Bima Reseach Center; Internalisasi Nggusu Waru Wujudkan Bima Bahagia Dunia Akhirat
Cari Berita

Advertisement

Bima Reseach Center; Internalisasi Nggusu Waru Wujudkan Bima Bahagia Dunia Akhirat

Minggu, 01 April 2018

Foto bersama pemateri dan pengurus BRC
Indikatorbima.com - Bima Research Center (BRC) sebagai sebuah lembaga yang bergerak dibidang penelitian kembali menyelenggarakan sarasehan sosial yang bertajuk “Internalisasi Nggusu Waru sebagai Upaya Mewujudkan Bima yang Bahagia Dunia Akhirat”. Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 30 maret 2018 ini mengambil lokasi di kantin Yuank dan merupakan serangkaian kegiatan lanjutan yang sebelumnya pernah dilaksanakan oleh BRC, seperti Langgudu dan Sape. karena melihat berbagai persoal yang kian hari kian mengikis nilai-nilai sosial yang berasaskan falsafah kedaerahan.

Dalam mengawali kegiatan tersebut Muh. Fitrah, M.Pd selaku Direktur Bima Research Center (BRC) memberikan pengantar bahwasannya tujuan diadakannya kegiatan tersebut adalah untuk menemukan regulasi-regulasi kebermaknaan Nggusu Waru di hidupkan dan diviralkan kembali di Bima, sebab Nggusu waru telah hilang nilai-nilai filosofi yang terkandung didalamnya di kehidupan masyarakat Bima. Harapan kedepan dari kegiatan ini ialah minimal melahirkan satu gagasan yang kemudian dapat di konsumsi secara luas untuk masyarakat Bima. Terlepas dari tantangan yang akan dihadapi. Nggusu waru harus tertanam kembali kepada setiap insan dou Mbojo. Entah itu nantinya mau jadi pemimpin untuk orang banyak maupun dalam memimpin diri sendiri.

Kegiatan dihadiri sebanyak 70 peserta yang terdiri dari berbagai organisasi, seperti HMI, IMM, BEM Se-Bima, Organisasi Penguyuban Di Bima. Elyasa, M.Pd yang bertindak sebagai Presenter Sarasehan Sosial mengawali dengan jejak agenda Roadshow BRC dalam membumikan Nggusu Waru di Bima sebagai nilai-nilai filosofi masyarakat Bima yang memiliki kekhasan yang barang tentu dapat di jadikan sebagai harapan dari kriteria pemimpin yang akan datang di Bima untuk wujdukan Bima yang bahagia “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur”. 

Narasumber Sarasehan Sosial kali ini ialah Dr. Hermawan Saputra, M.Kes, MARS., (Ka. Prodi IKM SPs UHAMKA) asli Sape-Bima. Sungguhan topik yang disampaikan ialah pentingnya implementasi Nilai-nilai Nggusu Waru untuk Keseimbangan Hidup Masyarakat Bima. Pada kesempatan ini beliau menjelaskan bahwa Nggusu Waru telah lama kami diskusikan di Jakarta dan Nggusu Waru bukan sesuatu hal yang baru. Pimimpin untuk Bima kedepannya ialah perlu memiliki nilai-nilai dari Nggusu Waru yang tertanam dalam diri yang sehat. Sehat yang dimaksudkan ialah cerdas dan mampu mengimplementasikan nggusu waru itu sendiri di lingkungan sosial.

Dr. Ridwan, M. Said, M.H., (Pakar Hukum di Bima)., “Relevansi Nilai-Nilai Nggusu Waru Dalam Kebijakan Hukum Masyarakat Bima”. Konten ini beliau mengupas dalam perspektif hukum di Indonesia. Hukum di Indonesia ada yang di gunakan sampai hari ini ialah adopsi dari Belanda. Walaupun demikian ada hukum islam dan hukum adat.

Dr. Juwaidin, M.Pd., (Akademisi) “Implementasi Nilai-Nilai Nggusu Waru Dalam Pendidikan”. Point kupasan beliau lebih kepada harapan ada sebauh produk yang benar-benar membahas Nggusu Waru dalam pendidikan. Sehingga asumsi nggusu waru tidak sekedar wacana obrolan saja, akan tetapi memiliki pijakan jelas untuk mendorong pendidikan di Bima dengan kekayaan kearifan lokal yang dimiliki. 

Ruslan, S.Sos., “Relevansi Nggusu Waru di Era Milenea”. Beliau mengawali dengan konsep produk dari nggusu waru di Mbojo ini dalam pembangunan, seperti: Mesjid Kamina, Mesjid Kesultanan, Makam para Sultan, dan lainnya. Mesjid kamina itulah mulai lahir konsep kemepimpinan untuk Dana Mbojo dikala itu. Penyampaian nya menggambarkan bahwa implementasi dari kedelapan nilai itu berat, akan tetapi harapan kita bahwa minimal 4 atau 5 nilai yang dimiliki calon pemimpin dana mbojo. 

