Buki dan Kobus Mencuri Buah Pepaya, Tertangkap Karena Sandal Sebelah
Cari Berita

Advertisement

Buki dan Kobus Mencuri Buah Pepaya, Tertangkap Karena Sandal Sebelah

Selasa, 24 April 2018

Foto : Ilustrasi
Indikatorbima.com - Pada suatu hari Buki Nongko (26) tahun pemuda lajang, asal kampung Lewi, Kab. Bima sedang jalan-jalan di sekitar kampungnya. Ketika itu Buki tengah asyik melihat suasana sore yang indah. Dia melihat-lihat ke samping kanan dan ke kiri sambil menyapa teman-teman sebayanya yang sedang nongkrong di jembatan, ketika terus berjalan tak sengaja ia melihat buah pepaya di dalam kebun milik pak Solihin. Mata Buki tertuju dan tak henti-hentinya melihat buah pepaya yang begitu banyak dan segar, sampai ia pun tak sadarkan diri menghisap air liur dan menjilat bibirnya. Hingga timbul keinginannya untuk menikmati manisnya buah pepaya milik pak Solihin. Ahhh… segar sekali jika di buat rujak dan makan bersama teman-teman nanti malam ucapnya dalam hati.

Buki pun tersadar dan melanjutkan perjalanan pulang kerumahnya, sesekali ia terus menoleh melihat buah papaya yang tak sabar ia nikmati. Sepanjang perjalan pulang Buki tak henti-hentinya untuk menyusun rencana dan strategi pencurian. Lalu Buki mengajak teman akrabnya yang bernama Kobus (27) tahun untuk mencuri buah pepaya. Teman akrab yang selalu setia bersama Buki.

"Nanti malam setelah shalat Isya, kamu ikut aku Kobus" Ajak Buki.

"Kemana," tanya Kobus penasaran.

"Sudah kamu ikut saja, mau makan buah pepaya nggak? Gratis," ujar Buki meyakinkan Kobus agar tidak banyak bertanya lagi.

"Baiklah," jawab Kobus ngikut saja.

Kobus sudah paham dengan ajakan Buki, sebab ia sudah terbiasa menemani Buki untuk mencuri. Yang dicuri pun bukan uang, emas, barang-barang mahal atau permata. Tapi, hal-hal kecil dan konyol yang ingin mereka miliki saja. Seperti Sandal, baju, panci, topi, kacamata bahkan sisir rambut. Mereka mencuri bukan untuk memperkaya diri. Tapi, mencuri adalah hobi, kebiasaan dan permainan uji nyali.

Hembusan angin malam begitu menggelitik dan suara hembapakan kaki pak Solihin dan teman-temannya yang baru balik dari mushola untuk melakukan shalat magrib dan isya di mushola. Sementara Buki dan Kobus mengawasi pak Solihin masuk ke rumah dan melewati kebunnya, sedangkan teman-temannya terus berjalan pulang menuju rumahnya masing-masing.

Buki dan Kobus sudah berada di jembatan sekitar rumah pak Sholihin sejak adzan Isya pukul 19.30 karena mereka harus mengawasi dan melihat suasana yang tepat untuk melakukan aksi tersebut. Jarak antara rumah pak Solihin dengan jembatan sekitar 200 meter.

Setelah semuanya sepi, wargapun sudah tidur, hingga tak ada orang-orangpun yang berjalan di saat itu, hanya suara kodok yang mengiringi sepinya malam di kampung Lewi tersebut. Tepat pukul 21.00 WITA saatnya Buki dan Kobus beraksi. Namun, sebelum berangkat untuk mencuri mereka berdoa semoga buah pepaya yang mereka inginkan dapat dibawa pulang.

"Ayok kita berdoa dulu, ya Allah mudah-mudahan aksi kami diberikan kemudahan untuk mendapatkan buah pepaya yang kami inginkan," do'a Buki yang disambut kata aamiin oleh Kobus.

Rencananya, Buki yang akan naik dan mengambil buah pepaya, sementara Kobus berjaga-jaga dibawah mengamati situasi dan kondisi.

Sesampainya mereka di kebun milik pak Solihin yang berada tepat di samping rumah pak Solihin. Mereka tidak langsung masuk kedalam kebun yang dipagari itu. Mereka melihat dan mengamati situasi dan kondisi terlebih dahulu untuk memastikan lagi.

"Bagaimana, aman?" Tanya Buki kepada Kobus dengan suara pelan.

"Aman, ayok kita masuk," jawab Kobus.

Buki terlebih dahulu masuk kemudian Kobus menyusul. Mereka masuk dari sebelah timur, meloncati pagar kebun pak Solihin dengan penuh kehati-hatian. Setelah berada di dalam, mereka melaksanakan tugasnya masing-masing. Buki segera melepas Sandalnya dan menaiki pohon pepaya untuk mengambil buahnya. Sementara Kobus, sigap siaga melihat dan mengamati kondisi dibawahnya.

Buki ingin mengambil buah pepaya sebanyak tiga buah, dua buah sudah didapatkan. Namun sialnya, pada saat Buki akan mengambil buah yang ketiga, sementara Kobus sedang terjaga dengan rasa takut sambil melihat-lihat disekitarnya, tiba-tiba saja buah yang ketiga itu jatuh dari tangan Buki tepat di samping Kobus. Hingga membuat Kobus kaget tak karuan dan sontak tanpa sadar Kobus berteriak maling. Hingga pak Solihin terbangung dan buru-buru keluar dari rumahnya.

"Maling," teriak Kobus spontan dan tak sadarkan diri.

"Maling," teriak pak Solihin setelah mendengar teriakan Kobus.

Mendengar teriakan itu, Buki langsung loncat dari pohon pepaya dan mereka pun tepontang-panting kabur tak tentu arah. Sebelum pak Solihin turun dari rumahnya, mereka berdua sudah tidak ada di tempat.

"Setan alas, kenapa kamu teriak maling. Itu namanya maling teriak maling," bentak Buki dengan wajah geram kepada Kobus di salah satu sawah milik warga tempat mereka beristirahat setelah lari terpontang-panting.

"Aku kaget, aku pun tidak sadar," jawab Kobus dengan nafas ngos-ngosan.
Foto : Ilustrasi sandal bertulis
Buki dan Kobus berhasil Kabur. namun sialnya, sandal Buki tertinggal sebelah. Di sandal sebelah itu tertulis nama Buki. Dari situ pak Solihin tau bahwa yang mencuri pepayanya tadi malam adalah Buki.

Pagi pun tiba, Buki dan Kobus segera pulang kerumah Buki dengan berjalan kaki sekitar 1,5 km. Dan benar saja, pak Solihin bersama kepala Desa sudah menunggu dirumahnya.

Buki dan Kobus tidak bisa mengelak lagi. Gara-gara sandal sebelah yang bertuliskan nama Buki, aksi mereka diketahui oleh warga. Mereka pun di arak keliling kampung.

"Kami minta maaf, dan tidak akan mengulanginya lagi," teriak Buki dan Kobus secara bersamaan ketika di arak keliling kampung.

Buki dan Kobus sangat menyesali perbuatan mereka dan mereka berjanji nggak akan mengulangi lagi perbuatan semacam itu.

Penulis : Furkan AS
Editor    : Misbah