Warga Bima Butuh Ambulance Gratis, Bukan Mobil Pick Up atau Ojek Pengantar Jenazah!
Cari Berita

Advertisement

Warga Bima Butuh Ambulance Gratis, Bukan Mobil Pick Up atau Ojek Pengantar Jenazah!

Kamis, 15 Maret 2018

Sejumlah mobil ambulans saat peluncuran program satu desa satu ambulans di Alun-alun Jember, Jawa Timur, Jumat (10/11). Peluncuran 248 unit ambulans desa tersebut untuk masyarakat Jember yang tinggal di daerah pinggiran supaya lebih mudah mendapatkan akses kesehatan. ANTARA FOTO/Seno/foc/17. 
Indikatorbima.com - Ambulance gratis merupakan sarana paling penting dan dibutuhkan saat ini dalam menunjang pelayanan kesehatan masyarakat terutama bagi masyarakat yang tidak mampu. tujuannya untuk meringankan beban masyarakat serta meningkatkan pelayanan kesehatan yang optimal dan mempermudah masyarakat umum untuk mendapatkan pertolongan rujukan pasien dan transportasi pengantaran jenazah. 

Beberapa hari belakangan ini sempat viral kejadian yang cukup memilukan dan menyayat hati. Sepasang suami istri asal Desa Waro, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima terpaksa membawa pulang jenazah bayinya menggunakan sepeda motor. Hal itu dilakukan bukan karena tidak ada ambulance, melainkan tidak punya biaya untuk memembayar ambulance alias tidak ada ambulance yang gratis.

Beberapa tahun yang lalu pun penulis sempat melihat seorang warga yang berasal dari Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima yang mengalami sakit parah. Pada saat itu sempat dirujuk ke Puskesmas Tawali menggunakan mobil Pick Up. Namun pihak puskesmas kembali merujuk warga tersebut ke RSUD Bima karena obat dan peralatan di Puskesmas Tawali tidak memadai. Pihak Puskesmas hanya memberikan surat rujukan dan perawatan sementara. Dan warga tersebut akhirnya dirujuk ke RSUD Bima menggunakan mobil Pick Up yang dilengkapi dengan kasur tidur dan bantal seadanya dengan jarak tempuh dari Kecamatan Wera ke Kota Bima lebih kurang 2 jam perjalanan.

Penulis tidak terlalu ingat, apakah pada saat itu ambulance di puskesmas Tawali ada dan tersedia tapi tidak gratis atau memang warga tersebut tidak mampu membayar biaya ambulance itu. Tapi yang jelas, penulis sering kali melihat masyarakat yang sakit ketika dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit menggunakan mobil Pick Up bahkan motor tukang ojek alias tidak menggunakan Ambulance, apalagi ambulance gratis. Bayangkan saja, mobil Pick Up dengan AC terbuka tanpa atap digunakan untuk mengangkut orang sakit. Atau motor yang seharusnya hanya boleh membawa satu penunpang terpaksa membawa tiga bahkan empat penumpang karena ada yang sakit. Tidak bisa dibayangkan bagaimana menderita dan sakitnya orang tersebut sepanjang perjalanan menuju rumah sakit atau puskesmas. Tentunya kepanasan karena terik matahari, belum lagi jika hujan melanda.

Miris memang! Disatu sisi Pemerintah melarang mobil Pick Up memuat penumpang atau melarang pengendara motor membawa lebih dari satu penumpang. Tapi disisi lain tidak menyediakan kendaraan khusus untuk membantu masyarakat yang sakit dan tidak mampu. Mungkin saja ambulance di Bima ada dan tersedia, tapi tidak digunakan sebagaimana mestinya atau tidak maksimal ketika dioperasikan. Tidak jarak kita temui, orang sakit sibuk lalu lalang begitu saja sementara ambulance terpakarkir rapi begitu saja dibeberapa tempat. Ada yang bannya kempes, supirnya tidak ada, dan banyak lagi alasan lainnya.

Beberapa kejadian tersebut menunjukan kepada kita semua bahwa, warga Bima butuh Ambulance gratis, bukan mobil Pick Up pengantar orang sakit atau tukang ojek pengantar jenazah.

Sakit dan kematian itu bisa terjadi kapan dan dimana saja. Tidak perduli orang itu kaya atau miskin, muda atau tua, bayi atau anak-anak, sedang duduk atau berdiri, di Desa atau di Kota. Semua itu bisa dialami oleh setiap orang, termasuk orang-orang yang ada di daerah Bima. Maka, sudah seharusnya dan sudah pada saatnya, Ambulance gratis itu tersedia dimana-mana, baik itu di Kota, Kabupaten, Kecamatan, bahkan di setiap Desa yang ada di Kabupaten Bima. Karena pada hakikatnya ambulance itu ada dimana orang sakit itu ada, bukan ada dan diparkir rapi dihalaman rumah sakit atau bagasi pemerintahan.

Penulis : Furkan AS
Editor   : Fuad D Fu