Usman D Ganggang, M.Pd., (Sastrawan) “Implementasi Nilai-Nilai Nggusu Waru Dalam Kehidupan Masyarakat Bima”. makna Nggusu Waru memiliki filosofi yang bernilai tinggi dan tidak hanya tinggi akan tetapi maknanya seluas samudra dan membantu dalam membangun kehidupan yang beramanah. Oleh karenanya makna nggusu waru ini jika kemudian di implementasikan dalam kehidupan dou mbojo maka bahagia dunia dan akhirat tentu akan tercapai. Solusi jitu hanyalah bentuk praktik dalam kehidupan keseharian kita terutama harus memiliki prinsip rombo dan toa. Implementasi yang di berikan penekanan dari beliau ialah 3T (Rapat, Nasehat & Terbang).

Muhammad Yunus (Direktur Rumah Cita) dengan sub tema “Nggusu Waru, Proyeksi Pemuda dan Pemimpin Mada Depan untuk Bima”. Kupasan yang ditekankan oleh beliau dalam hal ini ialah dengan mengawali kondisi sosial generasi saat ini dan menyesalkan minimnya literatur untuk dikonsumsi masyarakat Bima tentang Nggusu Waru. Nggusu waru memiliki Value baik, sebab adanya value dalam diri calon pemimpin yang akan datang minimal menghadirkan regulasi untuk Dana Mbojo. Secara garis besar saya bicara soal dumu dou, ina mpu'u ba weki ma rimpa, nde'i batu wea lelena, nde'i siri wea nggahina. Kemudian soal bima sebagai baiti jannati (rumahku surgaku). Bima sebagai home dan house yang menjadi tempat berteduh dan berlindung dou mbojo.
Foto : Suasana diskusi
Setelah sesi penyampaian pengantar nggusu waru dari berbagai sudut pandang usai, Elyasa melemparkan moment untuk saling berbagi pandangan dengan konsep nggusu waru. Penekanannya ialah bukan pada kritisi pemimpin hari ini, akan tetapi yang harus ditunjolkan ialah bentuk dan konsep kedepan untuk mewujdukan bima yang bahagia, baik dunia dan akhirat. 

Muhammad Aminullah, M.Hum., berbicara Nggusu Waru hari ini sesungguhnya berbicara sosok pemimpin yang akan datang untuk Bima. Karena bima sangat butuh sosok yang cerdas, muda tentunya memiliki kedepalapan nilai dari Nggusu Waru, walaupun kedelapan itu tidak mampu minimal empat dan lima dimilikinya guna mewujudkan masyarakat yang bahagia. Tidak lagi pada konsep teoritis Nggusu Waru, akan tetapi perlu sosok yang siap membahagiakan masyarakatnya.

Damar Darmuji, M.Pd pun memberikan penekanan bahwa Bima intinya membutuhkan sosok yang akan membawakan perubahan seperti sosok itu beliau sebutkan yang hadir sebagai pembicara yaitu Dr. Hermawan Saputra. Hal yang sama jga dipaparkan oleh Apenk (sapaan) alumni UIN Syarif Hidayatullah yang meneliti tentang nggusu waru. Beliau katakan bahwa Nggusu Waru bukan hanya dimaknai sebagai filosofi kriteria kepemimpinan saja, akan tetapi sebagai Etika.

Karni selaku Pengurus Kohati HMI Cabang Bima, ikut memberikan argumen bahwa Nggusu Waru ini telah kami rancang dalam program Kohati Cabang Bima tahun lalu. Penekanannya bahwa mengawali kupasan kedelapan kriteria kepemimpinan dan implementasi Nggusu waru. Gender di Bima sudah tidak lagi mencerminkan nilai-nilai dari Nggusu Waru. Perempuan yang dahulu berpakaian Rimpu sebagai cerminan untuk menjaga nilai-nilai Islam dan kehormatan perempuan Bima.

Penutup acara sarasehan kali ini dengan nasehat petuah kita H. Abubakar H. Maalu (Aji Beko)“Bima ini milik kita, pemimpin masa lalu menjadi contoh dan refleksi untuk pemimpin yang akan datang. Nggusu waru ini memiliki nilai yang baik untuk bekal kita didunia ini dan akhirat kelak. Dan terkahir dengan puisi karya anak Bima La Ndolo Canory (Sastrawan Donggo) “Perempuan, Aku Ingin Kau Rimpu”. Sebelum membacakan puisinya beliau katakan bahwa Kriteria pemimpin kedepan ialah orang taat kepada Allah, cerdas, yang tahu jumlah masyarakatnya, yang tahu budayanya, dan yang tahu jumlah sungainya.