Mencari Sosok Dilan Dalam Pilkada Serentak
Cari Berita

Advertisement

Mencari Sosok Dilan Dalam Pilkada Serentak

Sabtu, 07 April 2018

Foto : Penulis
Indikatorbima.com - Tahun 2018 merupakan salah satu tahun tersibuk bangsa ini, belum bisa beranjak (Move On) dari gombalan Dilan, perhatian bangsa ini lagi lagi teralih-kan dengan berita terbongkarnya kelompok MCA penyebar Hoax yang selama ini menyebarkan isu sara dan fitnah di media sosial, belum tuntas kasus penyebar MCA perhatian masyarakat kembali sudah tertuju pada mega korupsi E-KTP dengan diseretnya nama Mantan Ketua DPR RI ke depan meja hijau, belum lagi kelar Setnov bernyanyi sudah dibalas dengan puisi Ibu Sukma “Ibu Indonesia”, perhatian masyarakat ibarat Channel Televisi yang mudah di pindah-kan oleh penguasa. Pada tahun 2018 juga masyarakat dipaksa harus meninggalkan Channel Televisi Dilan, Sukma,MCA, Setnov, untuk kembali terfokus pada pesta demokrasi terbesar di daerah yang di gelar di 171 Daerah yang mengikuti Pilkada Serentak Tahun 2018.

Masih dalam suasana Romantisme Dilan masyarakat yang akhir akhir ini mendapat banyak asupan puisi pasti berharap janji dan visi misi para pasangan calon nanti tak hanya selesai guna mencuri hati lalu setelah terpilih kembali ingkar janji, masyarakat kita memang punya kelebihan rasa percaya sehingga mudah diberikan harapan palsu, jika melihat angka statistic terkait rasa kepercayaan (Trust) masyarakat kepada pemerintah maka Indonesia berada pada posisi teratas dengan rasa kepercayaan tertinggi sebagaimana disampaikan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati kepada Presiden Joko Widodo didalam rapat terbatas bahwasanya ”Indonesia menduduki ranking pertama dalam hal Trust and Confidence in National Government berdasarkan Gallup data,” lalu mengapa Para pasangan calon dalam pilkada masih hobby member janji palsu ? tidakkah seharusnya mereka belajar dari dilan yang selalu tepati janji kepada milea untuk bertemu kembali dikantin sekolah.

Mengukur Janji Dilan dan Calon Kepala Daerah

Berangkat dari fakta tersebut maka para pasangan calon yang akan bertarung di dalam Pilkada Serentak seharusnya tak lagi membuat puisi gombal didalam setiap visi misi hanya untuk merebut hati konstituen, sebab masyarakat kita Terlalu percaya hingga lupa kalau Koalisi partai seringkali hanya sebatas ajang bagi bagi kursi, dan jika seseorang sudah memberikan kepercayaan yang utuh seharusnya pasangan calon dapat berlaku setia untuk tetap mendapatkan kepercayaan pada periode selanjjutnya.

Fakta yang terjadi di dalam setiap pesta demokrasi local ialah, Pasangan Calon sering Mengumbar janji janji di setiap Visi lalu menggap itu sebagai puisi yang tak perlu ditepati, sebab tujuannya hanya untuk mencari simpati atau mencuri hati para konstituen, Mengapa demikian ? bukankah Negara ini dibangun atas dasar Hukum dan moral ( Fundamental norm and Fundamental law ), benarkah memberikan janji palsu dalam Pesta demokrasi itu di bolehkan ? sialnya adalah Peraturan Perundang undangan yang digunakan untuk mengatur jalannya Pilkada yakni Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tidak memiliki proyeksi hukum terkait Pemberian Janji Palsu atau Ingkar janji, inilah celah hukum yang selalu dimanfaatkan setiap pasangan calon yang berkontestasi,mereka dengan leluasanya memberikan janji palsu sebab tak ada ancaman hukumannya di dalam regulasi. Kemudian para mahasiswa Hukum Bisnis akan bilang, bahwasanya sesuai dengan KUHPerdata bukankah seseorang yang ingkar janjji berarti dia telah melakukan Wanprestasi ?

Mari kita review kembali ke bebrapa tahun yang lalu saat pupusnya harapan Boni Hargens Cs untuk menagih janji politik pada presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan wakil presiden Jusuf Kalla. Gugatan citizen lawsuit yang diajukan Boni dan 71 orang lain ditolak majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Majelis hakim yang diketuai Makmun Masduki menyatakan kegagalan SBY-JK dalam memenuhi janji kampanye bukan wanprestasi. Dengan alasan bahwasanya tidak ada unsure kesengajaan presiden untuk tidak menepati janji. Inilah alasannya mengapa Para Calon Kepala Daerah dengan leluasanya sering member janji palsu. Sebagian Masyarakat yang belum Move On Dari cerita Dilan, masih berharap untuk mendapatkan Calon Pemimpin di daerah seperti dilan yang tak Ber-puisi untuk merebut banyak hati, namun selalu tepati janji hanya untuk satu hati wanita yang ia cintai.

Calon kepala daerah akhir akhir ini lebih terlihat seperti sosok Thomas dalam Novel “Negeri di Ujung Tanduk”, Thomas awalnya merupakan Konsultan ekonomi yang tiba tiba alih profesi menjadi Konsultan Politik, bermoalkan gaya yang Parlente , tampan, rapi, dan balutan eksekutif muda yang cerdas Thomas, Thomas telah berhasil mengantar dua kliennya memenangkan pemilihan gubernur. Ia sukses menunjukkan bahwa kompetisi politik bisa dimenangkan dengan kalkukasi yang cermat. Bagi Thomas sendiri, politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong, sebuah industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia, dan Inilah yang kita saksikan hari ini, Politik yang terbangun dalam Konsep Pemilihan Umum Kepala Daerah Masyarakat seolah olah seperti Wayang yang sedang dimainkan oleh para Dalang, bukankah konstituen adalah Pemegang Kedaulatan tertinggi dalam system Demokrasi ?

Jika benar maka jangan jadikan Pilkada serentak Layaknya Acara Baca Puisi yang Visi misinya hanya bertujuan memenangkan hati Pemilih dengan janji janji, kemudian diingkari dengan koalisi partai bagi bagi kursi, kami masih berharap adanya regulasi untuk membatasi janji janji palsu para politisi di setiap pesta demokrasi.

Penulis : M. Fikry Rahantan. SH