserakan, bersih-bersih rumah, dan mengurus anak. Ini yang jadi pandangan masyarakat luas. Konstruk berfikir seperti ini adalah salah, karena perempuan juga memiliki hak-hak sepertu hak politk, sosial, dan ekonomi terhadap dirinya sendiri sebagai makhluk hidup dan menuntu emansipasi atau kesamaan keadilan hak dengan pria.

Pemahaman tersebut terhadap perempuan sudah cukup lama terjadi. Perkembangan industrialisasi abad 17 dan 18 secara radikal telah mengubah tatanan lama di dalam hubungan keluarga. Dulu kala, sebelum munculnya kepemilikan atas alat produksi dan pembagian masyarakat kelas, perempuan dan laki-laki terlibat dalam proses produksi secara setara, dan punya hak yang sama. Namun, akibat kepemilikan pribadi-lah perempuan terlempar pada kerja rumah tangga dan berkutat di dalamnya.

Memasuki epos kapitalisme yang barbar ini, “kodrat” perempuan yang semula berkisar antara kasur-dapur-sumur, menjadi seorang putri-istri-ibu, lengkap beserta kerja domestiknya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berkerja sebagai buruh dan meski upah yang di dapatnya tidak lebih tinggi dari laki-laki, walaupu porsi jam kerjanya bisa di bilang sama. Dalam logika kapitalisme, pada saat yang sa ini mengembalikan kau perempuan kedalam proses produksi tradisional, yakni bertugas menyiapkan tenaga buruh yang prima, dan generasi yang bisa menjadi cadangang tenaga murah dimasa depan.

Perempuan sebagai warga kelas dua di dalam kelompok masyarakat. Didalam sebuah gerakan pun acap kali perempuan di pandang sebagai elemen yang terbelakang kesadaranya dan mengedepankan perasaanya daripada otak. Di muka bumi ini gerakan perempuan tidak pernah mengalami keseragaman, antara negara satu dengan negara yang lain. Memilik pola yang kadang berbeda, bahkan ambivalen.

Feminisme sebagai sebuah isme dalam perjuangan gerakan perempuan juga mengalami interpretasi dan penekan yang berbeda di beberapa tempat. Bahkan di setiap negara gerakan feminisme memiliki ide dan gagasan tersendiri. Mereka tidak terlalu setuju yang mengatakan bahwa dengan akses seluas-luasnya bagi perempuan di ranah publik, akan memberi dampak yang menimbulka sosial dan hak-hak perempuan sebagai ibu, istri, dan pekerja.

Peristiwa seperti ini juga terjadi di Indonesia waktu masa kolonial belanda. Kolonial belanda melakukan politik etis terhadap bangsa Indonesia dengan maksud meninggikan daya beli rakyat Hindia Belandan, serta menghasilkan buruh-buruh murah dan birokrat rendahan yang cukup terdidik dari rakyat tanah jajahan. Belanda harus menekan biaya produksi kapitalisme di tanah jajahan, karena mereka menganggap kalo menggunakan tenaga impor akan terlalu banyak pengeluarnya. Alhasil belanda mendirikan sekolahan Belanda yang hanya bisa dirasakan oleh elit pribumi dan menghasilkan sekumpulan orang-orang muda yang berpendidikan.

Pencerahan menggugat orang-orang muda untuk berkumpul, berbicara, berdiskusi dan menentukan. Lahirlah organisasi yang di beri nama BUDI UTOMO pada tahun 1908. Namun, jauh sebelum priyayi terdidik, jawa mengumumkan budi utomo sebagi gerakan perlawanan terhadap Belanda dan telah dimulai dimana-mana. Akan tetapi bukan untuk pembebasan Indonesia, karena belum lahir sebagai sebuah realistas, tapi untuk membebaskan tanah luhur, gunung-gunung, bukit, sungai, pulau dan rakyatnya. Karena dulu belum menjadi negara satu kesatuan.

Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia, Christina Martha Tiahahu bersama Kapitan Pattimura, Emmy Saelan mendampingi Monginsidi, serta Roro Gusik bersama Surapati. Lalu ada Wolanda Maramis dan Nyi Ageng Serang adalah beberapa tokoh perempuan pergerakan untuk ikut membantu meraih kemerdekaan, mereka juga tegolong kaum bangsawan. akan tetapi belum ada gagasan untuk kesetaraan gender. Berkaca dari sejarah nasional, sejatinya peran seorang perempuan dalam perjuangan kemerdekaan dan pendidikkan tidaklah kecil, di antaranya Cut Nya' Dhien, Cut Mutiah, Nyi Ageng Serang, Raden Dewi Sartika, Raden Ajeng Kartini, Nyi Ahmad Dahlan, Ny Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahahu, dan lainnya.

Salah satu tokoh perempuan yang juga berjuang untuk membantu meraih kebebasan dan kemerdekaan yaitu RA. Kartini. Dia adalah sosok perempuan yang menjadi pelopor bagi perempuan lainnya untuk meraih pembebasan.

Kartini adalah feminis yang anti-kolonialisme dan juga anti-feodalisme. Dia merasaka ada perbedaan kelas antara laki-laki dan perempuan, karena dia harus merasakan kenyataan merasakan sekolah hanya sampai umur 12 tahun sedang laki-laki bisa merasakan sekolah sampai sarjana. Hal yang dirasakan ini yang menumbuhkan inginnya kesetaraan di dalam tubuh kartini.

Gagasan-gagasan utama Kartini adalah meningkatkan pendidikan bagi kaum perempuan, baik dari kalangan miskin maupun atas, serta reformasi sistem perkawinan, dalam hal ini menolak poligami yang ia anggap merendahkan perempuan.

Pada dasarnya perempuan Indonesia telah mengalami kemajuan yang signifikan dari tahun ke tahun. Contohnya Khafifah Indah parawangsa, Mutia Hatta, Yeni Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan masih banyak lagi. Di samping kemajuan perempuan saat ini, tak menutup mata pada kondisi perempuan lainnya yang masih hidup terbelakang. Masih banyaknya keterbelakangan di kalangan perempuan banyak faktor yang mempengaruhi, semisal perekonomian, pendidikan, sosial dan politik. Hal ini yang merupakan penyebab suburnya penjual manusia oleh sindikat.

Kondisi ketimpangan sosial seperti ini terutama pada perempuan menjadikan sebuah masalah yang akan terus dan berkelanjutan, jika tanpa adanya kontributor dari orang-orang yang sudah sadar akan kasus tersebut. Sebenarnya pemerintah bisa saja lebih fokus terhadap masalah-masalah tentang perempuan. Maka dengan adanya kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak ( kementrian PP dan PA ) akan memberikan terobosan yang lebih mudah dilakukan.

Perempuan dari masa ke masa semakin berkembang. Sama halnya di zaman modern seperti sekarang ini, perempuan tumbuh sebagai insan yang berwawasan modern dan tak melepaskan kodratnya. Seorang perempuan bisa terjun dan meraih prestasi di bidang manapun tanpa mengesampingkan tugasnya sebagai ibu rumah tangga atau sebagai istri dari suaminya untuk mendidik anak-anaknya untuk menjadi generasi penerus yang berkualitas, berbudi perkerti luhur, selain menjaga kehormatan seorang suami sebagai sosok kepala keluarga. Sosok perempuam seperti ini tidak bisa di samakan dengan perempuan modern yang ada di negara lain, mengingat kultur maupun norma yang berbeda. Dari perbedaan itu sangat mempengaruhi makna dari perempuan modern itu sendiri.


Penulis : Fahmi Ahmad Fauzan (mahasiswa jurusan sosiologi universitas muhammadiyah malang)