Politisi Muda Jaman Now
Cari Berita

Advertisement

Politisi Muda Jaman Now

Selasa, 13 Maret 2018

Raja Juli Antoni (foto : metrotvnews.com)
Indikatorbima.com - Gagasan 'Politik Kewarasan' Raja Juli Antoni dan kawan-kawan yang tergabung dalam PSI menarik disimak. Kumpulan anak muda, pintar dan cerdas. Ini aset Persyarikatan dan aset bangsa. Harus dijaga dan dirawat. Kaum-Muda dan kita Kaum-Tua saatnya semeja. Harap maklum, kita Kaum Tua sering ketinggalan dan sudah tak paham dengan cara berpikir anak muda jaman now. Mereka kumpulan orang terdidik, kebanyakan lulusan luar negeri dari berbagai jurusan dan universitas terkenal di Eropa dan Amerika.

Saya (kita) banyak yang gagal paham dengan cara mereka berpikir termasuk beberapa tawaran tentang tatanan politik, ekonomi, sosial dan hukum. Bahkan tata kelola negara yang menurut saya yang sudah tua ini: sama sekali baru. Sekaligus harapan di tengah kebuntuan mencari alternatif. Bersyukur bangsa kita diberi anak-anak muda baik dan pintar. Artinya proses regenerasi akan berlangsung sesuai sunatullah. Dan berharap mereka lebih baik ketimbang generasi hari ini.

Politik kewarasan yang ditawarkan juga menarik, setidaknya menurut saya, setelah mencoba dengan susah payah memahami jalan pikiran politisi muda jaman now. Semoga kehadiran kaum muda cerdik ini tidak dianggap sebagai ancaman sebagaimana kebiasaan kaum tua dan kaum muda yang berpikiran tua.

Kaum muda sedang menggelinding dan mengibarkan bendera perubahan. Dan mungkin saatnya politisi tua: 'eyang kakung atau eyang uti' istirahat menyerahkan estafet kepada anak-anak muda yang masih fres. Belum tercemari atau terkontaminasi oleh pikiran buruk dan kepentingan politik rendahan selama berkuasa.

Baca lagi : Politisi Tua Jaman Now

Saatnya politisi tua berserah diri. Hidup uzlah menjadi empu atau pendekar. Menyepi di gunung-gunung, bertaubat karena banyaknya kesalahan yang telah dilakukan terhadap negeri ini. Kaum muda sedang berusaha mengambil peran dari kaum tua yang mereka anggap sudah mulai lelah karena terus berkonflik dan bertengkar tanpa ujung. Mungkin mereka jengah: lugasnya... kita kaum tua dianggap expaite alias udzur dan gagal mengelola negara. Jadi kita kaum tua tak perlu tersinggung atau marah-marah, lalu mengumbar kata-kata yang tak rasional dan malah menunjukkan ketidak mampuan kita.

Saatnya kita kaum tua bersabar, menunjukkan kedewasaan berpikir. Syukur bisa menjadi uswah yang baik di akhir pengabdian. Sementara kaum muda, dengan kisaran usia rata rata 30-40 tahun dengan pendidikan S3 sudah cukup sebagai bekal. Tinggal memantapkan dengan pengalaman.

Dan kita akan dengan bersabar menunggu hasilnya. Memang politik tak semudah membalik tangan tapi setidaknya ada harapan, banyak anak muda jaman now yang punya potensi besar dan kita tinggal memberinya kesempatan.

Meski Raja Juli Antoni pernah menjadi ketua Ikatan Pelajar MUHAMADIYAH tapi dia tak pernah membawa-bawa nama organisasi yang pernah ia pimpin apalagi berharap dukungan. Jadi parpol lama tak perlu kawatir kehilangan pemilih. Ia begitu percaya diri dan maju dengan kekuatan intelektual dan intergritasnya. Pertarungan politik semakin menarik dan mungkin eyang kakung Amien Rais, eyang kakung Yusri, Abi Habib Rizieq dan eyang uti Megawati dan politisi tua lainnya di Senayan mendapat pesaing baru. Kecerdasan jaman now melawan pengalaman jaman old.

Dan saya berharap tidak ada pertandingan head to head antara kaum muda dan kaum tua. Semoga pula kaum tua tidak 'main-kayu' dan 'sangkur' karena takut kalah. Syukur pula bila kaum tua menjadi mentor bagi cucu-cucunya. Dan berharap kebaikan yang diwariskan, bukan politik transaksional dan pragmatisme yang merusak.

Selamat datang politisi muda jaman now ...

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar