Bencana Longsor dan Tanah Retak, Mahasiswa Lambitu Angkat Bicara
Cari Berita

Advertisement

Bencana Longsor dan Tanah Retak, Mahasiswa Lambitu Angkat Bicara

Selasa, 06 Maret 2018

Foto : Beberapa anggota FORMAL sedang membahas permasalahan bencana longsor dan tanah retak.
Indikatorbima.com - Forum Mahasiswa Lambitu Malang (FORMAL) menyayangkan sikap pemerintah setempat yang dinilai lamban dan tidak serius menangangi bencana longsor dan tanah retak yang dialami oleh warga Desa Teta, Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima NTB. Oleh karenanya, FORMAL mendesak pemerintah daerah agar segera bertindak menangani dan memberikan upaya tanggap darurat sebelum adanya korban jiwa, Selasa (06/03/18).

Berita terkait : Longsor dan Tanah Retak Menimpa Warga Desa Teta, Pemerintah Masih Diam

"Permasalahan ini harus segera di tanggapi lebih serius karena bukan hal sepele dan menyangkut nyawa masyarakat.  Pemerintah harus tanggap terhadap permasalahan yang terjadi bukan hanya sekedar janji saja akan tetapi harus bisa di tepati dan bukan iming-iming belaka," Ujar Wakil FORMAL Zul Afri kepada Indikator Bima.

Lebih lanjut Rajuman Anggota FORMAL lainya mengungkapkan keprihatinanya terhadap bencana longsor dan tanah retak yang menimpa warga Desa Teta. Rajuman mengaku kecewa terhadap pemerintah yang dinilai terlambat dalam bertindak. 

"Saya selaku mahasiswa Desa Teta turut perhatin atas bencana yang terjadi, saya resah karna orang tua saya tidak bisa tidur belum lagi masyarakat yang lainya yang takut menimpa keluarganya," ucapanya. "Saya kecewa terhadap pemerintah karna sudah terlambat mengatasi permasalahan yang terjadi" lanjutnya.

"Apakah kekurangan informasi, ataukah tidak ada rasa kepedulian atau mungkin tidak mau tau dengan apa yang  sudah terjadi" tambah Arif Zulfadilah anggota FORMAL lainnya.

Sementara itu, Ketua Umum Formal Wahjiansyah dengan tegas mendesak pemerintah daerah untuk segera mengatasi bencana longsor dan tanah retak yang meninpa warga Desa Teta sebelum adanya korban jiwa.

"Kami mendesak pemerintah untuk segera menindaklanjuti tanah longsor dan tanah retak sebelum adanya korban jiwa" Tegasnya.

Sebagaimana pemberitaan sebelumnya, keretakan dan bencana longsor yang dialami oleh warga Desa Teta sudah berlangsung selama enam hari yang lalu, yaitu sejak hari Rabu tanggal 28 Maret 2018.

Diketahui, selain puluhan rumah warga terancam ambruk, ratusan kuburan juga rusak parah, bahkan tulang maupun kain kafan mayat sudah terlihat, tiang listrik ambruk mengakibatkan listrik di Desa Teta padam. 

Reporter : Taufiqurrahman
Editor      : Furkan As