Seru dan Ekstrem! Dua Budaya Lomba di Bima ini Digemari Ribuan Masyarakat Berbagai Penjuru
Cari Berita

Advertisement

Seru dan Ekstrem! Dua Budaya Lomba di Bima ini Digemari Ribuan Masyarakat Berbagai Penjuru

Sabtu, 31 Maret 2018

Foto : Kondisi Nahkoda (baju putih) dan dua orang awak sampan ketika dihempas ombak dilautan lepas.
Indikatorbima.com - Budaya merupakan kebiasaan yang dilakukan sejak lama dan menjadi sudah bagian dari kehidupan suatu kelompok. Umumnya, hal ini terjadi pada setiap kelompok masyarakat di berbagai daerah. Begitupun dengan masyarakat di Kabupaten Bima NTB, tradisi itu pun diturunkan dari generasi lama ke generasi baru.

Kebudayaan di Bima sangat beragam, seperti mpa'a kantau, tari-tarian, mpa'a manca, tradisi pernikahan, buja kadanda, mpa'a lanca, mpa'a kadundu dan masih banyak lagi seperti, budaya lomba pacuan kuda dan lomba sampan layar tradisional. Nah, dari sekian banyaknya kebudayaan masyarakat Bima tersebut, penulis hanya akan mengupas dua kebudayaan yang menurut penulis sangat digemari oleh masyarakat, yaitu lomba sampan layar tradisional dan lomba pacuan kuda.

Berikut ulasannya :
Suasana lomba pacuan kuda (foto: Instagram @wisatabima).
1. Lomba Pacuan Kuda
Salah satu budaya yang terkenal di Bima Nusa Tenggara Barat adalah lomba pacuan kuda. Lomba pacuan kuda merupakan salah satu ajang bergengsi. Saat lomba di gelar, para pemilik kuda berbondong-bondong mengikuti event tersebut.

Lomba ini kerap di gelar dalam berbagai acara penting di daerah tersebut, seperti acara pemerintahan maupun acara masyarakat itu sendiri. Seperti kemarin, lomba pacuan kuda tradisional baru saja di gelar pada bulan Maret 2018 di Arena Pacuan Kuda Desa Panda Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima. Event pacuan kuda tersebut dilakasanakan dalam rangka memperingati dua tahun kepemimpinan Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri dan Wakil Bupati Bima dan Drs. H. Dahlan M. Noor.

Biasanya, Lomba pacuan kuda tersebut diikuti kuda-kuda pacu terkenal dari seluruh Pulau Sumbawa, Pulau Lombok dan juga dari Pulau Sumba dengan memperebutkan kejuaraan umum.

Ada 14 kategori dalam perlombaan pacuan kuda tersebut. Setiap kategori memiliki kriteria khusus, biasanya di lihat dari gigi dan tinggi kuda. Kelas-kelas yang dilombakan terdiri dari kelas TK, OA, OB, Tunas Harapan A, Tunas Harapan B, Tunas A, Tunas B, Tunas C, Dewasa A, Dewasa B, Dewasa C, Dewasa D dan Dewasa E. Dan 6 kategori Kejuaran umum terdiri dari Kelas OA-Tunas Harapan A, OB-Tunas Harapan B, Tunas A-DewasaA, Tunas B-Dewasa B, Tunas C-Dewasa C dan Dewasa D-Dewasa E. 

Selama gelaran, lomba pacu kuda selalu ramai dihadiri oleh ribuan penonton yang berasal dari berbagai penjuru daerah. Penonton tampak antusias menyaksikan perlombaan yang sedang berlangsung. Namun sayangnya moment ini kerap dimanfaatkan untuk berjudi.
Foto : Atraksi salah satu peserta Lomba Sampan Layar saat mencapai Finis
2. Lomba Sampan Layar Tradisional
Selain lomba pacuan kuda, masyarakat Bima juga dikenal dengan budaya lomba sampan layar tradisional masyarakat Desa Sangiang Kecamatan Wera Kabupaten Bima.

Lomba sampan layar tradisional biasanya di gelar pada bulan Agustus setiap tahunnya. Lomba tersebut diikuti oleh puluhan sampan layar. Setiap sampan terdiri dari maksimal 7 orang, di antaranya kapten/nahkoda sampan dan beberapa kru yang bertugas untuk menjaga keseimbangan sampan. Uniknya lomba sampan layar tradisional masyarakat Desa Sangiang, selain disebut sebagai budaya, lomba sampan tersebut juga kerap disebut sebagai salah satu cabang olahraga ekstrem di Bima. Pasalnya, para peserta lomba sampan harus mengarungi lautan lepas, yaitu start dari pulau Sangiang dan finish di pesisir pantai Sangiang hanya dengan menggunakan layar. Bahkan kru sampan ada yang tidak menggunakan pelampung ketika mengikuti lomba.

Dalam lomba sampan layar tradisional masyarakat Desa Sangiang, para peserta memperebutkan dua kejuaraan sekaligus, yaitu kejuaraan kelas dan kejuaraan umum. Ada dua kelas dalam lomba sampan layar tersebut, yaitu kelas A dan kelas B. Dan untuk menentukan kelasnya, di lihat dari panjangnya bodi sampan.

Lomba sampan layar tradisional masyarakat Desa Sangiang merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Desa Sangiang. Selain sebagai event hiburan masyarakat, lomba sampan juga dijadikan sebagai ajang untuk meningkatkan sportivitas, kebersamaan dan persatuan. Masyarakat Desa Sangiang berbondong-bondong dan bergotong royong menyiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan lomba tersebut.
Foto : Ribuan pengunjung dari berbagai penjuru padati pantai Desa Sangiang.
Selama gelaran, lomba sampan layar tradional selalu ramai dihadiri ribuan pengunjung yang berasal dari berbagai penjuru daerah. Penonton tampak antusias menyaksikan perlombaan yang sedang berlangsung. Namun sayangnya momen ini kerap dimanfaatkan untuk berjudi. 

Menurut keterangan masyarakat setempat, lomba sampan layar tradisional sempat fakum hampir 20 tahun lamanya. Namun, berhasil dihidupkan dan dikembangkan kembali pada tahun 2014 lalu. Sampai dengan hari ini, lomba sampan layar berhasil dilaksanakan 4 kali berturut-turut, yaitu sejak tahun 2014 hingga tahun 2017 kemarin. Dan rencanannya lomba sampan layar Desa Sangiang akan digelar kembali pada bulan Agustus tahun 2018 mendatang. 

Penulis : Amar El Real
Editor   : Misbah